Botram, dari Tradisi Makan Bersama di Sawah hingga Sampai ke Meja Restoran

Botram, dari Tradisi Makan Bersama di Sawah hingga Sampai ke Meja Restoran
info gambar utama

Bukan hanya kaya akan masakan tradisional yang menjadi ciri khas di setiap daerah, Indonesia juga memiliki kekayaan budaya dalam hal menikmati masakan tradisional yang ada. Hal tersebut yang membuat setiap daerah satu sama lain semakin berbeda, dan memiliki keunikannya masing-masing.

Salah satu bentuk tradisi menikmati makanan tradisional yang menarik untuk dibahas adalah Botram. Berasal dari daerah Jawa Barat atau suku Sunda, botram adalah salah satu tradisi menikmati makanan secara bersama-sama dengan cara digelar di atas daun pisang.

Tetap banyak dilakukan hingga saat ini, botram merupakan salah satu tradisi yang bisa dibilang cukup lestari karena banyak dijumpai bahkan di perkotaan. Apa makna filosofi dari botram dan seperti apa sebenarnya asal-usul tradisi tersebut muncul?

Perbedaan Gado-Gado, Lotek, Karedok dan Ketoprak. Sudah Tahu?

Botram dan asal-usulnya

Botram masyarakat sunda di persawahan | Tangkapan layar TikTok @keindahandesaku
info gambar

Istilah botram merujuk pada salah satu cara tradisional yang dilakukan masyarakat Sunda dalam menikmati makanan, saat kumpul bersama anggota keluarga, teman, kerabat, atau orang terdekat. Makanan khas sunda seperti nasi liwet dan lalapan biasanya digelar memanjang di atas sebuah daun pisang yang sudah dibersihkan.

Biasanya di perkampungan dalam sebuah acara perayaan tertentu, jumlah daun yang digunakan lebih dari satu agar saling terhubung memanjang satu sama lain. Semakin panjang daun pisang dan lauk yang digelar, maka semakin banyak pula orang yang bisa berpartisipasi makan bersama.

Botram sendiri bukanlah satu-satunya nama karena istilah itu sendiri lebih populer di kota Bandung. Di beberapa daerah Sunda lain, kegiatan makan bersama ini dikenal dengan banyak nama di antaranya bancakan, cucurak, ngaliweut, dan masih banyak lagi.

Botram atau apapun nama sejenisnya memang sudah ada sejak lama. Berdasarkan penjelasan Prof Murdijati Gardjito selaku ahli kuliner dari Universitas Gajah Mada, bagi masyarakat Sunda kebiasaan memakan dengan cara ini dulunya hanya dilakukan oleh para petani.

Lebih detail, kebiasan botram dilakukan petani saat meladang di sawah. Karena dulu jarak antara sawah yang luas dengan rumah cukup jauh, para petani biasa mengolah berbagai lauk yang bisa dimakan saat bekerja jauh dari rumah, tanpa harus mencari keluar ladang.

Menggambarkan makna kebersamaan secara utuh, karena jika makan biasa pada piring masing-masing setiap orang hanya menikmati makanannya sendiri, botram justru mengumpulkan banyak orang di tempat yang sama sehingga kebersamaan lebih terasa.

Tradisi Ngeliwet, Cara Makan Hemat yang Tunjukan Karakter Masyarakat Sunda

Budaya botram yang bertahan di masa modern

Menariknya, botram atau liwetan merupakan salah satu tradisi yang masih lestari dan banyak dilakukan hingga saat ini. Tak sulit untuk menemukan atau merealisasikan jika ingin melakukan kegiatan makan bersama ini bahkan di perkotaan sekalipun.

Alasan yang membuat botram masih banyak dilakukan adalah karena kepraktisannya. Dengan menggunakan daun pisang, setelah selesai kita tidak perlu repot mencuci piring kotor sebanyak apapun orang yang ikut berpartisipasi.

Bicara soal lauk, bentuk menu yang disajikan saat ini pun tidak jauh berbeda dari zaman dulu, di mana tentu makanan yang disantap adalah makanan khas Sunda. Mulai dari nasi liwet dengan aroma rempah yang khas, berbagai macam sayur lalap, sambal, ikan asin, dan lain sebagainya.

Bukan cuma itu, kini tradisi botram tak hanya bisa dijumpai di rumah-rumah warga. Kekinian banyak dijumpai restoran di perkotaan dengan konsep makanan Sunda, yang menawarkan pengalaman sajian 100 persen khas botram.

Jadi bukan hanya sekadar menyuguhkan makanan Sunda saja, mereka secara langsung juga menyuguhkan makanan dengan cara digelar di atas daun pisang, lengkap dengan nuansa lesehan dan duduk bersila.

Ragam Sajian Nasi Khas Sunda, Ada Tutug Oncom Hingga Jamblang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini