Lintasan Trem Kuno Zaman Belanda Ditemukan di Tengah Pembangunan MRT Glodok

Lintasan Trem Kuno Zaman Belanda Ditemukan di Tengah Pembangunan MRT Glodok
info gambar utama

PT Moda Raya Terpadu (MRT) kembali menemukan jalur trem zaman kolonial Belanda saat melakukan proyek MRT Fase 2 di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Penemuan trem itu diduga jadi kepanjangan dari rel trem yang sudah ditemukan MRT tahun lalu.

Pada tahun lalu juga ditemukan rel trem di tengah pembangunan proyek MRT Jakarta Fase 2A paket kontrak atau CP 203 Glodok-Kota yang menyita perhatian publik. Apalagi, jalur trem tersebut sudah ada sejak zaman Belanda atau sekitar tahun 1869.

“Itu memang semuanya lanjutan dari itu kan dari Harmoni sampai ke Kota. Terusnya dari Kota balik lagi. Tetapi kan itu bisa saja bukan dari Harmoni saja, mungkin juga dari jalur-jalur lain. Saling sambung-menyambung,” ujar Arkeolog Chandiran Attahiyat yang dimuat Jawapos.

Misteri Kawasan Situs Wonoboyo, Benarkah Merupakan Permukiman Bangsawan Jawa?

Dirinya mengatakan bahwa MRT memang belakangan sering menemukan rel trem sejak zaman tahun 1990 an. Oleh karena itu, selama proyek MRT tetap berjalan sesuai rencana, penemuan rel trem itu bisa saja terjadi lagi di kemudian hari.

“Ya selama lokasi yang di jalur sekarang dan sesuai dengan perencanaan jalur MRT itu udah pasti ditemukan,” ucapnya.

Diperlakukan sebagai cagar budaya

Dirinya menegaskan bahwa rel trem yang ditemukan tersebut sudah seharusnya dilakukan sebagai cagar budaya. Dengan begitu, MRT harus segera mengamankan penemuan rel tersebut melalui perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD).

“Itu diamankan, emang jalur jalur itu apabila memang yang terkena dengan stasiun itu akan dibongkar, tetapi yang tidak terkena dengan stasiunnya tidak dibongkar. Jadi apabila itu memang di stasiun pasti dibongkar dan rel rel itu akan disimpan di PPD,” terangnya.

Sementara itu, melalui akun Instagram resminya, MRT menyebutkan bahwa proses pengangkatan rel trem tersebut sudah dimulai. Nantinya cagar budaya itu akan ditempatkan sementara di storage pool di PPD Jelambar.

Misteri Sosok Bangsawan Pemilik Harta Karun yang Ditemukan di Desa Wonoboyo

“Saat ini juga dalam tahap persiapan untuk pengangkatan rel trem yang berada di lokasi pekerjaan CP 202. Nantinya akan ditempatkan sementara di storage pool PPD Jelambar,” tulis akun @mrtjkt.

Lokasi penemuan rel trem pun ditutup oleh seng di kedua sisi. Jadi pengendara motor tak bisa melihat temuan itu. Kondisi rel trem pun masih utuh dan tak lapuk. Petugas tampak mengangkat bebatuan yang menimbun rel trem.

MRT koordinasi dengan Disbud DKI

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Kebudayaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Norviadi Setio berbicara mengenai temuan trem di proyek MRT. Sejauh ini, tim dari MRT telah berkonsultasi dengan Disbud DKI terkait temuan ini.

“Untuk secara umum, tim dari pihak MRT sudah berkoordinasi dan berkonsultasi intens dengan Disbud,” kata Norviadi yang diwartakan Detik.

Kepala Disparbud DKI Jakarta, Iwan Hendri mengatakan PT MRT Jakarta berusaha merelokasi dan menyelamatkan jalur trem yang terkubur. Hal itu merupakan upaya untuk mengembalikan peradaban masa lampau.

Cerita Wonoboyo, Desa Penemu Harta Karun Terbesar di Indonesia

Apalagi MRT sedang berupaya membangun transportasi pada masa kini. Pun trem yang ditemukan juga dalam kondisi baik. Dia pun menjelaskan, trem tersebut menjadi bukti kekayaan sejarah Jakarta pada masa lampu.

Menurutnya, upaya PT MRT Jakarta untuk menyelamatkan jalur trem dengan banyak sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Di mana setiap pihak wajib melaporkan bila menemukan cagar budaya.

Dengan adanya itikad baik dari PT MRT Jakarta, katanya, Disparbud DKI terus melakukan koordinasi secara berkala. Khususnya menyoal temuan atau ekskavasi dari temuan yang diduga jalur kereta tertua di Indonesia itu.

“Sekarang kita belajar, besok jadi pariwisata atau lainnya,” ucap Iwan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini