Melacak Jejak Bengawan Solo: Peran dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Melacak Jejak Bengawan Solo: Peran dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
info gambar utama

Hingga kini belum dipastikan bagaimana asal mulanya sehingga sungai yang membentang sepanjang 548,53 kilometer dari perbukitan Desa Jeblogan, Wonogiri hingga ke Desa Pangkah Wetan, Gresik itu akhirnya disebut Bengawan Solo.

Pelacakan sejarah Bengawan Solo oleh beberapa ahli sejarah. Beberapa catatan sejarah yang terkait dengan kondisi ekologis dari masa ke masa Bengawan Solo juga ditemukan oleh Tim Ekologi.

Sejarawan dan arkeologi dari Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono mengutip sumber data tekstual pertama yang memberikan aktivitas manusia di Bengawan Solo, yakni Prasasti Telang (1 Januari 904) yang dikeluarkan oleh Rakai Watukura Dyah Balitung dari Mataram.

Solo Valley Werken, Megaproyek Pemerintah Kompeni Kendalikan Banjir di Jawa Tengah

Disebutkan isi prasasti tersebut mengenai penetapan Desa Telang, Mahe, dan Paparahuan sebagai desa perdikan atau sima berkenaan dengan pembuatan penyebaran sungai di Paparahuan.

Perihal tempat penyeberangan antar sisi bengawan juga diberitakan dalam Prasasti Canggu atau Trowulan I, yang juga dikenal dengan Ferry Charter. Prasasti tembaga bertarikh 1280 Saka atau 7 Juli 1358 yang ditulis oleh Hayam Wuruk.

“Ini berisi penetapan desa-desa di tepi Bengawan Solo dan Brantas sebagai daerah swatantra atau desa perdikan,” jelas Subur Tjahjono dalam Historiografi: Bengawan Solo dari Masa ke Masa dimuat kompas

Desa-desa pinggir sungai

Desa-desa di pinggir sungai atau naditirapradesa itu ditetapkan menjadi sima sebagai imbalan atas kewajiban menyeberangkan penduduk dan pedagang secara cuma-cuma. Disebutkan oleh Dwi maklumat ini berlaku secara turun-temurun.

“Sehingga hak kelola atas perahu penyeberangan menjadi milik penuh dari pemimpin sima dan keturunannya,” jelasnya.

Menurut Prasasti Canggu, pada daerah aliran Bengawan Solo terdapat 44 desa penambangan dan pada Bengawan Brantas terdapat 34 desa yang disebut berturut-turut dari hilir ke arah hulu.

Misteri Onggo-Inggi, Siluman Air Penghuni Bengawan Solo yang Sering Minta Tumbal

Desa sima penambangan yang dialokasikan paling hulu adalah Wulayu. Oleh karena Wulayu merupakan penambangan terhulu, tidak heran pada naskah Sunda, Bhujangga Manik menyebut Bengawan Solo sebagai Ci Wulayu.

“Namun jika menilik bahwa desa sima penambangan Kembu terletak di Karanganyar, yang berbatasan dengan Surakarta, sangat boleh jadi Wulayu berada di sekitar Solo sekarang,” katanya.

Penyeberangan sungai

Nama kuno lain untuk menyebut Bengawan Solo adalah Semanggi. Nama ini adalah sebutan baru untuk Wulayu. Toponim Semanggi masih dikenal sebagai nama kelurahan di Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta.

Semanggi merupakan penyeberangan sungai dan sekaligus bandar niaga besar bagi kapal-kapal dagang yang hilir mudik dari Solo, ke daerah-daerah lain di sepanjang aliran Bengawan Solo hingga ke muaranya di Gresik.

Para Bupati Madura ketika berkunjung ke Kerajaan Kartasura juga berlabuh di bandar Semanggi. Begitu juga para prajurit dari Madura yang mendirikan barak-barak di tepian bandar Semanggi ini.

Sejarah Hari Ini (1 Oktober 1917) - Gesang, Maestro Keroncong Indonesia

Disebut oleh Dwi, nama Bengawan Semanggi setidaknya masih digunakan hingga tahun 1726, sebagaimana tampak pada laporan Valentyn (1726). Setelah nama Solo populer untuk menamai Surakarta.

“Belum diketahui dengan pasti dari mana nama Solo diambil. Yang perlu disimak, di Sukoharjo terdapat sebuah dusun bernama Solo. Mungkinkah nama Kota Solo diambil dari dusun ini?” ujarnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini