Bahasa Melayu Satukan Kepulauan Nusantara, Tapi Kenapa Bahasa Indonesia Lebih "Eksklusif"?

Bahasa Melayu Satukan Kepulauan Nusantara, Tapi Kenapa Bahasa Indonesia Lebih "Eksklusif"?
info gambar utama

Pada Mei 2022 lalu, Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob mengungkapkan rencananya untuk mengusulkan penggunaan Bahasa Melayu sebagai bahasa kedua Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN). Salah satu alasannya, Bahasa Melayu telah digunakan di hampir seluruh negara ASEAN seperti Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand Selatan, Filipina, dan sebagian Kamboja.

Lebih lanjut Ismail juga mengatakan saat ini hanya empat dari sepuluh negara ASEAN yang memakai Bahasa Inggris dalam acara resmi di tingkat Internasional. Tak bisa dipungkiri juga Bahasa Melayu dalam sejarahnya jadi cikal bakal pemersatu kepulauan di Nusantara, alias telah mempersatukan Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa justru Bahasa Indonesia yang dipilih jadi bahasa nasional? Bukan Bahasa Melayu?

Pada abad ke-15, Bahasa Melayu disebut juga Bahasa Franca di Selat Malaka (semenanjung Melayu dan pesisir Sumatera), pesisir Kalimantan, dan pulau-pulau disekitarnya.

Secara bertahap, sampai abad ke-17 saat kepulauan Nusantara di bawah pengaruh Belanda, Bahasa Melayu menjadi media komunikasi terpenting antara pemerintah dan rakyat bagi para penguasa Eropa kala itu.

Menariknya, tidak seperti negara koloni di negara lainnya, penduduk lokal tidak dipaksa untuk menggunakan bahasa tuan-tuan Eropa. Hanya segelintir elit pribumi Indonesia yang belajar Bahasa Belanda. Bahasa Melayu dianggap hal penting untuk keberhasilan administrasi koloni Belanda saat itu.

Singkat cerita, tiba sejarah Jepang berhasil menaklukan Hindia Belanda pada tahun 1942. Hal pertama yang mereka lakukan saat itu adalah membuat Bahasa Belanda menjadi bahasa ilegal bagi masyarakat lokal. Sebagai yang sedang berkuasa, Jepang tak ingin wilayah kedudukannya masih dibayang-bayangi Belanda.

Bahasa Belanda semakin terlupakan, namun bukan berarti Bahasa Jepang jadi "naik pamor". Tak banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Jepang. Lagi-lagi Bahasa Melayu harus digunakan lebih luas dan aktif untuk keperluan administrasi Jepang kala itu.

Lama dijajah, gerakan nasionalis negeri ini mulai menyeruak dan membara, terutama di tangan anak-anak muda Indonesia. Ada anggapan bahwa Bahasa Melayu dianggap sebagai bahasa kelahiran budaya dan politik asli di Hindia Belanda. Kala itu masyarakat sendiri yang tak ingin bayang-bayang penjajahan terus menerus dibawa.

Hingga akhirnya Sumpah Pemuda termasyur itu dibuat pada Kongres Pemuda tahun 1928. Disinilah cikal bakal pertama kkalinya nama "Bahasa Indonesia" diterima oleh masyarakat. Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa unggulan Indonesia dan jadi salah satu bentuk persatuan nasional.

Dalam perkembangannya, meski Bahasa Melayu sudah digunakan lebih lama dibandingkan Bahasa Indonesia, justru kini persebarannya jaluh melampaui Bahasa Melayu. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, membeberkan data bahwa persebaran Bahasa Indonesia telah mencakup 47 negara di seluruh dunia.

Lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) sudah diselenggarakan oleh 428 lembaga di seluruh dunia. Lebih jauh lagi, Bahasa Indonesia telah diajarkan sebagai mata kuliah di sejumlah kampus kelas dunia seperti di Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan tak sedikit di beberapa perguruan tinggi terkemuka di Asia.

"Saya sebagai Mendikbud Ristek, tentu menolak usulan tersebut. Namun karena ada keinginan negara sahabat kita mengajukan Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN, tentu keinginan tersebut perlu dikaji dan dibahas lebih lanjut di tataran regional," ujar Nadiem menanggapi usulan PM Ismail. (Kompas.com, 05/04/2022).

Meski begitu, Bahasa Melayu sebenarnya tidak sepenuhnya "hilang" di Indonesia. Bahasa Melayu masih setara dengan bahasa daerah di Indonesia seperti di Bali, Bugis, Batak, Sunda, bahkan Jawa. Istilah "Melayu" juga masih dikaitkan jadi etnis untuk orang-orang lokal Indonesia.

Sumber: Seasia.co, Bilingua.io, Daytranslations.com, Masteringbahasa.com, Kompas.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini