Sejarah Dago: Dulu Sarang Rampok dan Hewan Buas, Kini Tempat Wisata di Bandung yang Asyik

Sejarah Dago: Dulu Sarang Rampok dan Hewan Buas, Kini Tempat Wisata di Bandung yang Asyik
info gambar utama

Dago dikenal sebagai salah satu tempat wisata di Bandung yang sangat populer. Siapa sangka dulunya Dago adalah tempat yang menjadi sarang rampok dan hewan buas?

Kawan GNFI yang berwisata di kota Bandung rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi Dago. Wilayah yang terletak di utara Bandung itu memang kerap disasar wisatawan untuk didatangi.

Bukan tanpa alasan wisatawan datang ke Dago. Di sana memang terdapat banyak tempat yang begitu menarik untuk dikunjungi. Tidak perlu jauh-jauh dari sepanjang Jalan Dago, wisatawan tinggal memilih tempat yang disukainya.

Dago seakan mampu memenuhi apapun yang diinginkan wisatawan. Bisa dibilang, apa saja tersedia di Dago. Ingin wisata alam? Dago punya Taman Zoologi dan Hutan Kota. Ingin menikmati makanan enak? Restoran dan rumah makan bertebaran di mana-mana? Ingin santai sejenak sambil ngopi? Aneka kedai kopi dan cafe pun tidak kalah banyaknya.

Secara administratif, Dago adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Luasnya adalah 6000 hektare dan jaraknya hanya sekitar 5 km dari pusat kota Bandung.

Suasana Dago biasanya ramai oleh aktivitas masyarakat. Apalagi, di dekat Dago terdapat dua kampus paling top di Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Parahyangan. Para mahasiswa turut meramaikan suasana kota di wilayah Dago dan sekitarnya.

Pada akhir pekan, wisatawan banyak memadati kawasan ini. Jangan lupa juga, di Dago juga biasa digelar car free day yang bisa dimanfaatkan untuk berjalan-jalan bersama keluarga.

Melihat Dago hari ini, agaknya sulit membayangkan bahwa di masa lalu daerah tersebut justru sangat dihindari orang-orang. Sejarah memang mencatat Dago sebagai tempat yang dulunya berbahaya yang sebisa mungkin tidak dikunjungi.

Penghormatan dan Sakralitas Terhadap Perempuan dalam Budaya Sunda

Asal-usul Dago

Berdasarkan laporan Pikiran Rakyat, nama Dago ternyata sudah dikenal sejak jaman kolonial Belanda. Di sana, kehidupan masyarakat sudah menggeliat pada masa itu.

Ada cerita menarik terkait hikayat Dago di masa silam. Dulunya, penduduk yang tinggal di kawasan Bandung Utara punya kebiasaan pergi ke pusat kota beramai-ramai. Mulanya, mereka akan saling menunggu di suatu tempat sebelum akhirnya berangkat bersama-sama.

Jangan bayangkan Dago saat itu sangat ramai seperti sekarang. Untuk aksesnya pun jauh berbeda. Saat itu, jalan di Dago yang digunakan penduduk Bandung utara menuju pusat kota masih berupa jalan setapak.

Ada satu penyebab mengapa penduduk biasa melewati Dago bersama-sama. Ternyata, Dago adalah kawasan yang bisa dibilang berbahaya.

Bagaimana tidak, Dago pada masa itu adalah daerah yang dikuasai oleh para perampok. Di samping itu, ada pula hewan-hewan buas yang hidup di sana. Maklum saja, Bandung dulunya memang habitat aneka hewan liar mulai dari badak hingga harimau.

Perampok dan hewan buas ini disebut berkeliatan terutama di hutan yang kini ada di sekitar Terminal Dago. Jika dilihat dengan situasi sekarang, bisa jadi hutan tersebut adalah di sekitar Curug Dago dan lapangan golf.

Jika sedang apes bertemu perampok atau hewan buas, maka nyawa adalah taruhannya. Itulah mengapa penduduk pergi ramai-ramai melewati jalan dari Dago menuju pusat kota, yakni karena alasan keamanan.

Kebiasaan berjalan beramai-ramai itu pula yang melatarbelakangi penamaan daerah tersebut menjadi Dago. Dalam Bahasa Sunda, saling menunggu sebelum berpergian disebut dengan istilah “silih dagoan.” Dari sana kemudian muncul nama Dago.

Bagi orang Belanda, Dago juga termasuk kawasan yang penting. Dago adalah lokasi di mana orang-orang Belanda membangun rumah peristirahatan. Di jaman Belanda juga Dago menjadi kawasan elite di Bandung.

Frans Prasetyo dalam tulisan berjudul Bandung dan Pemaknaan Dago dalam Sejarah: Masa Lalu, Masa Kini yang dipublikasikan oleh Jurnal Lembaran Sejarah mencatat bahwa kawasan Dago menjadi semakin strategis saat Pemerintah Kolonial Belanda mencanangkan rencana perluasan area kota Bandung ke arah utara. Rencana ini mulai dijalankan pada 1910 yang ditandai dengan pengembangan infrastuktur jalan.

Pada tahun 1910 itu, pemerintah membangun Jalan Dago dan Cipaganti serta membuka dan melakukan pengerasan Jalan Dago hingga Hutan Pakar. Reservoir air minum juga dibangun dengan memanfaatkan tanah warga penghuni kampung yang dibebaskan.

Di tangan pemerintah Belanda, Dago bersalin rupa menjadi kawasan yang benar-benar ciamik. Maklum saja, pembangunan Dago melibatkan arsitek-arsitek top yang menghasilkan penataan ruang yang benar-benar bagus.

Luas biasanya lagi, proyek pembangunan Dago tidak terhenti di tahun 1910. Pada 1930, Pemerintah Kolonial Belanda kembali menjalankan perluasan kota yang menyentuh Dago. Hanya saja, kali ini proyeknya tidak berjalan sesuai rencana karena terkendala masalah keuangan. Kendati demikian, Dago tetaplah berstatus kawasan elite tempat hunian orang Eropa.

Dipati Ukur, Perjalanan Hidup Pemberontak yang Ditumpas oleh Mataram

Pembangunan Dago Terus Berlanjut

Setelah berakhirnya era kolonial Belanda hingga akhirnya Indonesia merdeka, Dago terus menjadi kawasan penting di Bandung. Pembangunan di sana pun terus berjalan seakan tanpa henti. Apalagi, jumlah penduduk yang semakin banyak menuntut pemerintah untuk terus membangun berbagai fasilitas kota untuk mengimbanginya.

Dalam beberapa tahun terakhir saja, pemerintah terus menggiatkan berbagai proyek yang bertujuan untuk mempercantik Dago memberi kenyaman kepada orang-orang yang ada di sana.

Pada 2015, misalnya Pemerintah Kota Bandung mencanangkan revitalisasi Pasar Simpang Dago. Selain untuk kenyamanan pengunjung pasar, proyek ini juga bertujuan untuk mengatasi masalah kemacetan.

Kemudian pada 2017, giliran trotoar jalan di Dago yang dipercantik. Mulai dari Simpang Dago hingga Jalan Merdeka, trotoarnya dibuat lebih luas agar pejalan kaki bisa berjalan lebih lega.

Ridwan Kamil yang kala itu masih menjabat Walikota Bandung bahkan menyebut trotoar Dago tak ubahnya seperti di Barcelona.

Dago ini kaya salah satu jalan di Barcelona. Lampu-lampu yang vintage itu inspirasinya juga dari Barcelona. Ini yang membuat kota terasa lebih berkarakter," kata Ridwan Kamil seperti dilansir Detik.

Terbaru, pemkot Bandung membuat jembatan yang membentang di atas Sungai Cikapundung. Jembatan bernama Cika-cika itu dibangun karena beberapa tujuan, di antaranya keperluan pariwisata.

Dari Jembatan Cika-cika, pengunjung bisa menikmati pemandangan Sungai Cikapundung yang bertabur batu-batu dan tepiannya rimbun dengan pepohonan.

"Yang pasti ini akan jadi ruang publik, bisa dimanfaatkan oleh sebanyak mungkin orang. Sekarang tempat ini untuk edukasi, tapi menarik juga kalau jadi tempat wisata," kata Wali Kota Bandung Yana Mulyana, seperti diwartakan Kompas.com.

Jika Kawan GNFI berencana berlibur ke Bandung, jangan lupa mampir ke Dago!

Kopi Kenangan Bawa Babak Baru untuk Industri Retail F&B Startup di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini