Tanaman Prasejarah Asli Papua, Buahnya Dikonsumsi dan untuk Upacara

Tanaman Prasejarah Asli Papua, Buahnya Dikonsumsi dan untuk Upacara
info gambar utama

Buah merah merupakan tanaman favorit masyarakat Papua.

Buah dengan nama ilmiah Pandanus conoideus dan termasuk famili Pandanaceae ini, merupakan tumbuhan endemik Papua yang tersebar hingga Papua New Guinea. Pohonnya dapat ditemukan dari dataran rendah hingga dataran tinggi.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua memperkirakan, lebih dari 30 kultivar pandan buah merah dapat dijumpai di Papua. Masing-masing wilayah, memiliki nama berbeda untuk tiap karakter buahnya. Misal, buah merah di Kecamatan Kelila, Wamena, Papua mempunyai nama lokal berbeda, merujuk pada perbedaan ukuran, warna buah, warna daun, dan rasa. Sehingga, ada namanya maler, ugi, oakelu, kenen, wona, kuambir, gepe, barugum, magari, werene, dan baga.

Meski demikian, secara garis besar, hanya empat kultivar yang banyak dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis, yaitu kultivar merah panjang, merah pendek, cokelat, dan kuning.

Dijelaskan lagi, buah merah yang sudah masak dimanfaatkan sebagai pelengkap sayur dan juga unsur pelengkap dalam upacara adat bakar batu. Buah merah yang diekstraksi akan menghasilkan minyak yang digunakan untuk pewarna masakan dan bahan kerajinan. Bahkan, digunakan juga sebagai peningkat stamina, obat cacing, obat penyakit kulit, obat kanker, obat hipertensi, dan obat diabet melitus.

Namun ternyata, buah merah ini merupakan tanaman prasejarah Papua.

“Papua terletak di khatulistiwa dengan hutan hujan tropis. Pada masa prasejarah, pembukaan lahan pertanian tidak mudah, hanya mengandalkan alat-alat batu,” kata Hari Suroto, peneliti arkeologi BRIN [Badan Riset dan Inovasi Nasional], kepada Mongabay, Sabtu, 5 Februari 2022.

Menurut dia, berdasarkan analisis polen yang dilakukan oleh Haberle dari Australian National University pada 1991, terhadap sisa serbuk sari tanaman buah merah, yang ditemukan di Kalela, Lembah Baliem, diperkirakan pertanian awal di Papua berlangsung pada 6.000 tahun silam.

Hal ini menunjukkan, dataran tinggi New Guinea mengenal pertanian intensif dengan tanaman utama umbi-umbian yaitu keladi sejak 7.000 tahun lalu. Sementara, untuk wilayah Indonesia bagian barat, bukti pertanian intensif diketahui sejak penutur Austronesia datang sekitar 3.000 tahun lalu dengan mengenalkan tanaman biji-bijian yaitu padi.

Buah merah yang dimanfaatkan sebagai pelengkap sayur dan minyaknya sebagai bahan dasar obat. Foto: Christopel Paino
info gambar

“Buah merah sudah lama dikonsumsi masyarakat Suku Dani di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Buah merah dalam Bahasa Dani disebut kuansu,” ujar Hari.

Dia menambahkan, di kalangan Suku Amungme, dikenal beberapa versi asal usul mereka. Salah satunya, leluhur Suku Amungme muncul dari tanah, tempat mereka selalu berada. Kegelapan menjadi satu-satunya alasan mengapa orang mau meninggalkan lubang atau gua. Mulut gua tersebut bernama Mepingama, berada di sebelah pohon tua dekat Wamena, Lembah Baliem. Manusia keluar dari gua dengan membawa berbagai benih tanaman yang diperlukan untuk ditanam. Ada umbi-umbian berupa talas, pisang, dan buah merah.

“Ada pula kapak batu dan alat pembuat api. Semua itu menjadi bekal untuk bertahan hidup.”

Pohon-pohon yang begitu besar dan seringnya hujan turun, membuat pembukaan lahan dengan pembakaran sulit dilakukan. Sehingga pada masa prasejarah, penduduk Papua di dataran rendah mengembangkan sistem pertanian yang efisien. Tidak perlu keluar banyak tenaga hanya untuk menebang pohon besar dengan alat batu.

 Buah merah papua yang kaya manfaat. Foto: Shutterstock
info gambar

“Mereka lebih mengandalkan penanaman umbi-umbian yang tumbuh merambat dan tidak membutuhkan banyak sinar matahari.”

Dalam buku “Prasejarah Papua [2010]” yang ditulis Hari Suroto, dijelaskan bahwa di dataran tinggi Papua, yang terletak antara 1.300 hingga 2.300 meter di atas permukaan laut, penduduknya juga mengembangkan sistem pertanian yang tidak kalah efisien. Wilayah dataran tinggi jarang dijumpai pohon berukuran besar, dengan cuaca tidak menentu dan intensitas sinar matahari terbatas.

Selain itu, pada dataran tinggi 1.550 meter dari permukaan laut, hanya dapat ditumbuhi jenis-jenis tanaman tertentu. Tanaman ini adalah keladi, buah merah [Pandanus], pisang Australimusa [jenis pisang asli Papua dengan tangkai buah tegak lurus], ubi rambat, dan tebu.

“Buah merah memiliki bentuk menyerupai pandan dengan tinggi mencapai 16 meter ditopang akar tunjang. Adapun buahnya berbentuk lonjong dengan kuncup yang tertutup daun buah,” ujar Hari.

Sebuah penelitian berjudul “Buah Merah [Pandanus conoideus Lamk] Bioresources Pegunungan Tengah Papua: Keanekaragaman dan Upaya Konservasinya” yang dilakukan oleh Albert Husein Wawo, Peni Lestari, dan Ninik Setyowati, dimuat dalam Jurnal Biologi Indonesia [2019], dijelaskan bahwa buah merah merupakan tanaman bioresources lokal masyarakat pegunungan tengah Papua. Tanaman ini penting setelah tanaman pangan seperti hipere [Ipomoea batatas L], hom [Colocasia esculenta L], pisang [Musa paradisiaca], alpukat [Persea americana], dan nangka [Artocarpus integra].

Buah merah papua, sebagaimana namanya merupakan tanaman endemik Papua. Foto: Shutterstock
info gambar

“Masyarakat Papua Nugini menyebut pandan yang buahnya dimakan dengan nama marita, sedangkan di Wamena, Papua, buah pandan yang berwarna merah ini disebut tawi. Dalam Bahasa Indonesia disebut buah merah karena buahnya berwarna merah dengan bentuk khas,” tulis para peneliti.

Menurut mereka, sebagai bioresources lokal, buah merah memiliki arti penting bagi masyarakat Papua karena beberapa hal, yaitu minyaknya digunakan sebagai minyak makan dan bahan dasar obat. Potongan buah merah yang direbus bersama daun ubi jalar digunakan sebagai pakan babi. Daunnya diketahui dapat dijadikan bahan anyaman.

Sementara, perawakan setiap kultivar buah merah berbeda antara satu dan lainnya karena dipengaruhi faktor genetisnya, sehingga berdampak pada pola pertumbuhannya mulai dari fase semai hingga dewasa. Pola pertumbuhan buah dari muda hingga tua terbagi tiga tahap dan membutuhkan waktu antara 3-4 bulan.

“Kegiatan konservasi buah merah di Papua telah dilakukan dalam KRBW [Kebun Raya Biologi Wamena] dan sebagian kecil petani telah terlibat dalam pembudidayaannya, baik di kebun maupun halaman rumahnya,” tulis para peneliti.

---

Tulisan ini direpublikasi dari Mongabay.co.id atas MoU GNFI dengan Mongabay Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini