Asal-Usul Baturraden Purwokerto, Berawal dari Kisah Cinta Putri Raja dan Pembantu Kerajaan

Asal-Usul Baturraden Purwokerto, Berawal dari Kisah Cinta Putri Raja dan Pembantu Kerajaan
info gambar utama

Nama Baturraden sudah populer sebagai daerah wisata unggulan di Kabupaten Banyumas. Dengan kondisi geografis yang berada di kaki Gunung Slamet, kecamatan ini memiliki alam yang sangat indah dan suhu yang sejuk. Sehingga, sangat cocok bila daerah ini berkembang menjadi kawasan wisata.

Di balik kecantikan alammnya tersebut, tahukah Anda kalau Baturraden ini punya sebuah legenda yang menjadi asal-usul penamaannya?

Sebenarnya, ada beberapa legenda yang berkembang di masyarakat mengenai sejarah dari Baturraden di masa lampau, tetapi ada satu kisah yang paling terkenal mengenai wilayah ini. Kisah tersebut menceritakan tentang percintaan antara putri raja yang kerap disebut sebagai 'raden' dengan pembantu kerajaan atau 'batur'.

Dari penggabungan kata tersebut itulah nama Baturraden tercipta. Lalu, bagaimanakah kisah mereka?

Berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu, Layaknya Bertamu ke Rumah Dewa

Berawal dari Memukul Ular

Menurut sumber tutur di masyarakat, dulu, di kawasan Banyumas, terdapat sebuah pemerintahan bernama Kadipaten Kutaliman. Pada saat itu, pemimpinnya bernama Adipati Kutaliman. Pada saat menjabat, ia memiliki dua orang anak perempuan.

Adipati Kutaliman ini juga memiliki seorang perawat kuda yang bernama Suta, seorang pemuda yang memiliki sifat rajin, baik hati, jujur. Bila dibutuhkan oleh sang Adipati, pekerjaannya memang mengurus kuda dan membersihkan kandangnya. Sumber tutur lain menyebutkan, nama lain dari pengurus kuda ini adalah Batur Gamel atau Jaka Gamel.

Suatu ketika selepas selesai mengurus kuda, ia memutuskan untuk berjalan-jalan menelusuri wilayah kadipaten yang belum pernah ia datangi.

Saat ia sudah berada di tujuan terakhir, ia mendengar jeritan dari seorang perempuan yang cukup keras. Karena penasaran, ia mencari di mana sumber suara tersebut. Setelah menemukannya, ternyata itu adalah suara dari si Raden Ayu, salah satu putri Adipati Kutaliman yang sedang ketakutan karena bertemu ular yang cukup besar.

Suta ingin membantu, hanya saja ia juga takut dengan ular. Tetapi, tekadnya sudah bulat untuk mengalahkan rasa takutnya, sehingga dipukullah ular tersebut dengan menggunakan tongkat yang panjang (sumber lain ada yang menyebutkan menggunakan pedang). Biarpun cukup kesusahan dan ketakutan juga, akhirnya Suta berhasil membunuhnya.

Sang putri pun berterima kasih kepadanya dan mereka akhirnya berkenalan. Setelahnya, mereka menjadi sahabat baik dan perlahan rasa cinta tumbuh di antara mereka.

Mitos dan Spiritualisme yang Mengelilingi Tata Ruang Situs Gunung Padang

Ditentang oleh Adipati

Setelah memadu kasih dalam beberapa waktu, Suta pun berrniat untuk mempersunting sang putri. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk bertemu dengan Adipati.

Sedihnya, lamaran tersebut ditolak mentah-mentah. Adipati sangat menentang lamaran tersebut sebab kelas sosial mereka sangat berbeda.

Mereka pun dihukum dan akhirnya pergi dari istana. Arah pelarian mereka adalah menuju ke utara, yang mana lokasi ini mengarah ke Gunung Slamet. Ketika mereka sudah cukup jauh meninggalkan istana, tibalah mereka di kaki gunung dan mendapatkan tempat yang damai dengan sungai yang mengalir di dekatnya.

Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk tinggal berdua di sana hingga memiliki keturunan. Lokas mereka inilah yang konon menjadi cikal bakal Baturraden sekarang.

Prabu Siliwangi dengan Jejak Kecintaan dan Konservasi Alam pada Zaman Pajajaran

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini