Ataraxia: Cara Hidup Bahagia dan Tenang menurut Filsafat Stoikisme

Ataraxia: Cara Hidup Bahagia dan Tenang menurut Filsafat Stoikisme
info gambar utama

Di tengah zaman yang serba cepat hari ini, kita dituntut agar menjadi sosok yang paling cepat sukses, cepat populer, tercepat tahu informasi, tercepat memiliki barang ini dan itu.

Akibatnya, hari ini kita lebih cenderung dikelilingi oleh orang-orang yang stress, kesepian, bingung, serta lelah mental menghadapi tuntutan hidup yang mesti serba cepat tersebut.

Nah dengan menyelami mutiara kebijaksanaan hidup dari para pemikir Stoik, kiranya sejenak dapat menenangkan jiwa yang tengah dilanda keresahan hidup. Berikut beberapa tipsnya ;

Pertama, filsafat Stoik menganjurkan latihan pengendalian nafsu

Menurut kalian apa yang membuat seseorang tidak bahagia dan tidak tenang?. Di mata kaum stoik, jawabannya adalah bersarangnya emosi negatif, yakni segala macam nafsu atau hasrat yang berlebihan akan sesuatu.

Ajaran Stoikisme bertujuan untuk menuntun langkah manusia mencapai titik kemerdekaan diri (autarkeia) dan bahagia (Ataraxia).

Definisi hidup bahagia bukan ketika kita bisa memiliki banyak hal, tapi justru ketika diri kita dijauhkan dari segala macam hasrat untuk memiliki banyak hal.

Ingin punya ini, ingin punya itu. Sudah punya satu, mau punya dua. Kita mengira kebahagiaan terletak pada keberhasilan memenuhi seluruh nafsu kita.

Poinnya adalah mengendalikan bukan menghilangkan nafsu. Hal tersebut dapat diperoleh melalui latihan mengendalikan hasrat.

Kedua, Stoikisme mengajarkan latihan dikotomi kendali pikiran

Bagi kaum Stoik, kita perlu sepenuhnya menyadari bahwa dalam hidup ini “ada sesuatu yang bisa kita kontrol” dan “ada yang tidak bisa kita kontrol”.

Definisi hidup tenang dan bahagia adalah ketika kita mampu menyalurkan energi dan fokus hidup kita hanya pada sesuatu yang bisa kita kendalikan, yakni pikiran kita.

Kita tidak mungkin bisa mengatur bagaimana seharusnya orang lain melihat diri kita. Kita tidak mungkin bisa mengendalikan semua orang harus berbuat baik pada kita, menghormati kita atau menyanjung kita.

Namun keputusan untuk meresponnya sepenuhnya ada pada kendali kita.

Mau mengabaikannya atau merasa terbebani dengan penilaian orang lain, kitalah yang menentukannya.

Begitupun juga kita tidak mungkin bisa memastikan kapan kita sehat terus, sejahtera terus, hidup aman dan nyaman terus, bahkan hidup terus menerus. Karena semuanya di luar kendali kita.

Namun pilihan untuk mengikuti pola hidup sehat, hidup hemat, dan hidup taat aturan, sepenuhnya ada pada kendali kita.

Ketiga, filosofi Stoik menyarankan latihan hidup selaras dengan hukum alam

Keserakahan, kemunafikan, kesombongan, ketidakpeduliaan, kebohongan dan segala macam sifat tercela yang tidak sejalan Hukum Alam, maka tinggalkanlah.

Definisi hidup tenang dan bahagia adalah terpeliharanya diri dari sifat-sifat tercela tersebut.

Makanan, seks, harta, tahta, dan segala macam hal yang kita tafsirkan sebagai kenikmatan adalah sah-sah saja sejauh diperoleh berdasarkan Hukum Alam (Aturan Tuhan bagi yang kaum beragama).

Singkatnya, kalau Anda mau bahagia dan memperoleh kepuasan batin, Anda tidak diperkenankan bertindak secara berlebihan atau melanggar di luar garis batas yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Para pemikir Stoik menyadari bahwa semua hal di atas tidak mudah dijalani bagi kebanyakan manusia. Oleh karena itu, mereka menekankan pada kata latihan (Askesis).

Keempat, Stoikisme menyarankan selektif dalam memilih kawan dekat

Menurut Seneca, "Sifat buruk seumpama flu, mudah menular, menyebar dengan cepat pada siapapun yang berkontak dengannya."

Stoikisme menganjurkan supaya kita selektif dalam memilih teman dekat atau sahabat. Memilih mereka yang juga komitmen terhadap kebajikan, dan hidup selaras dengan alam.

Yang penting juga diperhatikan adalah soal orientasi relasi sosial kita pada orang lain. Pandangan Stoikisme dalam hal ini adalah,

"Tidak penting bagaimana orang lain melihatku, menilaiku, dan memperlakukan diriku, karena itu bersifat di luar kendaliku.
Yang terpenting adalah bagaimana aku memperlakukan orang lain, berbuat baik pada orang lain, sebab itu di bawah kendaliku."

Oleh karena itu, kita mesti membangun relasi sosial yang tepat agar tidak mengganggu ketenangan batin kita di satu sisi, dan di sisi lain kita berupaya menebar kebaikan agar orang lain juga dapat mencapai hidup bahagia (Ataraxia).

Kelima, Stoikisme meminta latihan meluruskan cara berfikir kita

Stoikisme juga mengajarkan agar kita berlatih meluruskan cara berfikir kita pada segala sesuatu di luar kita, khususnya yang kita anggap selama ini sebagai kenikmatan.

Kita perlu membedakan antara sesuatu sebagai fakta objektif dan tafsiran subjektif kita pada sesuatu tersebut.

Misalkan hubungan seksual. Sebagai fakta objektif, hubungan seksual tidak lebih dari sekadar pertemuan dua alat kelamin, titik. Sementara nikmat atau tidaknya hubungan tersebut, itu soal tafsiran kita.

Jika kita telah terlatih berfikir lurus yakni berfikir sesuai hukum alam (hukum ilahi), maka kita akan mudah berlepas diri pada syahwat yang berlebihan, yang menjadi faktor keresahan hidup.

Sekarang kita sudah mengetahui bahwa sejak 2000 tahun lalu, para Bijak bestari telah meramu resep untuk hidup bahagia dan tenang. Pilihan untuk menggunakan atau mengabaikan resep tersebut, sepenuhnya pada kita

Seumpama gas dan rem, hidup ini jangan digas terus. Perlu sesekali direm agar supaya tidak tabrakan. Bahkan perlu sesekali berhenti agar sadar tujuan hidup mau kemana.

Di mata filsuf Stoik, masalah utama bukanlah mengubah dunia, melainkan mengubah cara pandang kita terhadap dunia.

Bandingkan juga konsep cara hidup bahagia menurut riset ilmiah (science) dan filsafat taoisme

Referensi:
- Wibowo, A Setyo (2019). Ataraxia: Bahagia menurut Stoikisme. Kanisius

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini