Mengenal Pak Sadikin, Founder Eduwisata Arboretum Gambut Marsawa di Sungai Pakning

Mengenal Pak Sadikin, Founder Eduwisata Arboretum Gambut Marsawa di Sungai Pakning
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Ali Sadikin atau kerap disapa Pak Sadikin. Beliau berprofesi sebagai petani yang tinggal di Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Ia merupakan sosok yang menginisiasi Arboretum Gambut Marsawa sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kualitas udara dan lingkungan di Bengkalis.

Bengkalis merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Riau yang kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan beberapa tahun silam hingga menimbulkan dampak polusi udara. Selain mengalami kerugian berupa kerusakan lahan akibat kebakaran, putri Pak Sadikin meninggal dunia karena mengalami ISPA(Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat terpapar asap polusi udara. Hal ini juga menjadi salah satu faktor pendorong Pak Sadikin untuk mengambil peran krusial bagi perubahan lingkungan.

Pak sadikin berhasil menyulap bekas kebun sayur milik orang tuanya menjadi hutan konservasi tanaman gambut serta pembibitan kantong semar dengan basis eduwisata bernama Arboretum Gambut Marsawa. Menariknya, dalam pertemuan antara penulis dengan b eliau kata “Marsawa” merupakan akronim dari keluarga Pak Sadikin yaitu Marsela, Sadikin, Wati, Wahyu. Pengembangan arboretum ini melibatkan kolaborasi dengan PT. Pertamina RU II Sungai Pakning yang mampu menghasilkan beberapa fasilitas penunjang seperti saung edukasi, rumah bibit, musholla, toilet, dan lainnya. Tidak hanya itu, hadirnya marsawa café yang menghias ditengah arboretum juga menjadi salah satu daya tarik pengunjung untuk menghabiskan waktu di akhir pekan sekaligus mengedukasi anak-anak.

saung edukasi arboretum gambut marsawa | foto: Ruth Aldiz Khatarine
info gambar

Arboretum ini sukses menjadi salah satu destinasi eduwisata bagi masyarakat local hingga mancanegara. Selain itu para researcher, akademisi, mahasiswa hingga murid sekolah juga sering berkunjung ke arboretum untuk kepentingan riset, akademik maupun kegiatan outbond sekolah.

Lahan ini menawarkan berbagai biodiversitas yang menjadi daya tarik utamanya. Arboretum milik Pak Sadikin juga menjadi sentra bagi endemik seperti kantong semar. Dilansir dari bisnis.news, terdapat sekitar tujuh spesies nepenthes(kantong semar) didalam arboretum ini, dua diantaranya berstatus dilindungi yaitu nephentes sumatrana dan nepenthes spectabilis. Disamping itu, kantong semar albomarginata dan sumatrana spectabilis merupakan persilangan antara dua jenis tanaman. Bertambahnya kuantitas tanaman pemakan serangga ini merupakan salah satu bukti kegigihan Pak Sadikin terhadap lingkungan.

arboretum gambut marsawa | Foto: Ruth aldiz khatarine
info gambar

Tidak hanya nepenthes, Pak Sadikin juga membibit dan menanam berbagai macam pohon seperti gaharu, meranti, pisang-pisang, kelat merah, mahang. Beliau juga tetap mempertahankan pohon asli disana seperti geronggang, timah-timah, gelam, kelat tikus.

Selain menjadi pengelola Arboretum, Pak Sadikin juga berpartisipasi aktif dalam komunitas mitigasi kebakaran lahan dan hutan diwilayah setempat yaitu Masyarakat Peduli Api(MPA), Sungai Pakning.

Dikutip dari mongabay.co.id, pada tahun 2015 silam, satu hektar areal terbakar membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk dapat dipadamkan karena keterbatasan peralatan. Pak Sadikin beserta rekannya bahu membahu memadamkan kebakaran dengan berulang kali menggali tanah gambut dan membuat sumur dari satu lokasi ke lokasi yang lain karena air mudah kering. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan kebakaran. Komunitas ini juga turut didukung pembangunan kapasitasnya oleh PT.Pertamina RU II Sungai Pakning.

Kesadaran kolektif ini mendorong Pak Sadikin beserta rekannya untuk membangun sekat kanal disekitar kebun agar gambut tidak mudah kering. Upaya penataan keluar masuk air parit itu dibantu oleh United Nation Development Programme(UNDP).

Profesinya sebagai petani tidak ia tinggalkan begitu saja. Dilansir dari tribunnews.com, nanas merupakan komoditas yang paling tahan di lahan asam dan sesuai dengan karakteristik lahan gambut. Pak Sadikin beserta rekan petani nanas terus berinovasi dalam pengolahan nanas dilahan bekas kebakaran. Kerjasama mereka tidak hanya menghasilkan nanas yang dijual segar, tapi juga menghasilkan berbagai olahan nanas seperti dodol, manisan, sirup, biskuit, kripik, wajik, selai serta berbagai olahan lainnya. Produk tersebut dipasarkan komersial secara pre order kepada konsumen karena dijual terbatas dan memakai bahan alami serta tidak mengandung bahan pengawet.

Anyaman Seranas | foto: Suryadi/mongabay.co.id
info gambar

Selain mampu menghasilkan cemilan olahan nanas, inovasi Pak Sadikin dan rekan terus berkembang. Hal tersebut dibuktikan dengan produk anyaman kantong bernama Seranas(Serat Nanas) yang terbuat dari daun nanas. Koperasi Tani Tunas Makmur menjadi komunitas yang mewadahi Seranas maupun berbagai produk makanan dari para petani nenas. Suatu kebanggan bagi Pak Sadikin dan rekannya, bahwa beragam inovasi tersebut pernah sampai di Madrid untuk dipamerkan dalam Konferensi Perubahan Iklim (COP25).

Sebagai penerima kalpataru tahun 2020 dengan nominasi Perintis Lingkungan, kontribusi Pak Sadikin terhadap lingkungan mengalami perkembangan. Setelah mengikuti pelatihan sumur hydrant, beliau berhasil melakukan uji coba sumur hydrant portable yang berfungsi untuk mendapatkan sumber air guna mengatasi kebakaran. Dikutip dari mongabay.id, sumur hydrant merupakan alat penyedot air yang menggunakan pipa paralon dan mesin hisap yang dapat dibongkar pasang. Ini sangat memudahkan Pak Sadikin dan tim MPA karena mereka tidak kesulitan lagi mencari sumber air atau menggali tanah untuk membuat kolam. Pengetahuan tersebut disebarkan oleh Pak Sadikin ke kecamatan lain, yakni Siak Kecil dan Bandar Laksamana. Upaya tersebut semakin mendukung mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan di desa sekitar.

Pak Sadikin bersama piagam Kalpataru 2020 | foto: Rio/dunia energi
info gambar

Pak Sadikin merupakan salah satu dari sejumlah local hero di wilayah Sungai Pakning. Sosok promotor, ulet, peduli akan lingkungan, dan dedikasi yang sangat tinggi berhasil menjadikan beliau sebagai role model dalam upaya mendukung mitigasi bencana karhutla kawasan gambut. Tentunya dari berbagai program serta output dari para aktivis lingkungan pantas untuk dipertahankan dengan berkelanjutan. Untuk itu, peranan generasi muda diperlukan untuk mampu menjadi pahlawan lingkungan yang tidak hanya berdampak bagi kelestarian alam namun juga bagi masyarakat sekitar.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini