Deretan Pahlawan Nasional Indonesia dari Kalangan Jurnalis

Deretan Pahlawan Nasional Indonesia dari Kalangan Jurnalis
info gambar utama

Indonesia punya sederet pahlawan nasional yang berasal dari kalangan jurnalis. Siapa saja mereka?

Berjuang tidak harus selalu dengan senjata. Berjuang juga tidak harus selalu dengan menjadi tentara. Berjuang demi negara bisa dilakukan dengan berbagai macam cara.

Salah satunya adalah dengan menjadi jurnalis. Sejarah mencatat bahwa jurnalis turut berperan penting dalam perjuangan Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Buktinya, beberapa jurnalis ada yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Bisa dibilang, para jurnalis tersebut berjuangan untuk Indonesia lewat pena dan karya-karya yang mereka hasilkan.

Siapa saja mereka? Untuk mengetahuinya, GNFI menyajikan profil singkat 5 jurnalis yang menjadi pahlawan nasional Indonesia.

5 Film Ini Angkat Kisah Perjuangan Para Perempuan Tangguh di Indonesia

1. Muhammad Yamin

Muhammad Yamin lahir di Talawi, Sumatra Barat pada tanggal 23 Agustus 1903. Ia adalah sosok yang dikenal karena berbagai peran. Ia dikenal sebagai sastrawan, politisi, pakar hukum, serta pengamat sejarah.

Hidup Yamin banyak dihabiskan di jalan politik. Ia bahkan sudah bersinggungan dengan dunia politik sejak muda. Yamin tercatat pernah menjadi Ketua Jong Sumatra Bond dan Ketua Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota Partindo dan angggota Volksraad alias dewan rakyat. Jelang kemerdekaan, ia pun turut serta menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, Panitia Persiapan Kemerdekaan, dan penyusun UUD 1945, serta Piagam Jakarta.

Meski dikenal karena kiprah politiknya, Yamin sebetulnya juga terjun di dunia jurnalistik. Buktinya, ia pernah menjadi awak redaksi sejumlah media massa.

Beberapa surat kabar yang menjadi tempat Yamin berkecimpung di dunia jurnalistik adalah Panorama dan Kebangoenan. Ensiklopedia Sastra Indonesia milik Kemendikbudristek mencatat bahwa Yamin pernah menjabat sebagai Dewan Pengawas LKBN Antara pada 1961 hingga 1962.

2. Adam Malik

Sosok Adam Malik dikenal sebagai politikus yang pernah mengemban beberapa jabatan, di antaranya wakil presiden, ketua parlemen, dan menteri luar negeri. Ia juga pernah menjadi Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa.

Adam Malik lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, pada 22 Juli 1917. Meski namanya kondang sebagai politikus, ia juga punya rekam jejak karier sebagai jurnalis. Profesi jurnalis bahkan sudah digelutinya lebih dulu sebelum terjun ke dunia politik.

Di kancah jurnalistik, Adam Malik pernah bekerja bagi sejumlah media massa, di antaranya surat kabar Pelita Andalas dan Majalah Partindo. Ia juga tercatat sebagai sosok yang berperan penting dalam pendirian Kantor Berita
Antara.

Adam Malik merupakan salah satu pelopor berdirinya Kantor Berita Antara. Namanya bersanding bersama tokoh pendiri lain yang terdiri dari Soemanang , Albert Manoempak Sipahoetar, Armijn Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna.

Nama Adam Malik punya posisi spesial di dunia jurnalistik Indonesia. Namanya diambil menjadi nama penghargaan bagi para jurnalis yang berpartisipasi aktif dalam memberitakan politik luar negeri Indonesia secara akurat dan berimbang. Penghargaan tersebut bernama Adam Malik Awards dan diberikan oleh Kementerian Luar Negeri RI.

Keberanian Emmy Saelan, Perawat yang Meledakkan Dirinya Demi Lawan Sekutu

3. Ernest Douwes Dekker

Ernest Douwes Dekker adalah orang keturunan Belanda yang menghabiskan umurnya di Hindia Belanda. Kendati berasal dari keluarga berdarah Eropa dan lahir dari keluarga berkecukupan, jalan hidup membawanya menghabiskan usia di Hindia Belanda hingga negara Indonesia berdiri dan menaruh perhatian terhadap kehidupan rakyat jelata di sana.

Ernest awalnya bekerja sebagai pegawai perkebunan. Selama bekerja, ia melihat perilaku sewenang-wenang yang dialami pekerja dan menaruh simpati terhadap mereka. Ia juga pernah berperang di Afrika Selatan dan dipenjara di Sri Lanka hingga semakin banyak melihat perlakuan kejam pemerintah kolonial.

Ernest kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1902. Sempat bekerja di perusahaan pengiriman, ia lalu terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi reporter surat kabar De Locomotief di Semarang. Setelah itu, ia juga bekerja di Bataviaasch Nieuwsblad.

Menjadi jurnalis membuatnya semakin peka terhadap nasib warga tanah jajahan dan kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Berikutnya, ia kemudian aktif di pergerakan nasional bersama beberapa organisasi mulai dari Budi Utomo hingga Indische Partij.

4. Tirto Adhi Suryo

Tirto Adhi Suryo bisa dibilang adalah bapak pers Indonesia. Namanya dikenang sebagai tokoh kebangkitan nasional Indonesia sekaligus perintis persuratkabaran dan pers Indonesia.

Tirto Adhi Suryo lahir di Blora, Jawa Tengah pada tahun 1880. Selain menjadi jurnalis, ia aktif dalam pergerakan nasional bersama beberapa organisasi seperti Sarekat Islam dan Budi Utomo.

Sebagai jurnalis, ia pernah menjadi awal redaksi surat kabar seperti Bintang Betawi dan Soeloeh Keadilan. Karya terbesarnya adalah mendirikan sejumlah surat kabar mulai sari Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Putri Hindia (1908).

Pada masanya, Medan Prijaji adalah surat kabar yang paling menonjol. Sebab, Medan Prijaji merupakan surat kabar nasional pertama yang menyajikan berita dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, seluruh karyawan dan awak redaksinya adalah orang pribumi Indonesia asli.

Karena berita dan tulisan karyanya dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda, Tirto pernah dibuang ke Pulau Bacan yang terletak di dekat Halmahera, Maluku Utara.

Mengenal Empat Sosok yang Baru Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

5. Rohana Kudus

Rohana Kudus adalah figur yang berbeda dan punya keistimewaan tersendiri di antara deretan jurnalis peraih penghargaan pahlawan nasional lain. Sebab, ia adalah perempuan dan tercatat sebagai wartawati pertama Indonesia.

Rohana adalah sosok yang sangat perhatian dengan pendidikan bagi perempuan. Ia terbiasa mengajarkan berbaga hal kepada para perempuan, mulai dari membuat aneka hasil keterampilan hingga membaca Al-Quran. Ia juga mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia.

Rohana adalah orang yang pandai menulis. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kemudian Rohana melanjutkan perjuangannya untuk mendidik kaum perempuan dengan cara terjun ke dunia jurnalistik.

Rohana berperan besar dalam berdirinya Soenting Melajoe, surat kabar yang berfokus kepada isu-isu seputar perempuan pada 1912. Sejarah mencatat bahwa Soenting Melajoe merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang memiliki pemimpin redaksi, redaktur, dan penulis dari kalangan perempuan.

Kiprah Rohana di Soenting Melajoe berlangsung hingga tahun 1921. Pada tahun tersebut, ia mengundurkan diri dan posisinya sebagai pimpinan. Setelah itu, Retna Tenoen pun masuk sebagai editor baru.

Mengenal Sosok K.H. Ahmad Sanusi, Ulama Pahlawan Nasional dari Tanah Sukabumi



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini