Filosofi Penjor, Simbol Suci yang Akan Hiasi Kemeriahan Bali Saat Gelaran KTT G20

Filosofi Penjor, Simbol Suci yang Akan Hiasi Kemeriahan Bali Saat Gelaran KTT G20
info gambar utama

Jika berkunjung ke Bali, akan ada satu pemandangan yang sudah sangat familiar dan identik sebagai ciri khas Pulau Dewata, yakni Penjor.

Berbentuk melengkung panjang, di pulau Jawa bentuknya memiliki kemiripan seperti janur kuning yang identik sebagai penanda acara pernikahan. Namun, di Bali nyatanya wujud simbol tersebut memiliki makna tersendiri dan dipandang sebagai hal yang suci.

Identik juga sebagai ciri khas yang sudah familiar bagi para wisatawan, penjor nyatanya juga akan menjadi salah satu bagian kebudayaan yang ditonjolkan dalam gelaran KTT G20 nanti.

Apa sebenarnya makna dan filosofi dari penjor, dan seperti apa persiapan yang akan dilakukan dalam pemasangannya menjelang puncak acara KTT G20? Berikut uraiannya.

Pinandita dan Tari Pendet, Dua Kebudayaan Tradisonal Bali yang Ikut Sukseskan KTT G20

Simbol kesucian gunung Agung

Penjor | Gekko Gallery/Shutterstock
info gambar

Dilihat dari wujudnya, penjor dibuat dari material batang bambu lengkap yang dihias dengan daun kelapa muda dan dibentuk secara khusus. Sekilas, wujudnya juga nampak menyerupai umbul-umbul yang kerap dipasang dalam suatu perayaan tertentu.

Biasanya, di Bali penjor dibuat setinggi 10 meter untuk menggambarkan sebuah gunung tertinggi. Umat Hindu di Bali percaya, bahwa gunung Agung merupakan berstananya Hyang Bathara Putra Jaya, beserta Dewa dan para leluhur.

Atau dalam makna lain, gunung Agung merupakan istana Tuhan dengan berbagai manifestasinya. Dari situ, penjor menjadi perlambang syukur dan ucapan terima kasih bagi masyatakat Hindu, atas hasil bumi yang dianugerahkam dan Gunung Agung sebagai pemberi kemakmuran itu.

Dalam lontar Jayakasunu, penjor melambangkan Gunung Agung. Sementara itu di lontar Basuki Stawa, disebutkan bahwa gunung (giri) adalah naga raja, yang tidak lain adalah Naga Basuki.

Naga Basuki dalam Basuki Stawa, dilukiskan bahwa ekornya berada di puncak gunung dan kepalanya di laut, yang merupakan simbol bahwa gunung adalah waduk penyimpanan air yang kemudian menjadi sungai dan akhirnya bermuara di laut.

Maka, makna dan filosofi penjor yang dihias sedemikian rupa untuk upacara keagamaan atau adat Hindu di Bali, merupakan simbol naga.

Jika dilihat secara seksama, ada bagian sanggah yang ditempatkan pada bambu penjor memakai pelepah kelapa. Bagian itu adalah simbol leher dan kepala Naga Taksaka. Lain itu ada juga gembrong yang dibuat dari janur yang dihias melingkar di dekat kelapa, bagian itulah yang menggambarkan rambut naga.

Terakhir, ada juga sampian penjor dengan porosannya--yang menggantung di ujung bambu paling atas. Berbentuk melengkung, bagian tersebut dibuat untuk menggambarkan ekor naga Basuki.

Biasanya, hiasan yang terpasang sepanjang bambu dari bawah hingga atas penjor terdiri dari gantung-gantungan padi, ketela, jagung, kain, dan sebagainya, yang menjadi simbol bulu Naga Ananta Bhoga sebagai tempat tumbuhnya sandang dan pangan.

Simbolisasi Penjor Sebagai Ornamen Utama Perayaan Galungan

Ribuan penjor untuk gelaran KTT G20

Proses pembuata
info gambar

Di sisi lain, kini penjor juga kerap menjadi bentuk ucapan terima kasih yang disampaikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena telah mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menolong umat manusia dari kelaparan dan bencana.

Karena itu, dalam konteks rasa syukur dan terima kasih itu Pemerintah Provinsi Bali nantinya akan memasang sebanyak 2.500 penjor di sepanjang jalan mulai dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, hingga lokasi pertemuan dan hotel yang akan ditempati para delegasi dan petinggi negara anggota G20.

Dari fungsinya secara umum, sebenarnya selama ini di Bali terdapat dua jenis penjor yaitu penjor yang dipasang berkaitan dengan upacara adat, seperti saat Hari Raya Galungan dan Kuningan, serta penjor pepenjoran.

Penjor pepenjoran itulah yang dapat dipasang kapan saja, dan tak harus berkaitan dengan upacara adat atau hari raya. Dan penjor ini yang akan disiapkan untuk menyambut para delegasi KTT G20.

Dalam pembuatannya, desain ribuan penjor untuk penyambutan delegasi KTT G20 diberikan ke desa adat yang paling istimewa, seperti yang sering dilombakan di daerah Kerobokan. Nantinya, penjor-penjor itu akan dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis madya atau menengah dan jenis utama.

Penjor berjenis madya dan menengah akan dipasang di jalan raya, sedangkan jenis utama akan dipasang di venue utama G20, yakni Hotel The Apurva Kempinski dan Kawasan Tahura Mangrove.

Dalam pembuatan sebanyak 2.500 penjor itu, Pemda disebut telah mempersiapkan anggaran hingga Rp3,5 miliar termasuk untuk pemasangannya. Selain sebagai sarana pengenalan budaya dan tradisi, manfaat dari perhelatan KTT G20 dalam hal pengadaan penjor diharapkan dapat menghidupkan ekonomi kreatif para pelaku seni, khususnya pembuat penjor di desa adat yang berhubungan.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, selaku Ketua Paruman Walaka PHDI Bali.

“Saya juga berharap, perhelatan KTT G20 ini memberikan manfaat pula terhadap Indonesia, terutama Bali, sebagai lokasi puncak acara. Semoga bisa memberikan dampak positif ke segala bidang bagi kita semua,” imbuhnya.

Menilik Efek Domino Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Bali Berkat KTT G20

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini