Misteri Sosok Bangsawan Pemilik Harta Karun yang Ditemukan di Desa Wonoboyo

Misteri Sosok Bangsawan Pemilik Harta Karun yang Ditemukan di Desa Wonoboyo
info gambar utama

Temuan harta karun emas di area persawahan milik warga Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten pernah menggemparkan bangsa Indonesia. Puluhan kilogram emas ditemukan di area persawahan, Oktober 1990 atau 32 tahun silam.

Menukil dari laman Grafico Art menyebut guci besar itu berisi tumpukan lebih dari 6.000 koin emas dan perak, serta sebanyak 1.000-an benda seremonial, termasuk mangkuk dan perhiasan.

Berdasarkan buku yang disusun tim penulis Museum Nasional Indonesia dalam Treasures of the National Museum Jakarta, timbunan emas ini menjadi penemuan terbesar objek emas di Indonesia.

Menjelajah Tjong A Fie Mansion: Akulturasi Arsitektur Tiongkok-Indonesia

Penemuan ini lantas menciptakan kehebohan di kalangan arkeologi yang memunculkan pertanyaan, apakah Wonoboyo pernah menjadi istana Jawa yang hilang dari Kerajaan Mataram Kuno?

Istana ini dipercaya berasal dari abad ke-9 dan ke-10 yang megah dalam sejarah Jawa Tengah, yang menandai menyatunya agama Hindu-Buddha, dan melahirkan candi-candi besar Borobudur dan Prambanan.

Tetapi meski ornamen harta karun Wonoboyo menyerupai kekayaan barok seni Prambanan, belum cukup bukti untuk menghubungkan dengan Keraton Mataram Kuno. Tetapi situs ini menunjukkan bahwa Wonoboyo merupakan tempat penting bahkan suci.

Raja yang memilih pensiun

Setelah dilakukan penelitian, terungkaplah bahwa harta karun itu merupakan peninggalan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada abad ke 9 Masehi. Diduga harta tersebut milik seorang raja yang pensiun.

Dimuat dari Solopos, berdasarkan mangkuk sedekah emas yang ditemukan di antara harta karun yang ditemukan, raja tersebut diperkirakan pensiun dari kehidupan duniawi lantas menjadi pendeta Hindu.

Selain itu keberadaan dua perangkat perhiasan yang ditata secara rumit dan dua perhiasan bercorak bunga teratai berlapis emas, serta ketiadaan pencitraan dewa-dewi atau peralatan upacara hal ini semakin memperkuat dugaan.

Mitos Air Suci Petirtaan Simbatan: Berkah Kesembuhan dan Kesejahteraan

“Bahwa harta karun Wonoboyo merupakan isi ruang harta seorang pangeran dari keluarga dekat raja masa kekuasaan Kerajaan Medang hingga Mataram Kuno di Jawa,” tulis Mariyana Ricky P.D dalam Harta Karun Wonoboyo Klaten, Milik Raja Pensiun yang Tinggal di Kampung.

Disebutkannya temuan yang paling indah adalah mangkuk yang bagian luarnya yang berlekuk enam, berhiaskan relief Ramayana yang menceritakan penculikan Dewi Sinta oleh Ramayana.

Relief-relief tersebut dibuat dengan teknik solder dan teknik tempa mengambil sistem tempa dari sisi dalam. Temuan emas tersebut juga menampilkan kesenian yang halus serta memamerkan keahlian teknik dan pencapaian estetika pandai emas Jawa Kuno.

Ditemukan juga tulisan Saragi Diah Bunga atau dalam bahasa Kawi, yang mungkin adalah nama pemiliknya. Temuan ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Balitung (899-911).

“Benda mewah seperti ini diduga miliki bangsawan atau anggota keluarga raja,” paparnya.

Tertimbun letusan Gunung Merapi

Bugie Kusumohartono dalam Situs Wonoboyo, Pemukiman Kuno pada Jenjang Mana? menjelaskan bahwa penemuan situs itu memunculkan spekulasi bahwa lokasi tersebut pernah menjadi titik penting kerajaan Mataram Kuno.

Hal itu didasarkan pada temuan serupa di Situs Trowulan yang menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Kendati begitu, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk membuktikan hipotesis tersebut.

Selain itu muncul juga fakta bahwa Situs Wonoboyo terletak di dataran aluvial kaki Gunung Api Merapi, hal inilah yang menyebabkan tanahnya subur, mudah memperoleh air, mudah juga memperoleh bahan bangunan, sehingga sangat cocok untuk bermukim dan bertani.

Kemegahan Petirtaan Simbatan: Jejak Dewi Sri Berikan Kesuburan untuk Magetan

Berdasarkan struktur geologinya, Situs Wonoboyo yang terletak di kaki Gunung Merapi merupakan kawasan yang rawan terhadap gempa bumi. Sebab situs ini terletak di antara sesar melintang yang arahnya Utara-Selatan dan sesar membujur yang arahnya barat-timur.

Terakhir, situs Wonoboyo terletak di sekitar daerah bahaya II Gunung Merapi, sehingga kawasan ini rentan terhadap bencana aliran lahar, seperti yang terbukti dengan tertimbunnya situs ini oleh endapan lahar hasil letusan Gunung Merapi pada abad 8-10.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini