Sapta Darma, Kelompok Penghayat Kepercayaan dari Jawa Timur

Sapta Darma, Kelompok Penghayat Kepercayaan dari Jawa Timur
info gambar utama

Indonesia memang beragam. Tidak cuma dari segi suku dan budaya, namun juga dalam hal kepercayaan. Tidak cuma 6 agama besar saja yang ada di Indonesia, melainkan masih banyak lagi kepercayaan-kepercayaan lokal yang ada di masyarakat tertentu di seluruh wilayah.

Bersumber dari dataindonesia.id, setidaknya ada sekitar lebih dari 126 ribu penduduk yang tergolong sebagai penghayatan kepercayaan per tahun 2021. Semua penganut kepercayaan ini tentunya sudah diakui statusnya sebagai "Penghayat Kepercayaan Tuhan yang Maha Esa".

Total aliran kepercayaan di Indonesia sendiri ada lebih dari 150 kelompok atau organisasi. Dari sekian banyaknya kelompok penghayat kepercayaan itu, salah satunya adah aliran Sapta Darma yang lahir di Kediri, Jawa Timur.

Lebih Dekat Dengan Kejawen, Pandangan Hidup Masyarakat Jawa

Berawal dari tahun 1952

Kelahiran Sapta Darma bermula dari wahyu yang datang ke Hardjosapoero, pemangkas rambut di Pare, Kediri pada 27 Desember 1952. Sebagai pendiri Sapta Darma, ia punya gelar sebagai Bapa Panuntun Agung Sri Gutama.

Suatu saat ada kekuatan yang mendorongnya agar ia bersujud ke arah timur Hardjosapoero pun tak bisa melawannya.

Ketika sujud pertama, ia mendengar kalimat "Yang Maha Suci, sujud Yang Maha Kuasa," dan "Yang Maha Suci nyuwun sepuro Yang Maha Kuasa," pada sujud kedua.

Lalu, saat sujud ketiga, kata yang muncul adalah "Yang Maha Suci mertobat Yang Maha Kuasa," pada sujud ketiga.

Hal ini pun membuatnya merasa tercerahkan secara spiritual. Dua tahun setelahnya ia mendapatkan wewaruh pitu dan lambang segi empat belah ketupat sebagai gambaran kepribadian manusia.

Perlahan, ajarannya pun berkembang ke berbagai wilayah. Tak hanya di Pulau Jawa saja, bahkan ke beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatra. Pasca meninggalnya Hardjosapoero, pimpinan aliran kerohanian ini diwariskan ke Soewartini Martodihardjo dengan gelar Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang.

Lebih Dekat Dengan Penghayat Kepercayaan, Bagian Dari Masyarakat Yang Harus Kita Jaga Dan Hormati

Sujud, wewarah tujuh, dan sesanti

Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto
info gambar

Secara makna, Sapta punya arti 'tujuh' dan darma adalah 'kewajiban'. Berarti, bisa dikatakan kalau Sapta Darma adalah tujuh kewajiban. Memang, hal ini sesuai dengan salah satu pondasi utama dari kepercayaan ini yang dinamakan wewarah tujuh. Berikut adalah tujuh kewajiban tersebut :

  1. Setia tuhu kepada Allah Hyang Maha Agung , Maha Rokhim , Maha Adil ,Maha Wasesa, Maha Langgeng.
  2. Dengan jujur dan suci hati, harus setia menjalankan perundang-undangan Negaranya.
  3. Turut serta menyingsingkan lengan baju, menegakkan berdirinya nusa dan bangsanya.
  4. Menolong kepada siapa saja bila perlu, tanpa mengharapkan sesuatu balasan, melainkan berdasarkan rasa cinta dan kasih.
  5. Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri.
  6. Sikapnya dalam hidup bermasyarakat, kekeluargaan, harus susila beserta halusnya budi pakerti, selalu merupakan penunjuk jalan yang mengandung jasa serta memuaskan.
  7. Yakin bahwa keadaan dunia itu tiada abadi, melainkan selalu berubah-ubah (anyakra manggilingan)

Selain itu, sujud dan sesanti juga jadi hal yang tak lepas dari aliran ini.

Pelaksanaan ajaran utama tersebut didasakan dari prinsip memayu hayuning bawono yang artinya adalah memberikan keindahan pada dunia. Maksudnya adalah seseorang harus senantiasa melakukan kebaikan dan memiliki jiwa yang besar sesuai dengan keluhuran budi agar bisa bermanfaat bagi sekitar.

Sesanti sendiri adalah semboyan para penganut Sapta Darma yang berbunyi. "Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma kudu suminar pindha baskara." Artinya, Sapta Darma harus berlaku baik dan senantiasa jadi penerang bagi sesama.

Sapta Darma beribadah di tempat yang bernama sanggar. Tuhan dalam aliran kepercayaan ini disebut sebagai Allah Hyang Maha Kuasa. Penganutnya juga bisa melakukannya di rumah masing-masing.

Ibadahnya sendiri terdiri atas sujud,ening, olah rasit, dan racut. Untuk yang menjadi ibadah utamanya adalah sujud yang dilakukan sehari sekali.

Masyarakat Samin dan Saminisme

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini