Sejarah Gelar "Andi" dalam Masyarakat Bugis: Gelar Ciptaan Misionaris Belanda

Sejarah Gelar "Andi" dalam Masyarakat Bugis: Gelar Ciptaan Misionaris Belanda
info gambar utama

Apakah ada kata “Andi” di depan nama kalian? Atau kalian punya teman yang namanya diawali oleh kata “Andi” ?.

Seringkali ini menjadi buah bibir di tengah masyarakat Bugis-Makassar khususnya ketika dikaitkan dengan penentuan nominal Uang Panai’.

Dengan kata lain, jika seorang perempuan Bugis memiliki gelar “Andi”, maka uang Panai’nya mesti lebih tinggi.

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa gelar “Andi” sebenarnya bukanlah gelar kebangsawanan murni dari adat Bugis-Makassar.

Kata “Andi” adalah gelar pemberian dari seorang misionaris Belanda di awal abad 20. Jadi masih berusia sekitar 100 tahun. Sama dengan gelar “Haji” bagi umat islam yang diberikan oleh Belanda.

Lalu seperti apa sebenarnya asal-usul dari gelar “Andi”?. Simak ulasan singkat berikut.

Sejarah Pemberian Gelar "Andi" dalam Masyarakat Bugis

Prof Mattulada, Antropolg Unhas, mengatakan bahwa di masa kolonial Belanda, setiap siswa yang ingin mengikuti sekolah dari tingkat HIS atau sekolah pamong praja, maka harus menyertakan “stamboom” atau daftar silsilah keturunan dan lembar pernyataan kesetiaan pada pemerintah Hindia Belanda (1974).

Mattulada mencatat bahwa penggunaan gelar Andi ini dimulai sekitar tahun 1930 an oleh para Kepala Swapraja dan keluarga bangsawan untuk memudahkan identifikasi keluarga raja.

Mengutip laman Historia yang mengisahkan bahwa Andi Matalatta (Mantan Panglima Kodam XIV Hasanuddin) yang hendak melanjutkan sekolahnya di Openbare Schakelschool Makassar pada tahun 1929, di depan namanya dibubuhkan kata “Andi”.

Muhayyang Daeng Ngawing yang saat itu menjabat sebagai kepala sekolah membeberkan bahwa tujuan pemberian kata “Andi” tersebut untuk membedakan keturunan bangsawan dari orang biasa.

Senada dengan penjelasan Ince Nurdin, mantan guru OSVIA dan juga tokoh bangsawan Makassar yang mengatakan bahwa penggunaan kata “Andi” pertama kali diperkenalkan oleh seorang misionari Belanda bernama B.F. Matthews.

B.F Matthews sendiri adalah kepala sekolah OSVIA sekaligus bersama Colliq Pujie menjadi pelopor penulisan sureq I Lagaligo, sebuah mahakarya sastra terbesar di dunia setebal 9000 jilid polio.

Para bangsawan terdidik ini sengaja diberi gelar sendiri dan nantinya dipersiapkan oleh Belanda untuk mengisi jabatan-jabatan penting di pemerintahan.

B.F Matthews juga ingin punya Standen Stelsel di Zuid Celebes seperti yang ada di Jawa. Maka, mulailah ia memberikan gelar "Andi" kepada semua bangsawan.

Setelah Belanda berhasil menguasai Sulawesi Selatan sepenuhnya, pemerintah kolonial mulai bisa mengintervensi kerajaan. Makanya, pemerintahan kolonial butuh tenaga-tenaga ahli dari kaum terpelajar.

Belanda kemudian mendirikan sejumlah sekolah lanjutan atau setara SMP. Salah satunya adalah Mulo dan Holland Indlands Kwekschool atau HIK. Sekolah Mulo bahkan masih dipertahankan hingga saat ini. Gedungnya diubah menjadi Kantor Dinas Pariwisata Pemprov Sulsel.

Mereka yang telah menamatkan pendidikan di sekolah yang telah ditentukan Belanda itu, kemudian akan memperoleh gelar "Andi" di depan nama mereka

Hingga masa pemerintahan kolonial Belanda berakhir di Indonesia, penggunaan gelar "Andi" ini masih digunakan oleh para keturunan bangsawan dan tetap menyematkannya di depan nama keturunan mereka.

Nama Gelar Bangsawan Bugis dan Makassar

Perlu diketahui bahwa Sulawesi Selatan terdiri atas etnis : Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Sa’dan. Adapun penduduk yang menjadi mayoritas di Sulawesi Selatan adalah suku Bugis dan Makassar. Sementara untuk suku Mandar umumnya bermukim di Sulawesi Barat.

Dalam masyarakat Bugis dikenal 3 strata sosial yaitu :

  1. Arung (bangsawan kasta tertinggi)
  2. Ata (budak) : sekarang sudah tidak berlaku
  3. To Maradeka (masyarakat umum)

Sementara Suku Makasar mengenal 4 (empat) strata sosial yaitu :

  1. Ata (budak) : sekarang sudah tidak berlaku
  2. Daeng (kalangan pengusaha)
  3. Karaeng (Raja atau bangsawan)
  4. Kare (tokoh Religi)

Dari kedua suku mayoritas tersebut, terdapat beberapa gelar kebangsawanan yaitu;

  • Arung (di kabupaten Bone)
  • Besse/Becce
  • Baso/Baco
  • Daeng/Paddaengang (Makasar)
  • Datu : gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis (di Luwu misalnya, semua Raja bergelar Datu)
  • Karaeng (di Makassar atau Gowa)
  • Opu
  • Petta
  • Sombayya (Gowa)
  • Tenri/ Tanri

Referensi:
- Historia
- Mattulada. 1974. Bugis-Makassar: Masyarakat dan Kebudayaannya.
- Daftar Nama Marga, Gelar Adat dan Gelar Kebangsawanan Di Indonesia - Perpustakaan Nasional 2012

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini