Kisah Seribu Benteng Sabang: Saksi Pangkalan Militer Penjajah Kolonial

Kisah Seribu Benteng Sabang: Saksi Pangkalan Militer Penjajah Kolonial
info gambar utama

Sabang merupakan wilayah kepulauan di Provinsi Aceh dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar. Ini merupakan kawasan paling utara di Indonesia, tepatnya di Pulau Rondo, yang dikelilingi Selat Malaka di bagian utara dan selatan dan barat dengan Samudra Hindia.

Kota Sabang menjadi penanda titik awal wilayah NKRI. Tempat ini juga menyimpan banyak peninggalan-peninggalan sejarah pada masa lampau yang berupa bangunan rumah ataupun sebuah benteng.

Kota Sabang sendiri memiliki julukan “Kota Seribu Benteng”, dikarenakan banyaknya peninggalan benteng dari Portugis, Belanda, dan Jepang yang masih berada di kota tersebut.

Pelabuhan Sabang: Dua Abad Jadi Pintu Gerbang yang Lebih Penting dari Singapura

Deretan meriam menjadi semacam pengingat bahwa pulau di ujung barat Banda Aceh itu dahulu adalah tempat strategis untuk keperluan militer dan perdagangan. Letaknya di paling ujung Pulau Weh memang langsung menghadap ke Selat Malaka dan Samudra Hindia.

“Begitu strategisnya Sabang, sehingga Belanda dan Jepang yang pernah menguasai kawasan itu membangun banyak benteng di sekelilingnya,” tulis Lusiana Indriasari dalam Kota Seribu Benteng terbitan Kompas.

Pangkalan militer Jepang

Meriam berjajar di sebuah lapangan terbuka, tempat hampir setiap sore anak-anak dan remaja Kota Sabang, Aceh, bermain dan bercengkrama sambil menunggu matahari terbenam.

Pada masa lalu, moncong meriam peninggalan Jepang itu ganas menahan musuh yang datang dari Selat Malaka dan Samudra Hindia. Kini meriam itu telah menjadi bagian integral dari masyarakat Kota Sabang.

Menurut Trisnani Murnilawati (Nani) peneliti dari kelompok pecinta sejarah, Sabang Heritage Society (SHS), Sabang sebelum Perang Dunia II (1942-1945) adalah kota pelabuhan terpenting, bahkan lebih penting dari Singapura.

Sisa Kisah Lokomotif Uap yang Berupaya Dibangkitkan Kembali di Aceh

Pada masa itu, Jepang masuk ke Indonesia dan menguasai Sabang pada tahun 1942. Sabang dibom oleh pesawat Sekutu, dan mengalami kerusakan fisik hingga terpaksa untuk ditutup aksesnya.

Disebut Trisnani, Jepang menjadikan Sabang sebagai pangkalan militer dan basis pertahanan wilayah barat. Lorong rahasia bawah tanah pun dibangun di Pulau Weh itu. Lorong itu berfungsi sebagai pelarian dan pertahanan.

Pendiri SHS, Arahman menyebut Sabang mirip dengan Iwo Jima, pulau milik Jepang di kawasan Pasifik yang kemudian direbut Amerika Serikat ketika Perang Dunia II. Karena itu Sabang memiliki banyak benteng.

“Jepang membangun benteng pertahanan di hampir seluruh Sabang. Jumlahnya mungkin ribuan,” kata Nani.

Tidak mencolok

Dikatakan oleh Lusiana, benteng yang didirikan oleh Jepang secara fisik tidak mencolok, seperti benteng milik kolonial Belanda, Inggris, atau Portugis yang berupa bangunan besar di atas tanah.

Benteng buatan Jepang berbentuk bungker atau pertahanan yang tersembunyi dalam tanah atau di bebatuan karang, Pulau Weh, tempat Kota Sabang berada adalah sebuah atol atau pulau karang yang terangkat ke permukaan laut.

“Kondisi alam yang berbukit karang ini dimanfaatkan Jepang untuk membangun pertahanan,” bebernya.

Memori Keindahan Taman Ghairah, Simbol Kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam

Kini Nani bersama rekan-rekannya di SHS mencoba menghidupkan kembali Kota Sabang menjadi daya tarik wisatawan. SHS juga mengadakan kegiatan wisata sejarah untuk siswa sekolah agar mereka mengenal sejarah langsung dari lapangan.

Salah satu tempat yang sering dikunjungi adalah benteng Anoi Itam. Benteng ini yang terbesar di kota Sabang dan terbuat dari besi tebal yang dicor. Dinding ruangan penuh dengan coretan cat, semua pintu besi berikut engselnya habis dijarah orang.

"Banyak pasangan muda-mudi datang ke sini jelang sore hari," kata Zulhelmi mahasiswa Insititut Agama Islam Negeri Ar-Raniri Sabang, jurusan Sejarah Kebudayaan Islam.

Agar sampai ke benteng Anoi Itam, harus menaiki beberapa anak tangga, mendaki perbukitan batu karang. Anak tangga itu menggantikan jalan terjal bebatuan menuju puncak bukit karang.

Namun rasa lelah akan terbayar saat melihat pemandangan luar biasa terhampar di depan mata. Rumput hijau menghampar di sela tonjolan karang, dengan pepohonan tinggi yang siluetnya meliuk-liuk indah.

"Laut biru Selat Malaka menambah indah perpaduan warna alam ditingkahi semilir sejuk angin laut," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini