SD-SMP Dewi Sartika, Sekolah Perempuan Pertama di Indonesia

SD-SMP Dewi Sartika, Sekolah Perempuan Pertama di Indonesia
info gambar utama

Raden Dewi Sartika, pahlawan nasional yang berjasa besar dalam kemajuan pendidikan bagi perempuan. Perjuangannya dimulai pada 16 Januari 1904 dengan membangun organisasi Sakola Istri di Bandung. Jelas tersirat dari namanya bahwa organisasi itu bergerak membela hak-hak perempuan sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia. Semua wanita di dalamnya bersama-sama belajar membaca, menulis, berhitung, pendidikan agama, dan berbagai keterampilan yang dibutuhkan perempuan.

Seiring waktu Sakola Istri pun berubah nama menjadi Sakola Keutamaan Istri sejak 1910. Dalam dua tahun setelah itu, 9 unit sekolah telah didirikan di seluruh Jawa Barat. Kemudian, pada 1929, sekolah itu berubah nama lagi menjadi sekolah Raden Dewi. Namun, gerakan keperempuanan tak pernah berubah.

Pada masa pendudukan Jepang, sekolah-sekolah tersebut banyak yang ditutup. Selain karena keuangan yang sulit, hal itu terjadi akibat ketatnya aturan Jepang dalam memantau pergerakan kaum intelektual Indonesia. Dewi Sartika termasuk tokoh perempuan yang berada dalam pengawasan Jepang.

Selanjutnya, pada masa perang mempertahankan kemerdekaan, Fungsi sekolah Raden Dewi berubah menjadi area pendidikan bagi para pejuang perempuan. Walau serba terbatas dan situasi yang mencekam, Dewi Sartika tetap memberi kaum wanita pendidikan.

Sejarah Hari Ini (16 Januari 1904) - Dewi Sartika Dirikan Sekolah Keutamaan Istri

Kini cerita beralih ke agresi militer Belanda I. Banyak sekolah yang dibangun Dewi Sartika, diduduki pasukan Belanda. Beberapa di antaranya bahkan dihancurkan. Peristiwa itu menandai akhir pertarungan Dewi dalam dunia pendidikan. Akibat sakit yang dideritanya, Dewi pun wafat setelah mengungsi ke Tasikmalaya.

Meski perang telah usai, tapi perjuangan Dewi Sartika tidaklah punah. Sekolah-sekolah yang pernah ia bangun dulu, dihidupkan kembali pada 1951 oleh aktivis Yayasan Raden Dewi Sartika. Pendidikan di sana jauh lebih matang, dilengkapi kurikulum yang jelas sesuai kebutuhan perempuan. Sekolah itu kembali mengalami pergantian nama menjadi Sekolah Guru Bawah, Sekolah Kepandaian Puteri (1961), Sekolah Kejuruan Kepandaian Puteri (1963), lalu SD dan SMP Dewi Sartika sampai saat ini.

Sebanyak 142 siswa bersekolah di SMP Dewi Sartika, sedangkan murid SD berjumlah 52 orang. Lokasinya ada di Jalan Keutamaan Istri No. 12, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol. Hingga kini, sekolah Dewi Sartika tetap mengajarkan pendidikan khusus perempuan, seperti menjahit, memasak, dan membuat kerajinan.

Sebagai bentuk penghargaan dari jasa Dewi Sartika, SD dan SMP Dewi Sartika kini menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi Undang-undang Perda Kota Bandung nomor 7 tahun 2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya.

Semangat juang yang ditunjukkan oleh Dewi Sartika demi terciptanya pendidikan yang layak bagi perempuan, jelas patut dijadikan teladan.

Lasminingrat, Perempuan Intelektual Pertama Sebelum Kartini dan Dewi Sartika

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini