Taman Junghuhn: Terbengkalainya Saksi Sejarah Penanaman Kina di Hindia Belanda

Taman Junghuhn: Terbengkalainya Saksi Sejarah Penanaman Kina di Hindia Belanda
info gambar utama

Cagar budaya Taman Junghuhn di Kampung Junghuhn, RT 4/11, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB) kondisinya sudah lama terbengkalai. Padahal tempat ini sengaja dibangun untuk menghormati Franz Wilhelm Junghuhn.

Di taman itulah Junghuhn yang menjabat sebagai perwira kesehatan pada pemerintah kolonial Belanda, pertama kali menanam bibit pohon kina di Indonesia yang bermanfaat untuk pengobatan penyakit malaria.

Pada abad ke 19, Jawa pernah menjadi penghasil kina terbesar di dunia. Ketika itu hampir 90 persen kebutuhan kina berasal dari Indonesia. Tumbuhnya pohon ini tak lepas dari peran Junghuhn di Priangan.

Franz Wilhelm Junghuhn dan Kecintaannya Akan Priangan hingga Akhir Hayat

Junghuhn merupakan pria yang lahir di Mansfeld, Jerman pada 26 Oktober 1809. Di sela pekerjaannya sebagai dokter militer pada 1835, dirinya tersedot pesona alam tropis Nusantara hingga akhirnya memilih tinggal di Priangan.

Dirinya kemudian melakukan berbagai penelitian tentang tumbuhan dan berhasil menggambar peta Pulau Jawa secara lengkap dari hasil penjelajahan. Junghuhn tutup usia pada 24 April 1864 di Lembang sambil memandang Gunung Tangkuban Perahu.

Tugu sebagai kenangan

Sejarah penanaman pohon kina pertama oleh Junghuhn ditandai dengan berdirinya sebuah tugu di Desa Jayagiri, Lembang. Tugu ini dikenal warga sebagai Taman Junghuhn. Hingga saat ini, tugu berbentuk kerucut itu masih berdiri.

Terdapat tulisan Junghuhn, lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematiannya. Tugu itu tampak sederhana, dengan bentuk phallus yang mengerucut ke atas. Tugu berwarna putih kusam itu berada di antara rimbunan pohon-pohon kina dan semak-semak bambu.

Memang agak ganjil bila tempat ini disebut taman seperti yang terpasang di mulut jalan. Karena tempat itu diapit oleh beberapa perumahan penduduk yang seolah tak peduli. Selain itu tak ada aneka tanaman bunga warna-warni.

Sementara itu, di bagian belakang tugu terdapat makam J.E de Vrij, seorang farmakolog yang mengembangkan dan meneliti kina untuk melawan malaria bersama Junghuhn. Nisan di makamnya pun hancur, sementara rantai besi yang mengelilinginya makam hilang.

Jejak Setapak Kereta Kuda sebagai Transportasi Andalan Bangsawan Bandung

Hal yang lebih parah, taman sejarah ini malah dijadikan jalan pintas untuk masyarakat. Sebab Taman Junghuhn memang dikelilingi oleh rumah-rumah warga. Tak ayal, tanah-tanah yang seharusnya dihiasi rumput-rumput hijau malah dipenuhi debu-debu.

Terlihat juga sampah plastik dan botol berserakan di taman tersebut. Di sejumlah titik terdapat gundukan sisa-sisa pembakaran sampah oleh warga. Kondisi ini juga dibenarkan salah satu warga sekitar.

“Dahulu, Taman Junghuhn dirawat oleh seorang petugas, tapi kini sudah meninggal kini menjadi terbengkalai,” ujar Lili Susilah Nengtyas yang diwartakan Detik.

Harapan perawatan

Tidak terawatnya taman ini diakui oleh Ketua RT 02 RW 07 Kampung Genteng Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Didi Rukmana lantaran tidak jelasnya siapa yang bertanggung jawab mengelolanya.

Meski demikian pada plang yang berada di depan pintu masuk Taman Junghuhn tertulis jika taman ini merupakan tanggung jawab dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Barat.

“Masih bingung siapa yang bertanggung jawab. Taman itu masuk RT atau RW mana juga tidak jelas. Kita juga tidak mau dibebankan dan takut dipersalahkan,” kata Didi yang dimuat Kompas.

Emas Hijau Priangan: Romansa Kebun Teh Rakyat Pewaris Jejak Kejayaan

Didi menambahkan status pengelola Taman Junghuhn semakin tidak jelas ketika terjadi pemekaran KBB dari Kabupaten Bandung pada 2007 lalu. Saat itu BKSDA Provinsi Jawa Barat seolah tidak peduli dengan kondisi taman.

“Sebetulnya kalau mau solusinya sekeliling taman Junghuhn harus dibentengi dan dikasih jalan utama biar tidak ada yang berlalu lalang melewati taman,” ucapnya.

Harapan Didi pun diakuinya mewakili seluruh warga sekitar Kampung Genteng atau Kampung Junghuhn ini. Menurutnya warga sangat berharap Taman Junghuhn bisa kembali indah agar anak-anak bisa bermain, sambil belajar.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini