Hurry Sickness, Sikap Tergesa-gesa yang Perlu Dihindari

Hurry Sickness, Sikap Tergesa-gesa yang Perlu Dihindari
info gambar utama

Sebagai seorang mahasiswa maupun pekerja, Kawan tentunya memiliki tanggungjawab untuk mengerjakan segala tugas yang diemban. Saking banyaknya tugas, diantara Kawan seringkali terpacu untuk cepat-cepat menyelesaikan semuanya.

Perilaku tersebut dinamakan hurry sickness. Istilah ini bukanlah suatu kondisi yang dapat di diagnosis melainkan sebuah pola perilaku. Mungkin mulanya Kawan hanya mencoba-coba saja untuk segera menyelesaikan tugas yang ada agar dapat memiliki banyak waktu luang.

Namun, hal ini berubah jadi satu kebiasaan yang ternyata timbul dampak buruk pada tubuh. Mengerjakan tugas memang jadi kewajiban yang harus di selesaikan, tetapi mengerjakan semuanya secara terburu-buru adalah hal yang salah.

Ciri-ciri ketika Kawan dapat diklaim sebagai salah satu orang mengalami hurry sickness, antara lain Kawan merasa kalau dalam sehari harus menyelesaikan beberapa tugas sekaligus, dan ketika tak dapat menyelesaikannya dalam satu hari Kawan cenderung merasa khawatir dan cemas.

Berikut cara-cara yang bisa Kawan lakukan untuk mengatasi perilaku hurry sickness

  1. Memetakan Tugas dan Tentukan Batas

Membuat planning jadi satu alternatif yang efektif untuk Kawan Lakukan. Ketika tugas-tugas yang ada sudah dipetakan dengan baik Kawan akan lebih mudah melihat mana yang jadi prioritas pertama dibandingkan yang lain.

Kerjakan secara berurut dan sesuai porsi diri. Jika Kawan sanggup menyelesaikan dua tugas dalam satu hari, maka cukup dua saja. Tak perlu dilebih-lebihkan sehingga Kawan masih bisa melakukan hal lain selain hanya mengerjakan tugas.

  1. Istirahat Sejenak

Sudah merasa lelah? Maka rehat sejenak! Jangan pernah memaksakan diri untuk melakukan apapun ketika merasa tubuh sudah tak sanggup lagi untuk menyelesaikan tugas apapun. Tak perlu risau, terlebih kalau tugas tersebut masih jauh dari batas pengumpulan.

Kawan perlu memprioritaskan bagaimana kondisi diri sendiri. Percuma saja, bukan kalau sudah lelah dan mengantuk, tetapi tetap memaksakan diri malah berdampak pada daya tahan tubuh yang melemah dan berujung pada sakit.

  1. Cari Kegiatan Lain

Cara yang satu ini bisa Kawan lakukan jika merasa sulit lepas untuk tergesa-gesa menyelesaikan banyak hal, maka coba cari dari kegiatan-kegiatan sederhana yang Kawan suka, seperti merajut, membaca buku, maupun mendengarkan musik.

Dari kegiatan sederhana tersebut akan membuat tubuh dan pikiran jadi lebih rileks sehingga tak melulu memikirkan atau mengerjakan tugas-tugas yang ada. Hidup ini perlu seimbang antara work dan healing, bukan?

Nah, bagaimana? Itulah ketiga cara yang bisa Kawan lakukan karena bagaimanapun perilaku hurry sickness berdampak pula pada kesehatan fisik maupun mental serta berpotensi meningkatnya stres.

Menjalani hidup yang menyenangkan adalah hidup dengan menerapkan keseimbangan dalam diri. Tak masalah kalau Kawan memang sedang semangat untuk menyelesaikan sesuatu secara bersamaan dalam satu hari.

Namun, ketika Kawan melakukan itu, tetapi dengan memaksakan diri agar segalanya cepat selesai tentu itu akan membebankan beban diri dan justru memberikan dampak buruk. Kawan, ingat, jangan coba menjadi seorang yang deadliner alias suka mengerjakan tugas dekat dengan waktu deadline. Ketika jadi deadliner, Kawan akan menumpuk banyak tugas.

Alhasil, pada satu hari Kawan mengerjakan semua tugas dalam satu waktu. Hal ini menjadi salah satu yang memicu timbulnya hurry sickness pada diri. Hurry sickness bisa terjadi pada siapapun. Jadi, jangan tunda-tunda tugas yang ada ketika mendapatkan satu tugas, berusahalah untuk segera menyelesaikannya.

Referensi: Huff Post | Master Class

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini