Produktif yang Berujung Pada Stres? Awas Burnout!

Produktif yang Berujung Pada Stres? Awas Burnout!
info gambar utama

Kehidupan seorang remaja seringkali dianggap sebelah mata. Orang tua bilang itu belum seberapa. Masih ada tantangan yang lebih berat menanti Kawan di depan sana. Alhasil, banyak ditemui remaja yang berusaha untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, tetapi berujung pada stres.

Mengikuti banyak kegiatan guna menambah pengalaman bagi diri sendiri adalah sesuatu yang baik dan memang sudah seharusnya dilakukan. Justru, kalau Kawan tak memanfaatkannya dengan kegiatan-kegiatan diluar sekolah akan berujung pada penyesalan di akhir.

Satu hal yang perlu diingat dan dipahami bahwasannya tindakan tersebut akan menjadi salah jikalau Kawan melakukannya secara berlebihan. Berlebihan disini artinya Kawan telah melampaui batas untuk melakukannya.

Bisa jadi karena pengaruh eksternal melalui social media, misalnya yang saat ini banyak ditemukan influencer yang memikat hati anak millennial. Biasanya akan ditampilkan bagaimana pencapaian mereka dalam hal akademik maupun non akademik.

Hal ini jadi pemicu untuk Kawan melakukan sesuatu diluar batas kemampuannya sendiri karena berdalih ingin mengikuti tokoh atau idola kegemarannya. Misalkan, artist yang Kawan sukai ketika masuk pada semester awal kuliah sudah mampu bekerja di dua perusahaan.

Kawan pun terdorong untuk mengikutinya, tetapi yang tak disadari Kawan justru lebih pada memaksakan diri yang membuat tubuh menjadi cepat merasa lelah dan berujung peningkatan stres. Kondisi ini dinamakan burnout syndrome.

Burnout syndrome adalah kondisi di mana tubuh secara fisik dan emosional mengalami kelelahan yang berarti akibat menghadapi banyak pekerjaan atau tugas. Kondisi ini cenderung disadari ketika betul-betul merasakan efek negatifnya, yaitu produktivitas menurun.

Kawan akan mudah merasakan marah, putus asa, dan semacamnya. Bahkan, dapat berujung pada depresi. Tentu jika dibiarkan berlarut-larut, maka penyakit fisik turut rentan mengenai Kawan. Sebelum mencari tahu bagaimana cara mengatasinya, Kawan harus tahu apa-apa saja gejala dari burnout, diantaranya nyeri otot, sakit kepala, gangguan tidur, tidak nafsu makan, masalah pencernaan, dan rentan sakit.
Berikut cara-cara yang dapat Kawan lakukan untuk mengatasi burnout syndrome.

  1. Istirahat Sejenak
    Tak ada yang salah dengan menjadi seseorang yang produktif. Namun, alangkah baiknya Kawan memahami bagaimana kondisi tubuh sendiri. Ketika sudah berhasil menyelesaikan beberapa tugas wajib, selanjutnya istirahatlah. Tak perlu kembali memaksakan tubuh ketika sudah merasa tak mampu lagi.
  2. Membuat Planning/Target
    Jadwal Kawan yang produktif pasti padat, ya? Tak masalah, buatlah target rencana untuk seminggu Kawan ingin menyelesaikan tugas yang mana. Tetap pastikan planning yang dibuat disesuaikan oleh kemampuan sendiri sehingga dapat maksimal untuk menyelesaikannya.
  3. Hangout Bersama Keluarga dan Teman
    Jika sudah merasa begitu stres, maka jangan tunggu apa-apa lagi coba untuk mengesampingkan tugas-tugas sejenak untuk merefreshkan pikiran dengan pergi ke tempat yang disuka bersama keluarga atau teman atau kalau Kawan ingin me time juga tak masalah, yang terpenting lakukan kegiatan lagi guna meredam segala kesuntukan itu.
  4. Tidur yang Cukup
    Poin terakhir ini kerap disepelekan oleh si produktif, padahal tidur yang cukup dengan waktu kurang lebih delapan jam akan membantu membangkitkan stamina tubuh. Tidak jika Kawan cenderung gemar begadang dan melewatkan waktu tidur, maka keesokan harinya akan cepat merasa lelah sehingga produktivitas ikut menurun.

Itu dia cara-cara yang dapat Kawan ikuti guna makin membuat aktivitas produktif Kawan betul-betul menjadi produktif yang menimbulkan pengalaman dan pengembangan diri serta produktif yang sehat.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini