Suku Rimba dan Racikan Ajaib dari Hutan untuk Sembuhkan Batuk

Suku Rimba dan Racikan Ajaib dari Hutan untuk Sembuhkan Batuk
info gambar utama

Suku Rimba sering disebut juga dengan Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku yang berada di Provinsi Jambi. Suku ini tinggal secara menyebar di lima Kabupaten Jambi yaitu Bungo, Tebo, Sarolangun, Batanghari serta Muaro Jambi.

Beberapa dari mereka sudah hidup secara menetap pada suatu wilayah tetapi terdapat yang masih nomaden, terutama kelompok yang berada di bagian dalam Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD).

Suku yang masih nomaden ini bergantung pada sumber daya yang berada di hutan untuk kelangsungan hidupnya. Salah satunya pemanfaatan sumber daya alam untuk mengobati beragam penyakit.

Suku Punan, Suku Dayak Pedalaman Penjaga Hutan Rimba

Pengetahuan tentang obat tradisional pada Suku Rimba cukup baik dan telah diturunkan secara turun temurun. Suku Rimba biasa memanfaatkan akar, batang, daun serta kulit tumbuhan untuk pembuatan ramuan obat.

“Kemampuan meramu suku ini dapat diyakini mampu untuk mengobati beraneka ragam penyakit salah satunya adalah batuk,” tulis Garnis Setyajati dan Sri Agung Fitri Kusuma dalam Etnofarmasi, Kandungan Kimia dan Aktivitas Farmikologi Obat Batuk dari Suku Rimba.

Efek samping yang relatif rendah menjadi kelebihan dari penggunaan obat tradisional jika dibandingkan dengan penggunaan obat konvensional sehingga dinilai relatif aman. Selain itu, kelebihan lainnya adalah mudahnya memperoleh bahan baku obat.

Kebijaksanaan dari alam

Suku Rimba yang sejak lahir telah bertempat tinggal di dalam hutan, jauh dari pusat kota, mengakibatkan mereka selalu memanfaatkan tumbuhan untuk mengobati penyakit. Apalagi hal ini sesuai warisan dari leluhur.

“Hutan adalah rumah kami, langit adalah atapnya dan tanah adalah lantainya.”

Jika dibandingkan dengan suku lain, Suku Rimba cenderung menjadikan obat tradisional bukan lagi sebagai pengobatan alternatif, namun pengobatan konvensional. Hal ini bisa dilihat dari racikan untuk obat batuk

Sama seperti kebanyakan obat batuk secara tradisional, Suku Rimba memanfaatkan tumbuhan akar lumut, daun cepo, daun sekolontunon, dan kayu silak dengan cara direbus. Daun cepo selama ini pun telah diketahui mempunyai efek ekspektoran.

Taman Nasional Bukit Duabelas, Rumah Bagi Flora-Fauna Langka dan Orang Rimba

Daun cepo memiliki tinggi sekitar 1-3 meter dengan batang kuat dan berwarna kelabu. Secara tradisional tumbuhan ini sudah digunakan ribuan tahun lalu di beberapa negara, seperti China, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Daun cepo juga memiliki kandungan minyak atsiri yang telah diteliti sebagai ekspektoran sejak tahun 2000. Minyak atsiri ketika itu digabung dengan senyawa terpentin untuk meredakan batuk.

“Ekspektoran dapat mengeluarkan kelebihan mukus dengan cara meningkatkan sekresi bronkus sehingga dapat mempermudah keluarnya mukus melalui batuk,” DB Paul dan RH Dobberstein dalam Expectorants, Antitussives, and Related Agents.

Mulai kehilangan

Namun pemanfaatan tanaman obat pada kalangan Suku Rimba mulai hilang. Sepuluh tahun terakhir, Suku Rimba banyak diperkenalkan dengan obat-obatan dari luar. Proses instan dalam mendapatkan obat berpotensi menggerus tradisio pengolahan obat tradisional.

Sianjar, salah satu warga di wilayah Kedundung Muda menceritakan kelompok itu telah difasilitasi layanan kesehatan gratis oleh pemerintah daerah. Bila anaknya batuk, dirinya cukup ke puskesmas, setelah mendapatkan obat, biasanya akan sembuh.

Dirinya tidak perlu lagi repot mencari bahan obat-obatan alam ke dalam hutan. Apalagi jelas Sianjar, kini bahan-bahan obat tradisional ini sudah mulai sulit didapatkan di dalam hutan. Terutama melihat kondisi hutan yang mulai rusak.

“Cari ubat (obat) jauh ke delom (dalam rimba). Mulai payah (sulit) carinya,” katanya yang dimuat Orang Rimba dan Penyembuhan dari Tengah Hutan terbitan Kompas.

Melangun, Cara Suku Anak Dalam Menghilangkan Kesedihan

Irma Tambunan melihat keragaman tumbuhan dan pemanfaatan obat alam ini bisa punah jika tidak dilestarikan. Pengetahuan lokal meramu pun terancam hilang. Kini untuk menyelamatkan mulai ditangkarkan 35 jenis tanaman pada demplot seluas 1 hektare.

Di sana ditanam sengkubung untuk obat diare, tanaman seluruh untuk obat melahirkan, kedondong tunjuk untuk obat disentri, tanaman pengendur urat untuk obat pegal-pegal, hingga tampui nasi untuk obat gatal-gatal.

“Tumbuhan ini untuk dimanfaatkan sebagai bahan riset dan bisa juga digunakan oleh Orang Rimba sendiri,” kata Wulandari Mulyani, Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNDB.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini