Menikmati Pedasnya Cabai Sambil Mengendalikan Inflasi ala Kalbar

Menikmati Pedasnya Cabai Sambil Mengendalikan Inflasi ala Kalbar
info gambar utama

Kalimantan Barat tidak main-main dalam mengembangkan cabai sebagai komoditas pertanian. Lewat menanam cabai, Kalbar berusaha mengendalikan inflasi.

Kalimantan Barat kini tengah menggencarkan penanaman cabai. Tujuannya adalah untuk mengendalikan inflasi pangan sebagai wujud nyata dari dukungan terhadap Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.

Untuk itu, Pemprov Kalbar menggelontorkan dana untuk menggencarkan penanaman cabai. Di kota maupun desa, berbagai aksi dilakukan, misalnya dengan memberi bantuan benih cabai. Selain itu, ada pula pengembangan lahan cabai di sejumlah lokasi.

"Untuk Kabupaten Sambas terdapat pengembangan kluster cabai seluas empat hektare dan bantuan yang diberikan berupa benih cabai dan saprodi seperti mulsa, pupuk NPK dan dolomit. Sedangkan melalui APBD perubahan, terdapat alokasi benih cabai untuk penanaman seluas 11 hektare di Kabupaten Sanggau," ujar Kepala Bidang Tanaman Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Bader Samsara seperti dilansir Antara.

Seperti yang dijelaskan Bader, dana APBD digunakan untuk memberi bantuan benih. Sementara itu, pengembangan lahan pertanian cabai dilakukan dengan memanfaatkan APBN. Saat ini, lahan yang dikembangkan lokasi tersebar di tujuh kabupaten atau kota dengan total luas 70 hektare.

"Jadi masing-masing kabupaten atau kota di Kalbar ada seluas 10 hektare. Kabupaten atau kota dimaksud adalah Kapuas Hulu, Ketapang, Kayong Utara, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, dan Kota Singkawang," lanjut Bader.

Bukan tanpa alasan gerakan menanam cabai digaungkan pada bulan Oktober dan November. Sebab, cabai yang ditanam sekarang adalah langkah antisipasi terhadap inflasi pada momen Natal dan tahun baru mendatang. Tingkat inflasi di Kalbar sendiri pada Oktober 2022 hanya 0,07 persen.

Bukan Rawit, Ini 5 Cabai Terpedas di Indonesia

Cabai Penyumbang Inflasi

Langkah yang ditempuh Kalbar bisa dipahami berhubung cabai memang bisa menjadi komoditas yang menyumbang angka inflasi. Hal ini pernah disampaikan oleh pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Wahyu Ario Pratomo.

Menurut Wahyu, produksi cabai yang tidak mencukupi kebutuhan masyarakat bisa memicu inflasi. Adapun anjloknya produksi cabai bisa disebabkan berbagai hal, salah satu penyebab yang paling lazim adalah cuaca yang tidak mendukung.

Cuaca yang buruk untuk menanam cabai merah dan rawit akhirnya menimbulkan juga persoalan biaya produksi pertanian meningkat. Produksi cabai jadi kurang, inflasi datang,” kata Wahyu seperti dicatat laman resmi Kementerian Pertanian.

Inflasi dengan cabai sebagai salah satu pemicunya pernah terjadi pada Agustus 2019 lalu. Saat itu, BPS mencatat bahwa cabai merah menyumbang inflasi 0,01 persen. Sementara itu, cabai rawit menyumbang inflasi 0,07 persen.

Berkat Orang Spanyol, Tanaman Cabai Membakar Masakan Minahasa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

AR
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini