Tanaman Porang: Manfaat, Budidaya dan Potensi Ekspor Bagi Petani Lokal

Tanaman Porang: Manfaat, Budidaya dan Potensi Ekspor Bagi Petani Lokal
info gambar utama

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa porang menjadi komoditas ekspor baru yang bisa memberi keuntungan tinggi. Jokowi berharap jika suatu saat nanti Indonesia bisa mengekspor tanaman ini dalam bentuk bahan setengah jadi, bukan sekadar bahan mentah. Umumnya, porang dijadikan bahan baku tepung atau shirataki. Lalu, apa sebetulnya tanaman porang itu?

Apa Itu Tanaman Porang?

Porang atau iles-iles adalah salah satu tanaman umbi yang dapat tumbuh di negara tropis seperti Indonesia. Tanaman bernama ilmiah Amorphophallus muelleri BI ini konon sudah ada sejak masa penjajahan Jepang. Saat itu, porang sering digunakan untuk kepentingan industri dan konsumsi.

Porang bisa tumbuh hingga setinggi 1,5 meter, serta biasa tumbuh di bawah pohon penyangga. Untuk hasil maksimal, porang harus ditanam di lahan yang memiliki ketinggian maksimal 700 mdpl. Umbi adalah bagian porang yang paling sering diolah atau diekspor ke luar negeri.

Setidaknya ada empat ciri khas pada tanaman porang, yaitu:

  • Memiliki batang bercorak hijau putih.
  • Kulit batangnya halus dan cenderung berwarna kekuningan.
  • Daunnya lebar dengan ujung beruncing dan berwarna hijau muda.
  • Terdapat bubil atau katak pada setiap pertemuan cabang tanaman porang.

Manfaat Tanaman Porang

Seperti umbi-umbian lainnya, porang juga memiliki berbagai kandungan zat dan nutrisi seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Dari sekian zat yang ada, glukomanan adalah zat dengan kandungan paling besar di dalam porang.

Glukomanan adalah serat alami yang bisa larut dalam air. Serat ini biasanya digunakan sebagai pengental bahan makanan. Adanya serat tersebut membuat porang sering dipakai sebagai bahan baku tepung terigu dan bahkan dijadikan bahan dasar lem ramah lingkungan. Di beberapa negara asia seperti Jepang dan Tiongkok, porang sering dijadikan bahan baku utama mie shirataki.

Kayanya zat dan nutrisi pada porang membuat umbi ini punya sejumlah manfaat bagi kesehatan. beberapa diantaranya adalah:

  • Mengontrol gula darah.
  • Mempercepat rasa kenyang dan memperlambat pengosongan perut.
  • Membantu mengurangi asupan kalori pada tubuh.
  • Menurunkan kolesterol.

Perbedaan Tanaman Porang dengan Suweg, Walur, dan Iles-Iles Putih

Tanaman porang sering disamakan dengan beberapa tanaman umbi lainnya, seperti suweg, walur, dan iles-iles putih. Padahal porang dan sejumlah tanaman umbi itu bunya sejumlah perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah:

Daun:

  • Porang memiliki daun yang lebar, memiliki ujung yang runcing, serta berwarna hijau muda.
  • Suweg dan walur memiliki daun yang ukurannya lebih kecil dari porang, serta warnanya cenderung hijau muda mengkilap.
  • Iles-iles putih memiliki ukuran daun yang sama dengan suweg dan walur, namun warna daunnya cenderung hijau tua.

Batang:

  • Porang memiliki batang yang halus dengan warna belang hijau-putih.
  • Suweg memiliki warna batang yang sama dengan porang, namun tekstur batangnya cenderung kasar.
  • Walur punya tekstur batang yang sama dengan suweg, namun warna batangnya cenderung hijau keunguan dengan bercak putih.
  • Iles-iles putih punya batang yang halus dengan warna yang sama dengan batang pohon walur.

Umbi:

  • Umbi pada porang tidak memiliki bintil pada bagian permukaannya, memiliki serat halus, serta berwarna kuning keorenan.
  • Kebalikan dari porang, umbi pada suweg, walur, dan iles-iles putih memiliki bintil pada bagian permukaannya, serta memiliki warna putih. Khusus untuk suweg, umbi pada tanaman ini bisa langsung dikonsumsi setelah direbus.

Permukaan Cabang:

  • Permukaan cabang pada porang memiliki bubil alias bibit tanaman porang.
  • Permukaan pada suweg, walur, dan iles-iles putih tidak memiliki bubil sama sekali.

Hal-Hal yang Harus diperhatikan Saat Membudidayakan Tanaman Porang

Tanaman porang memang mudah untuk dibudidayakan. Walau begitu, para petani lokal harus memperhatikan sejumlah hal sebelum membudidayakan tanaman umbi ini. Setidaknya ada hal yang harus para petani perhatikan, yaitu:

1. Lahan Tempat Menanam Porang

Supaya bisa bertumbuh dengan baik, porang harus ditanam di lahan yang tepat. Untuk bisa ditanami porang, sebuah lahan harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  • Pastikan tanahnya gembur dan berada di pH 6-7. Pastikan juga tanahnya mengandung pasir tinggi dengan persentase kerapatan minimum 40 persen.
  • Memiliki tanaman penyangga seperti jati dan mahoni. Adanya tanaman penyangga bisa membuat tanaman porang bertumbuh dengan baik.

2. Metode Pembibitan

Ada dua metode pembibitan yang bisa dipakai saat menanam porang, yaitu generatif dan vegetatif. Metode generatif bisa dilakukan dengan cara menaruh bibit dalam polybag, sedangkan vegetatif dilakukan dengan langsung bintil atau bibit di tanah. Bintil pada porang bisa ditemukan di pangkal daun berwarna coklat kehitaman. Petani tinggal pilih salah satu metode tersebut yang sekiranya sanggup dilakukan.

3. Waktu Panen

Porang memiliki waktu panen yang lama, sehingga para petani harus sedikit bersabar. Porang baru bisa memanen tanaman ini saat usia pohonnya mencapai 2 tahun. Porang yang siap panen mempunyai ciri berupa umbi yang besar dan memiliki berat 1 kg, serta daunnya yang kering dan jatuh ke tanah. Jika umbinya masih kecil, para petani bisa memanennya setahun kemudian. Setelah dipanen, porang bisa langsung dijual atau diolah lagi.

Potensi Ekspor Porang Bagi Petani Lokal

Di Indonesia, budidaya porang sudah dilakukan di berbagai daerah. Salah satu diantaranya yang berhasil membudidayakan tanaman ini adalah Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Di sana, para petani berhasil mengekspor porang ke luar negeri dan mampu meraup penghasilan sebesar 6 miliar pada 2020 kemarin.

Budidaya porang di Desa Kepel sudah dilakukan sejak tahun 2017. Saat itu, porang belum terlalu dikenal masyarakat, padahal potensinya cukup besar. Budidaya porang yang dilakukan Desa Kepel mulai memperlihatkan hasil pada tahun 2019. Mereka berhasil meraup 3 miliar dari hasil ekspor porang semakin meningkat saat memasuki tahun 2020.

Jepang dan Tiongkok adalah beberapa negara tujuan ekspor porang Desa Kepel. Menurut Afif selaku petani di Desa Kepel, porang punya banyak kelebihan dibanding umbi-umbian lainnya, yaitu: target pasar yang jelas; pola tanam yang mudah; serta harga yang cukup stabil. Selain di Desa Kepel, budidaya porang juga mulai dilakukan di berbagai daerah lainnya, seperti Nganjuk, Pasuruan, Wonogiri, Bandung, dan Maros.

Sebagai komoditas ekspor, umbi porang punya potensi yang besar. Itulah mengapa Presiden Jokowi menyatakan bahwa porang adalah salah satu komoditas ekspor yang bisa memberi keuntungan tinggi. Tercatat, Indonesia berhasil mengekspor sebanyak 254 ton pada tahun 2018 dengan nilai ekspor Rp 11,31 miliar. Adapun negara tujuan ekspor tanaman ini adalah Jepang, tiongkok, Australia, dan Vietnam.

Potensi ekspor yang besar itu mendorong sejumlah pemerintah daerah untuk terus mendorong pengembangan porang. Salah satu contohnya adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) yang membantu Lembaga Masyarakat Daerah Hutan (LMDH) mengembangkan budidaya tanaman porang di wilayah Nganjuk dan sekitarnya.

Di Nganjuk, porang dibudidayakan di hutan Desa Bendosari yang memiliki lahan seluas 500 hektar. Dari lahan tersebut, petani Desa Bendosari mampu menghasilkan 15 ton porang yang siap diekspor.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berharap agar petani Indonesia bisa terus membudidayakan porang, serta mengingatkan agar jangan sampai bibit porang lepas ke luar negeri begitu saja.

“Jangan sampai bibitnya (porang) ditanam di luar negeri dan malah negara lain yang berhasil mengembangkan budidaya porang,” ujarnya yang dilansir dari Tirto.id

Referensi:

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20211115121503-33-291561/kenali-tanaman-porang-jenis-manfaat-harga-dan-budidaya?page=all

https://tirto.id/mengenal-tanaman-porang-manfaat-harga-budidaya-nilai-bisnis-ekCF

https://jagadtani.com/read/2373/desa-kepel-bangkit-dengan-porang




Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Anggie Warsito lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Anggie Warsito.

Terima kasih telah membaca sampai di sini