Singa sebagai Identitas Kota Malang: Berawal dari Kerajaan Singosari hingga Arema

Singa sebagai Identitas Kota Malang: Berawal dari Kerajaan Singosari hingga Arema
info gambar utama

Singa menjadi simbol yang cukup identik dengan Kota Malang. Tidak hanya karena dijadikan lambang bagi salah satu kesebelasan kebanggaan masyarakat Malang yaitu Arema, tetapi singa juga terkandung dalam sejarah Kota Apel tersebut.

Simbol singa telah muncul pada zaman dahulu pada nama salah satu kerajaan yang pernah ada di Malang yaitu Singosari. Singosari merupakan salah satu kerajaan terbesar yang ada di Nusantara.

Kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok ini merupakan salah satu embrio dari Kerajaan Majapahit yang kelak kekuasaannya begitu luas. Digunakannya kata “Singha” sebagai nama kerajaan karena hewan ini sangat identik dengan karakteristik penguasa ketika itu.

Pada masa Majapahit, sosok singa yang identik dengan wilayah Malang ini juga kembali dilanggengkan dan diteruskan. Hal ini terlihat pada dua candi yang berada di wilayah Malang yaitu Candi Jago dan Kidal yang juga terdapat patung sosok singa.

Cara Baru Nikmati Malang, Wisata Sejarah ke 4 Destinasi Ini, Yuk!

Walaupun sedikit berubah, pada relief Candi Jago yang dibangun pada Majapahit juga terdapat cerita mengenai singa sebagai lawan dari banteng. Sosok singa yang ditampilkan pada candi ini bisa diasosiasikan sebagai penjaga dari sebuah kota atau kerajaan.

“Hewan ini diharap mampu menjadi simbol pelindung sebuah kota atau negara dari serbuan lawan, serta menghalau serangan berbagai makhluk halus,” tulis Rizky Wahyu Permana dalam Singa sebagai Lambang Malang Mulai Zaman Singosari hingga Malang dimuat dari Merdeka.

Diteruskan di zaman Belanda

Lambang pelindung kota Malang ini kemudian diteruskan pada masa Hindia Belanda. Ketika itu lambang Kota Apel ini adalah sepasang singa yang memegang tameng dengan gambar singa lainnya.

Di bawah gambar kedua singa tersebut terdapat sebuah tulisan “Malang Nominor Sursum Moveor” yang memiliki arti Malang Namaku, Maju Tujuanku. Lambang kota ini digunakan mulai tahun 1937 hingga akhirnya berubah pada tahun 1951.

Pada tahun 1964 dalam peringatan 50 tahun Kota Malang, lambang sempat kembali lagi kepada sosok hewan pelindung tersebut. Tetapi kemudian lambang Malang berubah menjadi tugu seperti yang kita kenal saat ini pada tahun 1970.

Mengubah Perkampungan Kumuh jadi Objek Wisata, Cerita dari Kampung Tematik Malang

Lambang singa kembali muncul setelah digunakan oleh Arema, klub kebanggaan masyarakat Malang. Klub sepak bola yang lahir pada 11 Agustus 1987 ini bahkan memiliki julukan yakni Singo Edan.

Tetapi dijelaskan oleh Rizky, ada juga alasan mengapa Arema menggunakan lambang singa. Hal ini ternyata, jelasnya, bukan karena terkait simbol sejarah masa lalu, tetapi hanya karena alasan sepele yaitu tanggal lahir Arema dinaungi rasi bintang Leo.

“Namun berkat hal itu justru sosok singa semakin melekat dengan Malang,” paparnya.

Simbol yang jadi identitas

Bagi Rizky, sosok singa ini kini bukan hanya terwakili sebagai lambang kota, tetapi telah menjadi bentuk karakteristik masyarakat Kota Malang. Hal ini jelasnya terlihat dari perilaku masyarakat Malang.

“Bahkan perilaku masyarakat Malang yang serba buka-bukaan dan lugas seakan menunjukan bahwa mereka memiliki jiwa singa. Jadi tidak heran jika Malang identik sebagai kandang singa,” paparnya.

Karena itu pemaknaan yang positif terhadap singa juga dilakukan oleh masyarakat Malang. Hal ini dapat diketahui dari hadirnya singa pada banyak aspek kehidupan masyarakat Malang hingga kini.

Sutari dan BSTC Malang Patroli Tiap Malam Demi Menyelamatkan Penyu di Pantai Bajulmati

Pada tataran ini dapat dikatakan bahwa masyarakat Kota Malang secara tidak langsung telah meleburkan identitas dirinya dan identitas singa menjadi satu. Laku singa yang telah dimaknai, dihidupi dalam laku hidup masyarakat Kota Malang.

Bentuk dari laku hidup ini ditunjukan dari peresmian monumen Kepala Singa Jawara. Peresmian ini sebagai optimisme jiwa pemenang yang telah mendarah daging di dalam tubuh masyarakat Malang.

“Ini simbol dari kebersamaan, kesatuan visi dan misi, serta semangat untuk terus berprestasi,” kata Bupati Malang H.M. Sanusi, M.M SuaraMerdeka.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini