Angklung yang Mendunia

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Angklung yang Mendunia
info gambar utama

Cucu saya Olivia Aisyah Azzahra atau Olive begitu panggilannya berlatih main angklung secara intensif di sekolahnya--Lab School UPI Bandung, dan ternyata dia diantara 1.304 peserta dari berbagai kalangan usia yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang digelar di halaman Gedung Sate Bandung pada tanggal 20 November 2022 untuk memperingati 12 tahun Angklung Mendunia.

Badan dunia UNESO memang pada tanggal 18 November 2010 mengakui secara resmi bahwa Angklung dari Indonesia sebagai sebagai “Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”.

Kegiatan ini juga didukung oleh Keluarga Besar Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia (Kabumi UPI), Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, serta Biro Umum Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil beserta jajarannya.

Foto cucu saya main angklung (koleksi pribadi)

Musik bambu angklung menurut berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa kemunculan musik tradisional ini sudah sejak lama, yaitu pada jamannya Kerajaan Sunda abad ke 12 sampai abad ke 16 dan musik angklung ini muncul berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris

Karena itu angklung menjadi bagian dari ritual mengawali penanaman padi untuk memikat Dewi Sri Pohaci untuk turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh dengan subur.

Bersama-sama dengan seni budaya tradisional lainnya musik angklung menjadi bagian dari upaya diplomasi Indonesia ke luar negeri. Di berbagai Kedutaan Besar Indonesia di dunia ini sering di tampilkan musik tradisional angklung ini didepan para tamu undangan.

Bahkan ada masyarakat di Amerika Serikat yang sangat antusias belakar memainkan musik tradisional angklung ini. Angklung telah menjadikannya sebagai alat yang dapat diakses untuk melibatkan audiens asing dalam acara diplomatik. Tidak hanya perwakilan resmi negara Indonesia.

Masyarakat diaspora Indonesia di berbagai sudut dunia sangat aktif memperkenalkan musik tradisional angklung ini.

Menurut Nye (2008) Angklung (khususnya tradisi yang ditemukan di Jawa Barat) untuk menunjukkan tidak hanya bagaimana perkembangan pedagogis telah menjadikan angklung alat yang layak untuk memperkenalkan Indonesia ke dalam pendidikan musik dunia tetapi juga bagaimana penerapan teknik pendidikan ini dalam hubungan internasional Indonesia telah menjadikan angklung sebagai sarana diplomasi budaya "soft power" yang efektif (Nye 2008).

Sementara itu menurut Griffin (2010: 262-63) bahwa “diplomacy is, among other things, a modus operandi, a way of structuring interactions that leads to the securing, or advancing, of one’s interests in such a way as to avoid conflicts with others. . . . Diplomacy is thus a method of managing a relationship—often between parties with different levels of power and different batteries of assets—that assigns a kind of fiction of equality to each party in order to enable communication

Atau” Diplomasi, antara lain, adalah modus operandi, cara penataan interaksi yang mengarah pada pengamanan, atau memajukan, kepentingan seseorang sedemikian rupa untuk menghindari konflik dengan orang lain... Diplomasi dengan demikian adalah metode untuk mengelola suatu hubungan—seringkali antara pihak-pihak dengan tingkat kekuatan yang berbeda dan baterai aset yang berbeda—yang memberikan semacam fiksi kesetaraan kepada masing-masing pihak untuk memungkinkan komunikasi”.

Angklung karena itu menjadi bagian dari upaya diplomasi yang memungkinkan masing-masing pihak bersedia berkomunikasi seperti yang disebut Griffin itu.

Peringatan 12 tahun Angklung Mendunia yang diselenggarakan oleh masyarakat Bandung Jawa Barat itu merupakan bentuk apresiasi anak bangsa pada musik tradisional karena sudah dikenal oleh masyakat dunia dan menjadi Soft Power kegiatan diplomasi Indonesia di luar negeri.

Indonesia sangat kaya akan keragamaan budayanya sehingga kegiataan diplomasi Indonesia memiliki beraneka ragam cara berdiplomasi dalam bentuk Soft Power ini misalkan diplomasi makanan atau culinary diplomacy, traditional dances diplomacy, music diplomacy (antara lain seperti angklung ini).

Hal ini berarti bahwa semua elemen masyarakat haruslah secara serius menjaga dan melestarikan berbagai kekayaan budaya bangsa itu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini