Warisan Budaya Tak Benda Baru Indonesia: Sate Lilit dan Jaje Laklak

Warisan Budaya Tak Benda Baru Indonesia: Sate Lilit dan Jaje Laklak
info gambar utama

Beberapa waktu lalu arak Bali resmi ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak benda (WBTB) Indonesia baru. Tak sampai di situ, arak Bali yang dibuat oleh perajin Denpasar bahkan juga dipilih menjadi salah satu souvenir dalam rangkaian perhelatan acara KTT G20, yang memang berlangsung di Pulau Dewata.

Namun rupanya, bukan hanya arak Bali yang mendapat keistimewaan serupa untuk menjadi WBTB. Ada dua kuliner tradisional lainnya dari Bali yang juga menyandang predikat warisan budaya tak benda, yakni Sate Lilit dan Jaje Laklak.

Sate Laklak sendiri selama ini sudah bukan lagi menjadi kuliner yang asing di kalangan masyarakat lokal atau luar daerah. Sementara itu jaje laklak dikenal sebagai kuliner camilan bercita rasa manis yang juga banyak disukai.

Seperti apa keistimewaan dari kedua kuliner tradisional khas Bali tersebut?

Intip Fakta Arak Bali yang Sudah Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Sate lilit, panganan yang terkenal di kalangan turis

Bicara soal Bali, otomatis akan langsung teringat dengan eksistensi wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata para turis mancanegara. Tak heran, jika kuliner tradisional di kawasan ini populer. Dan salah satu jenis makanan tradisional yang diakui nikmat oleh para wisatawan adalah sate lilit.

Berbeda dengan sate biasa yang ditusuk pada kayu tipis yang telah disiapkan secara khusus, sesuai namanya sate lilit secara asli memang dililit atau membungkus batang dari tanaman serai. Varian sate lilit dibuat dengan berbagai bahan, ada yang membuatnya dari daging ayam, sapi, ikan, atau babi yang dicincang.

Agar lebih sedap, cincangan daging tersebut diberi bumbu berupa campuran parutan kelapa, santan, jeruk nipis, bawang merah, dan merica. Setelah diaduk rata, adonan daging tersebut dilekatkan mengelilingi satu sisi batang serai.

Meski begitu, kini di berbagai restoran atau rumah makan sederhana juga banyak yang menggunakan tusuk sate dari kayu untuk membuat satu lilit. Hanya saja, tusuk sate yang digunakan berbentuk lebih pipih dan melebar.

Sate Lilit, Sebuah Makanan Yang Menjadi Simbol Kejantanan Pria

Jaje laklak, camilan serabi khas Bali

Bukan hanya panganan berat, Bali juga memiliki camilan tradisional yang khas yakni Jaja laklak. Atau bagi masyarakat asli Bali, namanya dikenal juga dengan sebuta jaje laklak.

Jika dilihat sekilas, sebenarnya camilan satu ini banyak dikenal sebagai serabi. Bentuknya bundar pipih berpori-pori. Serabi yang dikenal secara umum biasa dibuat dari adonan tepung beras (gandum), air kelapa (santan dan sebagainya), dan ragi yang kemudian dimasak di atas arang dan dimakan dengan kuah gula jawa bercampur santan.

Rupanya pada versi jaje laklak atau Bali, adonan camilan ini berwarna hijau karena dicampur dengan pewarna alami dari daun suji. Sementara itu dari segi topping tidak jauh berbeda, di mana biasanya jaje laklak dinikmati dengan gula merah dan tambahan taburan kelapa parut.

Serabi Likuran, Tradisi Warga Desa Penggarit Sambut Malam Lailatulqadar

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini