Prospek Masa Depan, Ini Alasan Anak-Anak Australia Wajib Belajar Bahasa Indonesia

Prospek Masa Depan, Ini Alasan Anak-Anak Australia Wajib Belajar Bahasa Indonesia
info gambar utama

Tidak dihitung dengan penutur bahasa Inggris yang sebanyak 295 juta, terdapat tiga bahasa yang paling banyak digunakan di dunia yaitu Mandarin (898 juta), Spanyol (437 juta), dan Arab (437 juta).

Australia sudah memandang bahwa tujuan pembelajaran bahasa adalah untuk meningkatkan prospek komersial. Salah satu usaha yang menjadi fokus adalah dengan menguasai bahasa komunikasi di negara-negara berkembang yang notabene punya pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, salah satunya adalah Indonesia.

Brazil, Rusia, India, dan China sudah dipandang sebagai empat negara investasi utama. Namun kini yang mengejutkan, Indonesia telah masuk dalam daftar tiga negara berkembang teratas bersama dengan India dan Malaysia. Tiga negara ini dianggap Australia seperti menunjukan "penilaian" baru atau dapat diartikan memiliki prospek ekonomi yang sangat "menggiurkan".

Sebagai tetangga paling dekat, Bahasa Indonesia adalah salah satu dari lima bahasa teratas yang harus dipelajari di sekolah-sekolah Australia. Bahasa negara dari mitra komersial utama Australia lainnya adalah China (Mandarin), Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Secara histori, pada tahun 2008 pemerintah Australia memberikan pendanaan melalui Asia Education Foundation (AEF) untuk mempromosikan pembelajaran bahasa Korea, Mandarin, Jepang, dan Indonesia.

Pembelajaran untuk bahasa Indonesia bahkan dikatakan "terlambat" karena Australia lebih dulu memulai untuk kampanye belajar bahasa Jepang di sekolah sejak akhir 1970an. Serta lebih dulu menerima pendanaan dan pembiayaan pemerintah pada tahun 1980an.

Pembelajaran bahasa Korea pun turut ikut pada tahun-tahun itu karena perdagangan bilateral Australia-Korea Selatan sudah mulai terjalin.

Seiring berjalannya waktu, kembali karena alasan tetangga Asia yang terdekat dengan Australia, serta sama-sama sebagai anggota G20, program kemitraan sekolah AEF bernama BRIDGE justru lebih banyak berhasil menghubungkan sekolah-sekolah di Australia dan Indonesia.

Sejak saat itu, Australia sudah memulai investasi jangka panjangnya dalam menjalin hubungan sekolah dan interaksi siswa antara Indonesia-Australia. Bahkan pada tahun 2021-2022, program BRIDGE akan membentuk dan menjalin lebih dari 200 kerjasama dengan 18 provinsi di Indonesia di seluruh Australia.

Tak hanya berkembang antar sekolah, hubungan ini pun meluas dengan lahirnya Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) dan National Australia-Indonesia Language Awards (NAILA). Dua organisasi ini yang mengincar para pemuda untuk terus mempromosikan peluang, penghargaan, serta jalinan komunikasi pertukaran bahasa di seluruh jajaran pendidikan baik di Indonesia maupun di Australia.

The Australian Consortium for 'In-Country' Indonesian Studies (ACICS) adalah pilihan organisasi lainnya yang kini lebih mengacu pada program-program digital yang disediakan dalam menjalin hubungan pertukaran bahasa antar dua negara ini.

Dilihat dari aspek budaya, seorang guru Bahasa Indonesia di Eltham High School, Victoria, Australia mengatakan, di zaman media sosial seperti sekarang ini rasanya terlalu sempit jika hanya mengedepankan pendekatan tradisional pada umumnya.

"Terkadang kita terperangkan dalam aspek tradisional Indonesia, misalnya mengajarkan tentang gamelan, batik, atau angklung, yang menurut saya juga keren dari Indonesia. Namun, ini terlalu sempit," ungkapnya dikutip abc.net.au (07/20).

Profesor Studi Asia Tenggara, David Hill, juga melihat bahwa seharusnya budaya dan bahasa Indonesia lebih dikedepankan dengan budaya-budaya anak muda agar tetap menarik minat anak-anak hingga anak muda di Australia.

"Lebih baik dicari apa yang paling disukai anak muda din Indonesia, itulah yang harus tercerminkan di sini (Australia) untuk membuktikan perspektif mengenai Indonesia yang kontemporer," ungkap David dikutip sumber yang sama.

Sumber: Seasia.co, abc.net.au, studyinternational.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini