Kiprah PB Djarum Bentuk Bibit Bulu Tangkis: Dari Barak ke Panggung Dunia

Kiprah PB Djarum Bentuk Bibit Bulu Tangkis: Dari Barak ke Panggung Dunia
info gambar utama

Setelah vakum dua tahun, PB Djarum kembali menggelar ajang pencarian atlet bulu tangkis bertalenta Tanah Air dalam dua kelompok usia yakni U-11 dan U-13 pada 19-22 Oktober silam di GOR Djarum, Jati, Kudus.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation dan Ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin menyebut penyelenggaraan Audisi Umum tak lepas dari upaya klub memutar roda regenerasi atlet yang akan dibina sejak usia dini.

“Karena menempa talenta serta mental atlet setidaknya butuh waktu 10 tahun sampai mereka siap membela nama bangsa di panggung bulu tangkis dunia,” ujar Yoppy yang dimuat Medcom.

Deretan Film Ini Angkat Kisah Perjuangan Atlet Indonesia yang Menginspirasi

Komitmen untuk menciptakan generasi bulu tangkis karena kecintaan Budi Hartono selaku CEO PT Djarum pada olahraga tepok bulu. Selain itu tingginya kegemaran karyawan PT Djarum bermain dan berlatih pada olah raga yang sama.

Karena itu pada tahun 1969 barak (tempat karyawan melinting rokok) di jalan Bitingan Lama - sekarang Jalan Lukmonohadi) No 35 - Kudus, pada sore hari digunakan sebagai tempat berlatih bulu tangkis di bawah nama komunitas Kudus.

Karena menggunakan tempat karyawan bekerja dan bukan murni lapangan, membuat waktu memainkan olahraga harus diatur dan berjadwal. Ketika para pelinting rokok selesai bekerja, barulah mereka menyulap barak menjadi lapangan bulu tangkis.

Langkah sederhana

Yoppy bercerita bagaimana kondisi barak PT Djarum di tahun 1969. Ketika itu para karyawan yang melinting rokok masih duduk di lantai, sehingga sampah-sampah seperti cengkeh dan tembakau berserakan.

Tetapi pada praktiknya, kondisi ini tetap dihadapi kendati tak sampai ratusan, hanya 20 orang saja yang bermain bulu tangkis. Yoppy menyebut ada sebuah kesenangan yang tersalurkan sehingga kegiatan ini berlanjut dan berkembang pesat.

“Pertama kali sebenarnya di luar barak (sewa di luar) karena tidak ada fasilitas di dekat pabrik. Kemudian Pak Budi menginstruksikan untuk mencari tempat di pabrik yang memungkinkan untuk digunakan bermain bulu tangkis, lalu dipilihlah barak untuk melinting rokok,” ucapnya yang dimuat Kumparan.

Sejarah Baru & Momen Kebangkitan di Balik All Indonesia Final di Denmark Open 2022

Disebutkannya karena kondisi yang kotor membuat para karyawan perlu membersihkan barak ketika ingin bermain bulu tangkis. Dari usaha itu, barak rokok bisa disulap menjadi tiga lapangan bulu tangkis.

Kemauan para karyawan untuk menyulap barak menjadi lapangan bulu tangkis, menjadi bab lain dari terbentuknya PB Djarum. Karena kegiatan berolahraga ini juga memikat minat warga sekitar yang diperbolehkan ikut main tepok bulu.

Uniknya, jelas Yoppy, tidak ada batasan umur yang ditetapkan untuk mereka yang ingin bermain bulu tangkis. Keputusan ini melahirkan beberapa pemain berbakat yang dipoles jadi berkelas macam Liem Swie King

Memetik hasil

Kehadiran Liem Swie King yang berhasil menjuarai Kejurnas 1972 menjadi tonggak berdirinya PB Djarum pada 1974. Munculnya satu pemain berprestasi di level nasional, meningkatkan semangat PB Djarum untuk meraih prestasi lain.

Langkah ini salah satunya dengan membawa Liem Swie King untuk berlatih tanding dengan klub-klub di luar kota Kudus. Namun, perjalanan ini pun sejatinya mengusung misi merekrut pemain-pemain muda berbakat lain.

“Di dalam dunia bulu tangkis tidak pandang bulu siapa pun yang ingin bermain. Kalau mau bermain, ya bareng. Apalagi setelah melihat talenta Liem Swie King, Budi Hartono mulai antusias mengembangkan pemain muda,” paparnya.

Indonesia di BWF World Championship: Ahsan/Hendra Tak Juara, Ganda Putra Tetap Digdaya

PB Djarum membina para atlet muda di tengah kesederhanaan. Yoppy mengisahkan hingga 1981, para atlet yang bergabung masih berlatih di barak. Tak hanya berkutat dengan sampah produksi rokok, mereka pun pun harus berjuang dengan udara menyengat.

“Fasilitas masih sangat sederhana, kita membuat program latihan, saat itu beberapa mantan pemain seperti Hermawan Susanto ditarik jadi pelatih, pemain yang berprestasi di nasional dan internasional ditarik jadi pelatih. Saat itu juga masih latihan di barak selama 10 tahun sampai akhirnya tahun 1982 ada GOR Kali Putu yang benar-benar untuk bulu tangkis,” tuturnya.

PB Djarum kemudian memetik hasil setelah Liem yang dijuluki King Smash meraih berbagai penghargaan seperti tiga trofi All England pada 1978, 1979, dan 1981. Nama Liem Swie King juga terus dilanjutkan generasi penerus.

Seperti Alan Budi Kusuma, Hariyanto Arbi, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, dan Tantowi Ahmad merupakan beberapa sosok bibit yang ditemukan PB Djarum. Merekalah yang terus membawa nama Indonesia harum di pentas tepok bulu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini