Akhirnya, Pelaut WNI yang Terdampar di Taiwan Dipulangkan ke Indonesia

Akhirnya, Pelaut WNI yang Terdampar di Taiwan Dipulangkan ke Indonesia
info gambar utama

Setelah delapan bulan telantar di pelabuhan Kaohsiung, Taiwan, awak kapal kargo Jian Ye yang terdiri dari tujuh WNI dan satu warga Cina akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

Izin keluar kapal diberikan pada Jumat (28/10/2022), menyusul penerbangan dari Bandara Internasional Kaohsiung ke Indonesia yang dijadwalkan Sabtu kemarin, ungkap Biro Kelautan dan Pelabuhan Taiwan, dikutip Taipei Times.

Sambil menunggu waktu keberangkatan tiba, para awak kapal tersebut untuk sementara bermalam di tempat penampungan milik Kantor Ekonomi dan Perdagangan Indonesia. Mereka mengaku senang dengan kabar bahagia ini dan tidak sabar kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga.

Cakalele, Tari Perang Tradisional Maluku untuk Menghormati Nenek Moyang Pelaut

Kronologi terdamparnya awak kapal

Menurut penuturan Pastor Ansensius Guntur dari Yayasan Khatolik Stella Maris, kedelapan pelaut itu dilarang meninggalkan kapal sejak ditarik ke pelabuhan Kaohsiung pada 23 Februari 2022 akibat kehilangan daya di kawasan perairan teritorial Taiwan. Larangan itu diberikan sesuai peraturan protokol Covid-19 serta perlindungan perbatasan yang berlaku di negara itu.

Mirisnya, dalam surat pernyataan yang ditujukan kepada Kantor Berita Pusat (CNA) Taiwan, sejak Februari 2022 mereka tak pernah menerima gaji. Untuk kebutuhan sehari-hari, delapan awak kapal itu sangat bergantung pada bantuan otoritas setempat, dilansir Focus Taiwan.

Merujuk teks Pendaftaran Sertifikat Sementara yang para pelaut ini serahkan, kapal kargo yang mereka naiki itu terdaftar di Togo, namun dimiliki oleh perusahaan Hong Kong. Kontrak mereka dengan pemilik kapal berakhir pada 6 September 2022 lalu. Maka dari itu, seharusnya tak ada lagi kewajiban bagi mereka untuk tinggal lebih lama di kapal sepanjang 74,07 meter itu.

Namun, menurut hukum Kementerian Perhubungan dan Komunikasi Taiwan, mereka diperbolehkan keluar kapal dan meninggalkan pelabuhan asal sepertiganya tetap berada di dalam kapal sampai awak pengganti datang. Itu artinya, tiga orang dari mereka harus dikorbankan.

Namun, para pelaut ini tak bisa menentukan siapa tiga orang itu. Alhasil, mereka semua memilih tetap berada di kapal dengan segala keterbatasan. Banyak peristiwa mencekam yang harus mereka hadapi selama berbulan-bulan, salah satunya percobaan pembunuhan yang dilakukan seorang awak asal Cina terhadap kapten kapal bernama Fauzan Salihin akibat depresi berat seperti yang diberitakan Focus Taiwan, 19 Oktober 2022.

Kemudian, dalam keadaan terlunta-lunta, Fauzan lantas mengirim pesan kepada CNA yang berisikan permintaan bantuan untuk pulang ke Indonesia.

“Saya punya orang tua, seorang istri dan anak-anak menunggu saya di rumah. Bisakah Anda membantu saya kembali ke rumah karena kru saya menjadi stres dan gila. Tolong, Pak! Sudah enam bulan pemilik belum membayar gaji kami, tolong bantu saya pulang," demikian pesan Fauzan.

Setelah perjuangan yang alot, para pelaut ini pun akhirnya membuat perjanjian bersama pemilik kapal dengan didampingi Lembaga Bantuan Hukum Taiwan.

Dalam nota kesepakatan itu tertulis, masing-masing awak kapal akan menerima 700 dolar AS dengan syarat mereka harus melepaskan hak untuk mengajukan tuntutan apapun, baik perdata ataupun pidana. Semua keperluan mereka terkait kepulangan juga dibiayai, termasuk tiket pesawat.

Kedelapan orang itu pun menyetujui perjanjian tersebut karena satu-satunya yang mereka inginkan hanyalah pulang ke Indonesia secepat mungkin agar bisa mencari pekerjaan baru dan bertemu keluarga. Mereka juga sepakat tak akan membawa kasus ini ke meja hijau.

Menelisik Kembali Interaksi Masa Lalu Pelaut-pelaut Makassar dengan Suku Aborigin Australia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini