Candi-Candi Lereng Gunung Argopuro Simpan Sejarah Kota Probolinggo

Candi-Candi Lereng Gunung Argopuro Simpan Sejarah Kota Probolinggo
info gambar utama

Berkunjung ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, belum lengkap bila tidak menelusuri lereng Gunung Argopuro. Di sini tersebar peninggalan sejarah Majapahit pada abad ke 14, termasuk di antaranya Candi Kedaton.

Meski begitu, keelokan candi yang disebut Candi itu tidak turut hilang. Hampir di tiga sisinya terdapat cerita relief yang menyimpan misteri masa lalu, yaitu kisah Arjunawiwaha di sisi barat, Garudeya di sisi selatan, dan Bhomantaka di sisi timur.

“Keberadaan candi ini menjadi salah satu penanda penting kawasan di lereng Argopuro ini. Darah sini dahulu bisa dibilang merupakan kawasan pertapaan atau karesian dan bisa jadi juga merupakan suatu kawasan otonom kecil yang keberadaannya diperhitungkan oleh penguasa Majapahit,” tutur sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono yang dimuat Kompas.

Sejarah Tersembunyi Landasan Pesawat Cikasur-Argopuro

Disebutkan oleh Dwi, pada zamannya, daerah tersebut diduga menjadi aktivitas masyarakat Hindu, khususnya sekte Syiwa. Perkembangan agama Hindu sekte Syiwa ditunjukkan pada relief batur Candi Kedaton yang menggambarkan kisah Arjunawiwaha.

Di mana seorang pertapa telanjang bertemu dengan Arjuna. Ini dipercaya merupakan salah satu budaya ekstrem Hindu Syiwa kalai itu, di mana untuk bertemu dewata harus melakukan tindakan ekstrem seperti telanjang atau menyerahkan bagian tubuhnya.

Pusat peradaban

Di seberang Candi Kedaton, melewati Sungai Tekong (berjarak lebih kuang 1 kilometer) pernah ditemukan Arca Bima dengan ketinggian lebih dari dua meter. Kini, arca tersebut disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto.

Menurut Dwi Cahyono, lingga besar seperti itu biasanya berada di pusat kota atau pemerintahan. Lingga merupakan sumber kekuatan magis atau kerajaan. Karena itu didiga dahulu kawasan Tiris dan sekitarnya merupakan pusat peradaban Probolinggo.

“Bukan saja karena adanya Candi Kedaton dan arca Bima besar, melainkan di daerah sepanjang lereng Argopuro ini banyak ditemukan punden berundak sebagai salah satu peninggalan zaman megalitik,” paparnya.

Aplikasi Karya Surabaya Jadi Solusi Membangun Warga Kota yang Lebih Aman dan Kolaboratif

Bahkan menurut Dwi, ramainya peninggalan sejarah di kawasan Tiris dan sekitarnya dimungkinkan menjadi latar belakang penamaan Probolinggo. nama Probolinggo diduga berasal dari kata prabha (sinar) dan lingga (dewi).

“Orang setempat mengartikan Probolinggo sebagai tempat yang bersinar,” jelasnya.

Kota penting

Turun dari wilayah pegunungan dengan ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), melewati jalan berkelok ke arah utara lebih kurang 22 kilometer, wisatawan akan sampai di wilayah pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di daerah Pajarakan.

Pajarakan pernah menjadi kota penting pada masa Majapahit. Dalam Pararaton dan Kidung Sorandaka, wilayah ini disebut sebagai benteng Mpu Nambi (Patih Amangkubhumi pertama Majapahit era Jayanegara).

Benteng ini pula yang pada tahun 1316 Masehi dihancurleburkan oleh Majapahit karena Nambi dinilai memberontak terhadap Majapahit. Sayangnya, sisa benteng Pajarakan ini hingga kini belum ditemukan.

Warga Probolinggo Lakukan Tarung Ojung Sabet Rotan, Tradisi Meminta Hujan

Ke timur lebih kurang 5 kilometer, terdapat Candi Jabung. Candi ini juga merupakan salah satu penanda penting era Majapahit. Candi yang terletak di Desa Jabungcandi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo ini menjadi tempat singgah Hayam Wuruk pada tahun 1359.

“Singgahnya Hayam Wuruk oleh sebagian orang juga dianggap menjadi dasar penamaan Probolinggo, yaitu berasal dari kata prabu (raja) dan linggih (duduh atau berada).

Candi Jabung dibuat dari bata merah. Ukuran panjang candi 13,11 meter dan lebar 9,58 meter serta tinggi 15,58 meter. Candi berdiri pada lahan 35 x 40 meter dan setelah pemugaran lahannya diperluas menjadi 20.042 meter persegi.

Candi ini dalam Kitab Negarakertagama pupuh XXXI menjadi salah satu persinggahan Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan ke timur. Rute Pajarakan-Jabung-Bremi-Tiris sampai Lumajang merupakan rute Hayam Wuruk kala itu.

“Diduga, inilah rute zaman klasik di wilayah yang kini disebut Probolinggo,” ucapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini