Jejak Setapak Kereta Kuda sebagai Transportasi Andalan Bangsawan Bandung

Jejak Setapak Kereta Kuda sebagai Transportasi Andalan Bangsawan Bandung
info gambar utama

Masyarakat Bandung pernah menggunakan kuda sebagai salah satu alat transportasi berkeliling kota hingga lintas daerah. Kuda bahkan menjadi alat transportasi yang cukup mewah saat itu.

Jalan setapak yang bisa dilalui kuda, telah menghubungkan Bandung-Cianjur-Bogor-Batavia sejak akhir abad 18. Tetapi perjalanan menggunakan kuda pada jalur jalan itu tidak terlalu menyenangkan, karena jalan pegunungan yang naik turun.

Oleh karena itu, pada abad ke 18 dan 19, orang masih suka menggunakan tandu yang dipikul empat orang kuli, untuk perjalanan jauh keluar kota. Masyarakat Priangan juga lebih memilih kerbau sebagai alat pengakut barang.

Kereta berkuda kemudian mulai populer di Kota Bandung tatkala pemerintahan Pieter Sijthoff jadi pengelola kota pada abad ke 20. Dirinya memberikan banyak sekali andil dalam membangun, merias dan membenahi kota.

Emas Hijau Priangan: Romansa Kebun Teh Rakyat Pewaris Jejak Kejayaan

Disebutkan oleh Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe menyebut orang yang menciptakan kendaraan delman adalah Ir C.T Deeleman, seorang ahli bangunan irigasi yang kemudian menjadi pemborong bangunan.

Dia memiliki bengkel konstruksi besi yang terletak di pinggiran kota Batavia. Di sanalah, Ir Deeleman menciptakan kereta kuda yang mengabadikan namanya, Deeleman atau kini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Delman.

Lain halnya dengan kereta kuda yang berasa dari bahasa Prancis, yakni Dos a Dos. Dijelaskan dalam bahasa Belanda, Dos a Dos memiliki arti tempat si kusir dan penumpang duduk enak, punggung memunggunginya.

“Dari nama Dos a Dos ini kemudian jadi Sado,” terangnya.

Delman di Kota Bandung

Setelah pedati kerbau menghilang dari dalam kota, beberapa macam tipe kereta berkuda muncul di Kota Bandung. Sudah ada tipe kereta kuda Dos a Dos, yaitu penumpang dan kusir duduk berlawanan arah, belakang membelakangi.

“Bila penumpang terlalu asyik ngobrol, sedangkan si kusir nyeleweng menyesatkan arah perjalanan, penumpang tidak segera tahu. Abis liat belakang melulu,” kelakarnya.

Haryoto menyebutkan ada juga beberapa model kereta kuda lainnya yang dikenal di Kota Bandung, seperti bendi, sado, delman, dokar, dan kretek. Salah satu yang terkenal adalah kereta kuda berjenis bendi.

Catur Gatra Tunggal: Filosofi Mataram Islam dalam Tata Ruang Alun-Alun Bandung

Bendi ini dihias dengan indah, penuh umbul-umbul, bahkan bila pemiliknya adalah Menak Bandung sering dilengkapi payung, berkapasitas duduk untuk dua orang. Selain ornamen dari perak atau kuningan yang melilit sang kuda, tak lupa kerincingan.

Disebutkan oleh Haryoto, biasanya masyarakat Bandung yang ingin memiliki bendi akan membeli pada Firma Hallermann di Jalan Braga. Atau mereka akan menyewa pada Naripan, orang kaya Betawi yang namanya diambil jadi nama jalan di Bandung.

Bendi merupakan barang lux dan hanya dimiliki oleh golongan orang kaya. Biasanya orang kaya golongan pasar dan preanger planters ini lalu lalang pada malam minggu di jalan Bandung dan masih teringat oleh para sesepuh.

Hanya jadi jimat

Dalam perjalanan sejarahnya yang lebih dari satu setengah abad, kereta kuda masih tetap bertahan di beberapa kota Pulau Jawa dan Sumatra. Meskipun kendaraan bermotor yang lebih modern mulai datang mendesak kota-kota besar.

Tetapi kereta kuda masih tetap bertahan di kota-kota kecil Priangan, misal di Ciparay, Majalaya, dan Singaparna. Ada juga beberapa inovasi seperti Andong di Yogyakarta, Mayor di Jawa Timur, Celebek di Plered, Ben Hur di Manado dan lain-lain.

Kenangan kereta kuda juga pernah dikisahkan oleh Tuan Forbes yang pada tahun 1885 mengadakan perjalanan dari Bogor ke Bandung. Jarak 80 mil ditempuh dalam waktu 13 jam. Dengan ongkos yang cukup mahal mencapai 16 gulden.

“Tetapi karena pemandangan alam Priangan nan indah jelita, sepanjang perjalanan, cukuplah memadai dengan ongkos yang telah dikeluarkan,” paparnya.

Penghormatan dan Sakralitas Terhadap Perempuan dalam Budaya Sunda

Kini kereta kuda mulai pudar, sebagian sudah jadi jimat atau pusaka di museum. Di Bandung kendaraan berkuda merupakan pemandangan langka. Dari beberapa angka statistik jumlah delman dan kretek di Bandung semakin hari berkurang.

Tahun 1955: 451 buah
Tahun 1960: 477 buah
Tahun 1970: 515 buah
Tahun 1975: 111 buah
Tahun 1980: 46 buah

Jadi tentunya, sebentar lagi delman dan kretek akan hilang di Kota Bandung. Mungkin generasi pada masa depan, hanya akan mengenal kendaraan tersebut dari sebuah lirik lagu Naik Delman.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini