Nasi Koyor, Kuliner Lezat Legendaris dari Semarang

Nasi Koyor, Kuliner Lezat Legendaris dari Semarang
info gambar utama

Kota Semarang kaya akan kuliner yang enak-enak. Selain itu, makanan khas Semarang ini juga memiliki cita rasa tersendiri yang berbeda dengan masakan-masakan khas Yogyakarta dan Surakarta yang cenderung manis.

Meskipun cita rasa manis ini ibaratnya masih menjadi ‘dasar’ untuk masakan-masakan khas Semarang, namun manis yang dimiliki berbeda. Yang mana, rasanya cenderung tidak terlalu dominan dan balance dengan rasa asin-gurih. Rempah-rempah yang digunakan juga punya takaran dan bahan yang sedikit berbeda.

Bicara soal makanan di kota ini, sebenarnya tidak hanya lumpia saja yang wajib dicoba. Satu kuliner yang juga tak bisa dilewatkan adalah Sego Koyor atau Nasi Koyor.

Dari melihat tampilannya pada gambar di atas saja sudah menggoda kan? Supaya tidak makin penasarran, yuk berkenalan lebih jauh dengan santapan lezat ini.

10 Spot Foto Estetik Di Kota Lama Semarang

Makanan legendaris

Oleh kalangan orang-orang yang sudah lama tinggal di Kota Semarang, makanan ini mungkin sudah bukan hal yang asing lagi bagi mereka. Namun bagi para perantau atau wisatawan, mungkin nama nasi koyor masih belum terlalu familiar. Pamornya masih kalah dengan lumpia maupun tahu gimbal.

Namun, belakangan kuliner ini mulai naik daun kembali dengan banyaknya para food vlogger yang membuat konten terkait makanan ini.

Bagi yang belum tahu, koyor sendiri merupakan otot atau urat sapi yang menempel pada tulang. Di Jawa Tengah, khususnya daerah Semarang, bagian ini kerap diolah menjadi berbagai kuliner lezat, termasuk untuk nasi koyor.

Ada beberapa tempat yang bisa dijadikan pilihan bila ingin menyantap makanan ini. Namun, satu rekomendasi tempat yang legendaris adalah warung Nasi Koyor Kota Lama. Tempat ini sudah berdiri sejak tahun 1955 dan sudah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan pecinta kuliner. Lebih spesifiknya, lokasi warung nasi ini berada di sebelah gedung Marba, Kota Lama Semarang.

Beberapa Ratus Tahun Lalu, Sebagian Kota Semarang adalah Lautan

Rasa nikmat, isian melimpah, porsi mantap

Isian dari nasi koyor ini pada umumnya terdiri atas nasi, koyor, sayur-sayuran (biasanya nangka muda, buncis, kacang panjang, atau labu siam), kering tempe, tahu, sambal, serta telur bila menginginkan lauk tambahan, tergantung dari tempat makannya. Tak lupa, disiram dengan kuah rempah yang lezat dan menjadi sebuah pelengkap utama dalam kelezatannya.

Saat hendak menyantapnya, aroma harum yang menggugah selera langsung tercium seketika. Bagi yang belum pernah menyantap koyor, ketika melihat dan memotongnya mungkin akan langsung teringat dengan kikil. Hanya saja, koyor ini memiliki ukuran yang lebih besar.

Mulai suapan pertama, tekstur kenyal nan lezat dari koyor dengan rasa gurih yang pas dari kuahnya akan terasa di lidah. Bumbunya terasa kuat, mulai dari segi rasa koyor, kuah, maupun lauk pelengkap lainnya. Kenikmatan ini juga semakin terasa ketika nasinya sudah tercampur dengan sambal.

Secara keseluruhan, rasa manis, asin, dan gurih menyatu dengan sempurna dari makanan ini. Apalagi dengan porsinya yang pas, koyor yang besar, serta lauk isian yang tidak pelit.

Yulianti selaku pengelola generasi kedua dari Nasi Koyor Kota Lama menyebutkan bila kunci kenikmatan dari makanan ini adalah resep turunan khas keluarga. Selain itu, pembuatannya juga masih menggunakan cara tradisional dengan arang. Bila pengolahannya baik, maka koyor ini akan terasa kenyal dan empuk dengan bumbu yang terasa meresap.

Meskipun tempatnya sederhana, banyak orang-orang dari luar kota yang tertarik untuk mencoba nasi koyor di sini. Tak jarang, ada pula kalangan pejabat yang mampir makan siang.

Selain di Nasi Koyor Kota Lama, ada pula tempat rekomendasi lain yang bisa jadi alternatif yang tak kalah enak, misalnya Nasi Koyor Mak Mi yang ada di daerah Bulustalan. Kalau ke Semarang, pastikan untuk mencicipinya ya!

Bubur India, Seabad Tradisi Kuliner Berbuka Masyarakat Pekojan Semarang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini