Sejumlah Kain Indonesia Dijadikan Suvenir KTT G20, Apa Saja?

Sejumlah Kain Indonesia Dijadikan Suvenir KTT G20, Apa Saja?
info gambar utama

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Nusa Dua, Bali telah selesai digelar. Kendati begitu, masih banyak sederet fakta unik yang perlu Kawan tahu mengenai megahnya pertemuan tokoh-tokoh penting dari negara dengan ekonomi paling berpengaruh di dunia ini. Salah satu hal unik dari KTT G20 Bali adalah suvenir yang diberikan kepada para delegasi.

Sebagai tuan rumah, Indonesia menyiapkan berbagai hal dengan matang dan detail. tidak terkecuali soal buah tangan atau cendera mata. Mengutip Kementerian Sekretariat Negara, Indonesia menyiapkan cendera mata resmi yang diharapkan dapat memberi kesan yang berarti bagi para delegasi KTT G20 tahun ini.

Tidak tanggung-tanggung, pemerintah Indonesia menyediakan berbagai jenis suvenir, mulai dari kerajinan tangan hingga pakaian yang terbuat dari kain khas Indonesia. Lantas, apa sajakah kain Indonesia yang dijadikan suvenir KTT G20? Simak ulasannya berikut ini.

Pemuda di Subang Sulap Limbah Daun Nanas Jadi Serat Kain yang Tembus Pasar Mancanegara

Batik Tiga Negeri

Dikenal sejak abad ke-19, batik tiga negeri merupakan kain nusantara khas Jawa Tengah. Batik ini memiliki ciri khas dari warna merah, biru, dan cokelat soga yang diketahui merupakan simbolisasi dari sejarah Indonesia. Uniknya, batik tiga negeri dibuat dengan proses pewarnaan yang rumit.

Mengutip Jalur Rempah Kemdikbud, batik ini diwarnai di tiga kota yang berbeda. Pewarnaan pertama dilakukan di Lasem untuk mendapatkan warna merah. Selanjutnya, kain dibawa ke Pekalongan guna diberi warna biru. Pewarnaan berlanjut ke Solo, di sini kain batik diwarnai cokelat soga (cokelat kekuningan).

Referensi lain mengatakan, anggapan pewarnaan batik tiga negeri dilangsungkan di tiga kota ini tidak sepenuhnya benar. Dinukil dari Kompas.com, pewarnaan batik ini dapat dilakukan di masing-masing rumah produksi. Hanya saja, proses pembuatan sampai akhirnya dipasarkan memang terbilang lama, yakni lebih kurang tiga hingga enam bulan.

Tenun Catri

Jika Kawan menyaksikan jamuan makan malam para delegasi KTT G20 di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, ada satu hal yang menarik perhatian. Pasalnya, tampak para delegasi mengenakan pakaian yang terbuat dari kain khas Indonesia. Busana tersebut merupakan kreasi dari kain tenun catri.

Tenun catri merupakan hasil inovasi I Putu Agus Aksara Diantika, putra asli Bali dan pemilik Dian’s Rumah Songket & Endek. Ciri khas tenun catri terletak pada warnanya yang beragam. Warna-warna tersebut, jelas Agus kepada CNN Indonesia, terinspirasi dari corak nusantara.

Sejatinya, tenun catri merupakan inovasi lain dari tenun ikat. Umumnya, tenun ikat dibuat menggunakan benang pakan atau horizontal, tetapi tenun catri dibuat menggunakan benang lungsi. Sementara itu, motif tenun catri terinspirasi dari flora dan motif geometris Indonesia yang kemudian dilukis menggunakan air brush.

Mengenal Ragam Kain Tenun Khas Nusantara

Batik Mangrove

Bermula dari kepedulian terhadap konservasi hutan mangrove, Lulut Sri Yuliani mulai memperkenalkan inovasinya dalam batik mangrove. Memakai pewarna yang terbuat dari limbah hutan bakau, menjadikan batik mangrove sebagai batik ikon lingkungan di Indonesia.

Kehadiran batik yang dibuat dengan teknik batik tulis ini merupakan upaya dalam mengampanyekan peduli hutan mangrove yang sering dirusak. Dikutip dari Mongabay, hasil penjualan batik mangrove yang dikembangkan Lulut digunakan untuk konservasi lingkungan.

Mangrove atau yang bernama latin Rhizophora dikenal sebagai tumbuhan yang kaya akan manfaat. Tidak hanya daun, nyaris semua bagian dari berbagai jenis mangrove bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Salah satunya adalah pemanfaatan limbah mangrove yang dijadikan sebagai bahan pewarna pada produksi batik mangrove.

Tenun Gringsing

Jenis kain nusantara lainnya yang dijadikan suvenir KTT G20 adalah tenun gringsing. Kain tenun ini berasal dari Desa Adat Tenganan, Karangasem, Bali. Keindahan dan keunikan proses pembuatannya menjadikan tenun gringsing sebagai salah satu kain khas Pulau Dewata.

Tenun gringsing dibuat dengan cara manual. Para penenun memasukkan dan menyusun setiap helai menang satu per satu menggunakan alat tenun tradisional dan kepiawaian tangannya. Benang ditenun sedemikian rupa sampai membentuk sehelai kain.

Oleh warga Desa Tenganan, kain tenun gringsing dianggap sakral. Bagaimana tidak, pembuatannya saja diawali dengan ritual adat. Ini bertujuan agar pengerjaan tenun gringsing bisa berjalan lancar. Selain itu, tenun gringsing juga dibuat dengan proses pembuatan tersendiri, bukan menggunakan teknik ikat ganda.

Keindahan Kain Tenun Gringsing yang Dipercaya Sebagai Penolak Bala

Selain mewadahi jalannya konferensi, Indonesia juga memanfaatkan KTT G20 Bali sebagai momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya. Hal tersebut terlihat dari berbagai ornamen atau karya seni lainnya yang ditampilkan selama gelaran ini berlangsung, termasuk diperkenalkannya berbagai jenis kain nusantara di atas.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

F
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini