Indonesia dan Kanada Kolaborasi Penanggulangan Terorisme

Indonesia dan Kanada Kolaborasi Penanggulangan Terorisme
info gambar utama

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT) telah menandatangani nota kesepahaman tentang kolaborasi pencegahan dan penanggulangan bersama Departemen Luar Negeri, Perdagangan, dan Pembangunan Kanada.

Penandatanganan dilakukan oleh Kepala BNPT Boy Rafli Amar dan Duta Besar Kanada untuk Indonesia-Timor Leste Nadia Burger di sela-sela pertemuan KTT G20 Bali, Jumat (18/11/2022).

Melalui kerja sama tersebut, Indonesia dan Kanada dapat saling bertukar informasi khususnya seputar terorisme, meningkatkan kapasitas, mengadakan pertemuan para pakar, dan praktik lainnya antar kedua negara.

Rafli menuturkan, kolaborasi ini penting untuk menghadapi ancaman terorisme yang sampai saat ini belum terkendali. Ledakan bom di Taksim, Istanbul, Turki pada 13 November kemarin, menambah rentetan peristiwa kelam akibat praktik terorisme. Dalam hal ini, peran internasional sangat dibutuhkan untuk memerangi para pelaku dan menciptakan perdamaian dunia.

Kerja sama ini akan terlaksana di bawah payung kerangka kerja Indonesia-Canada Plan of Action 2022-2025. Selain menanggulangi terorisme, kedua negara ini akan bekerja sama dalam mencegah serta memberantas kejahatan lintas negara, termasuk penyelundupan dan perdagangan manusia.

“Kerja sama bilateral dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme tersebut memperhatikan pendekatan berbasis hak asasi manusia dan gender,” ucap Boy Rafli.

Kucurkan Rp67 Triliun, ini 5 Strategi Indonesia Perkuat Pertahanan dan Alutsista

Bahaya Terorisme

Hingga kini, terorisme tetap menjadi ancaman serius bagi penduduk seluruh dunia, meskipun jumlah korban jiwa cenderung menurun 59 persen sejak 2014. Kematian global akibat kejahatan ini paling banyak berasal dari Afrika Sub-Sahara, yakni 48 persen. Di negara barat, konflik politik menjadi pemicu terbesar serangan terorisme, dikutip dari Visionofhumanity.org.

Menurut Ourwolrdindata.com, setiap tahun selama satu dekade terakhir, rata-rata 26.000 orang di dunia kehilangan nyawa akibat terorisme. Pada 2014, jumlahnya bahkan mencapai 44.600, tertinggi dalam sejarah. Di beberapa negara, terorisme menyumbang 0,01 persen kematian warganya, bahkan negara konflik bisa lebih tinggi dari itu.

Sementara di Indonesia, tersangka terorisme pada 2021 berjumlah 370 orang menurut laporan Polri, melonjak 59,48 persen dibanding 2020. Sejumlah kasus terorisme terjadi di tahun itu.

Pada 28 Maret 2021, dua orang berinisial L dan YSF dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah melakukan pengeboman di Gereja Katedral Makassar. Tiga hari setelahnya, seorang wanita berinisial ZA menyerang ke dalam Mabes Polri dan sempat melakukan upaya penembakan. Namun, aksinya berhasil dilumpuhkan dan ZA pun meninggal dunia.

Tahun ini, dokter Sunardi, tersangka teroris di Sukoharjo, ditembak mati oleh Densus 88 pada 9 Maret 2022. Selain itu, dalam rentang 2021-2022, 15 PNS dilaporkan menjadi tersangka terorisme.

Kilas balik peristiwa yang sedikit di atas, dapat menunjukkan bahwa penanggulangan terorisme sangat dibutuhkan. Selain menjaga ketertiban negara, menyelamatkan nyawa orang yang tak bersalah tentu suatu keutamaan sebagai implementasi dari kewajiban pemerintah dalam menjamin keselamatan warga negaranya.

Benteng Pendem, Saksi Sejarah Tangguhnya Pertahanan Belanda di Selatan Jawa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini