3 Suku Adat dengan Kepercayaan yang Berperan Besar Menjaga Hutan Indonesia

3 Suku Adat dengan Kepercayaan yang Berperan Besar Menjaga Hutan Indonesia
info gambar utama

Upaya menjaga kelestarian hutan di Indonesia selama ini bukan hanya banyak dilakukan pemerintah, konservasionis, atau masyarakat modern. Pihak yang juga paling berperan besar dalam menjaga hutan Indonesia adalah masyarakat atau suku adat.

Ungkapan di atas harus diakui secara nyata, karena yang terjadi di lapangan memang begitu adanya. Bukan tanpa alasan, masyarakat adat umumnya masih mempertahankan nilai-nilai leluhur yang memandang alam sebagai hal yang perlu dihormati.

Banyak dari masyarakat adat yang mengeramatkan, memuliakan, atau memiliki bentuk penghormatan istimewa terhadap alam. Hal-hal tersebut yang tak dimungkiri menjadi salah satu pengaruh besar, dari lestarinya hutan dan lingkungan tak terjamah yang punya peran besar bagi kehidupan umat manusia saat ini.

Di Indonesia beruntungnya masih ada segilintir kelompok masyarakat dan suku adat yang menjalankan peran tersebut. Apa saja masyarakat atau suku adat yang punya peran menjaga hutan Indonesia?

Mengenal Novilla Aru, Sosok Penggerak Perempuan dan Penjaga Tanah Adat di Papua

Suku Adat Pipitak

Pipitak merupakan salah satu masyarakat adat Dayak yang dapat dijumpai di wilayah Kalimantan Selatan. Mereka memiliki Kepercayaan dan pantangan yang berhubungan dengan hutan Desa Pipitak Jaya. Di antaranya yaitu masyarakat di Desa Pipitak Jaya percaya, jika sumber air tempat mereka hidup bergantung pada jumlah sumber air yang ada di desa tersebut.

Masyarakat di Desa Pipitak Jaya percaya jika hutan dirusak, maka air yang dipakai oleh masyarakat akan menjadi kering. Karena itu setiap membuka lahan atau menebang pohon untuk tujuan perkebunan, mereka selalu memulainya dengan sebuah ritual adat.

Ritual tersebut berfungsi untuk menunjukkan rasa hormat terhadap hutan melalui sikap hati-hati dalam bertindak menebang pohon pada suatu wilayah. Selain itu, terdapat pula aturan adat mengenai hukuman khusus yang diberikan kepada masyarakat yang berani melakukan hal yang tidak baik terhadap lingkungan.

Merindukan Rumah Kayu, Hunian Adat dari Lombok yang Sederhana Tapi Tahan Gempa

Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam | warlock14/Flickr
info gambar

Berada di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan Suku anak dalam dikenal juga dengan banyak sebutan lain yakni Suku Kubu, Orang Rimba, atau orang Ulu.

Suku anak dalam merupakan salah satu masyarakat yang sangat menggantungkan hidupnya terhadap sumber daya alam di hutan. Namun, mereka memiliki aturan dan cara sendiri dalam memanfaatkannya demi menjaga kelestarian hutan yang mereka tinggali.

Misalnya, mereka memiliki aturan mengenai tidak boleh menebang pohon atau membuat ladang pada wilayah hutan yang dianggap menjadi tanah peranakan. Meski begitu, suku anak dalam yang hidup di dalam kawasan hutan adat, boleh menebang hutan tetapi harus mengikuti aturan adat tertentu.

Aturan tersebut adalah tidak boleh menebang hutan untuk dijadikan perkebunan sawit dan karet. Mereka hanya boleh menanam ubi dan tanaman buah-buahan agar tutupan lahannya bisa rapat kembali.

Kemudian, luas lahan hutan yang ditebang untuk dijadikan lahan pun terbatas, misal hanya sekitar 50 meter untuk beberapa orang. Aturan-aturan tersebut harus dipatuhi, dan apabila ada pelanggaran biasanya akan diberikan sanksi oleh para tetua suku.

Gawai, Ritual Adat Suku Dayak Iban Sebagai Wujud Rasa Syukur Atas Panen Melimpah

Suku Adat Togutil

Suku adat togutil | Yann SENANT/Flickr
info gambar

Togutil merupakan sebutan untuk suku adat yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Uniknya, kelompok masyarakat adat ini ternyata hidup di hutan dengan cara berpindah-pindah. Keberadaannya secara spesifik biasa berpindah di lingkungan sekitar hutan hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo, dan Buli.

Meski berpindah-pindah, setiap membuka lahan untuk menjadi sumber pangan mereka juga menerapkan paham menghormati alam yang ketat. Suku Adat Togutil menganut aturan adat para nenek moyang yang mengharuskan keturunannya untuk selalu menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang ada.

Penduduk asli togutil percaya bahwa setiap jenis tumbuhan dalam kehidupan manusia memiliki jiwa dan emosi yang sama dengan manusia. Karena itu, dalam pemanfaatan sumber daya alam mereka selalu dan harus menyikapinya dengan bijaksana.

Baju Bodo, Busana Adat Tertua Khas Masyarakat Suku Bugis

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini