Jangan Galau Gara-gara Resesi, Indonesia Diprediksi Selamat di Tengah Gelapnya Dunia

Jangan Galau Gara-gara Resesi, Indonesia Diprediksi Selamat di Tengah Gelapnya Dunia
info gambar utama

Nasib Indonesia pada tahun 2023 ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Sebab, tahun depan diprediksi akan terjadi resesi global.

GNFI sebelumnya telah menguraikan bahwa resesi dianggap sebagai ancaman sehubungan dengan isi laporan Global Economic Prospect (GEP) yang isinya menjelaskan bahwa tingginya tekanan inflasi di sejumlah negara di dunia tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Prediksi lebih detil mengenai peluang terjadinya resesi juga telah dilakukan. Bloomberg misalnya pernah mengalkulasi seberapa besar kemungkinan negara-negara di kawasan Asia Pasifik dilanda resesi.

Hasil laporan Bloomberg tersebut menempatkan Sri Lanka sebagai negara di Asia Pasifik yang paling berpeluang dilanda resesi. Kemungkinan Sri Lanka resesi adalah 85 persen per Juli 2022.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Kendati Indonesia bukan di urutan pertama negara yang paling berpeluang dilanda resesi, kekhawatiran tetap ada. Maklum saja, perekonomian dunia diperkirakan bakal suram yang mana itu sedikit-banyak akan memberi dampak kepada Indonesia.

Di sisi lain, masih ada optimisme bahwa Indonesia akan mampu melewati krisis selama resesi terjadi. Ini seperti dijelaskan Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto.

Eko Listiyanto melihat bahwa ekonomi Indonesia mulai pulih dan tekanan inflasi mulai melandai. Ini menjadi sinyal positif bagi peluang terlewatinya krisis.

“Selama Indonesia bisa mengoptimalkan laju positif pemulihan ekonomi domestik sebenarnya risiko resesi tahun depan bisa dihindari,” ujar Eko seperti dilansir Antara.

Lebih lanjut lagi, Eko menilai ekonomi domestik menjadi kunci agar Indonesia bisa melewati krisis. Kini perlu ada upaya mengoptimalkan ekonomi domestik saat keterbukaan ekonomi Indonesia masih tergolong rendah.

Eko juga menjelaskan jika resesi tahun 2023 mendatang akan berbeda dengan yang terjadi pada 2020 lalu saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Sementara pada 2020 lalu pandemi tidak terkendali dan menghantam semua negara, kini Indonesia sudah dalam posisi lebih siap untuk menghadapi ancaman krisis.

“Saat ini, tingkat kesiapan lebih baik. Namun demikian, dampak jangka pendek terhadap risiko arus modal keluar memang perlu diwaspadai agar tidak membuat rentan kurs Rupiah,” pungkas Eko.

Apa yang disampaikan Eko selaras dengan perkiraan Asian Development Banks (ADB) mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022.

ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,4 persen. Angka tersebut didapat setelah dilakukan koreksi atas prediksi sebelumnya yang menunjukkan angka lebih rendah.

Menurut ADB, salah satu alasan dikoreksinya prediksi tersebut adalah konsumsi domestik yang meningkat seiring dengan daya beli konsumen Indonesia yang juga naik.

“Belanja konsumen masih kuat dan ekspor komoditas sedang bagus.” ujar Direktur ADB untuk Indonesia Jiro Tominaga dalam keterangan resminya.

Lebih Tinggi Dari Perkiraan Sebelumnya, ADB Koreksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini