Benteng Pendem, Saksi Sejarah Tangguhnya Pertahanan Belanda di Selatan Jawa

Benteng Pendem, Saksi Sejarah Tangguhnya Pertahanan Belanda di Selatan Jawa
info gambar utama

Benteng Pendem yang berada di Nusakambangan, Jawa Tengah dibangun pada abad 18. Tak berlebihan sebutan tersebut karena hampir semua bagian dari bangunan ini terpendam sedalam 1-3 meter di bawah permukaan laut.

Arsitek Belanda menjulukinya Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap atau tempat pertahanan pesisir di atas tanah yang menjorok ke laut. Benteng berlanggam Eropa ini merupakan tiruan bentuk kecil Benteng Rhijnauwen, benteng terbesar di Belanda.

Benteng Pendem terletak di bagian tenggara pusat Kabupaten Cilacap, sebuah kota di ujung selatan Jawa Tengah. Lokasinya di ujung timur Pantai Teluk Penyu. Sebelah selatan benteng berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia.

Palahlar, Pohon Endemik Nusakambangan dengan Kayu Berkualitas

Dalam buku Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa karya Susanto Zuhdi menyebutkan, Benteng Pendem menjadi markas tentara Belanda untuk pertahanan Pantai Selatan Pulau Jawa.

“Cilacap dipandang strategis untuk pendaratan dan pantainya terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Benteng ini juga menjadi tempat tahanan para pejuang Indonesia yang melawan Belanda,” tulisnya.

Setelah pernah direbut Jepang pada tahun 1942, pada akhir tahun 1945, Benteng Pendem kembali ke tangan tentara Hindia Belanda (KNIL) sampai tahun 1950. Sejak akhir 1952-1965, benteng ini dijadikan markas Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Jadi tempat wisata

Mulai 1965-1986, lokasi benteng tak terjamah, bergelut dengan cuaca dan musim. Hingga akhirnya pemerintah membangun dermaga kapal, kantor, dan tangki minyak untuk Pertamina dengan sebutan Area 70 yang memanfaatkan area Benteng Pendem.

Dimuat dari Kompas, pada 26 November 1986, seorang warga setempat bernama Adi Wardoyo mulai menggali dan menata lingkungan benteng dan dibuka untuk wisata sejak tahun 1987 hingga sekarang.

Berdasarkan dokumen peta Belanda, secara keseluruhan, luas area Benteng Pendem 10,5 hektare. Namun setelah digunakan untuk membangun fasilitas Pertamina, luas kawasan Benteng Pendem tinggal 6,5 hektare.

Misteri Bunga Widjojo Koesoemo, Tanaman Penobatan Para Raja Jawa

Bangunan fisik Benteng Pendem berbentuk segi lima (poligon). Benteng ini dikelilingi parit selebar 5 meter sedalam 2-3 meter. Fungsi parit yang pada zaman dulu sedalam 10 meter itu untuk melindungi benteng, menghambat laju musuh, patroli keliling, dan pembuangan air.

Benteng dengan denah dasar segi lima ini terdiri dari barak prajurit, terowongan, ruang-ruang yang digunakan untuk gudang amunisi, logistik, dan kesehatan, serta bungker-bungker yang digunakan untuk kepentingan Perang Dunia II.

Bangunan ini aslinya tersusun dari batu bata merah, tetapi sudah direhabilitasi dan kini lantainya sudah disemen. Hal yang unik, pintu gerbang utama pengunjung Benteng Pendem ini ternyata pada awalnya adalah bagian belakang bangunan.

Sedangkan bagian depan terletak di sisi utara yang dahulunya langsung menghadap laut. Gerbang tersebut saat ini berbatasan langsung dengan gedung milik Pertamina, sehingga tak kembali digunakan.

Jejak kekayaan

Benteng ini pernah dinobatkan sebagai salah satu benteng dengan peralatan tempur berat paling modern di Hindia Belanda pada awal abad 19, di sini dijumpai dari 11 landasan meriam dengan diameter 6,1 meter di bangunan paling atas yang menutupi bagian benteng.

Kini setelah dikelola menjadi obyek wisata, lokasi Benteng Pendem dilengkapi taman bermain. Juga tersedia wahana susur kanal sekeliling benteng dengan sepeda air. Wisatawan juga bisa beristirahat sejenak di tepi pantai.

“Mereguk air kelapa muda dan menyantap ikan bawal bakar di tepi Teluk Penyu sambil memandang laut lepas menjadi penyempurna kunjungan Anda dan keluarga. Jangan lupa mengabadikan aktivitas nelayan tradisional di pantai ini,” tulis Gregorius Magnus Finesso dalam Pesona Nusantara: Benteng Pendem Memendam Sejuta Keunikan.

Potensi Gempa 8,7 M dan Tsunami 10 Meter, Bagaimana Mitigasi di Pesisir Selatan Jawa?

Kepala Bidang Sarana dan Obyek Wisata Disbudpar Cilacap saat itu, Ety Helinah mengakui banyak pengunjung dan peneliti sejarah yang menanyakan sisa bangunan seluas 4 hektare yang masih tertimbun di bawah tanah.

“Salah satunya adalah terowongan penghubung bawah laut tersebut. Sayangnya, itu sulit dilakukan karena sudah tertutup kilang minyak Pertamina,” paparnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini