Dinamika Wastra Indonesia

Dinamika Wastra Indonesia
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Perkembangan wastra Indonesia sangat menarik untuk dicermati. Hal ini tidak lepas dari perpaduan banyak budaya. Pengaruh kebudayaan India pada abad ke 5 menghiasi Sumatera, Jawa, dan Bali. Disusul pengaruh Islam dan Tiongkok abad ke 13 sampai ke 15 serta peradaban Eropa di abad ke 16. Wastra menjadi sistem komunikasi, identitas sosial, kutural, afiliasi personal, lambang kosmologi, spritualitas, falsafah hidup, keteladan, keluhuran budi, kehormatan, perlindungan, kemakmuran, harapan, dan juga tata hukum.


Wastra Indonesia yang masuk dalam warisan budaya tak benda di antaranya tenun, kemudian batik juga sudah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia, dan selanjutnya kebaya didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Banyak publik figur yang ikut serta mengkampanyekan gerakan berkebaya untuk mendukung langkah baik ini. Di antaranya seperti Dian Sastrowardoyo, Andien Aisyah, kemudian ada juga anggota Pura Mangkunegaran Rania Yamin. Bahkan dalam berbagai kesempatan Grup Band Soegi Bornean kerap memakai wastra Indonesia.

Berkebaya I Foto; Rania Yamin
info gambar
Wastra I Foto; Soegi Bornean Musik
info gambar


Jenis wastra Indonesia tumbuh beragam, dari mulai batik, tenun, ulos, songket, kain ikat, jarit, sampai sarung. Di daerah Toraja misalnya wastra seperti Ulos dipengaruhi kebudayaan India dan Belanda. Ulos menjadi kain tenun Batak yang mewakili lambang spiritualitas dengan warna hitam, putih, dan merah membentuk selendang dengan ukuran tertentu. Di Sumatera Barat tepatnya di Desa Silungkang ada kain bernama Dalamak sebagai penutup sirih. Ada juga pengaruh Tiongkok dengan motif Ikan, Kepiting, Monyet, Kelinci dan tumbuhan. Ini juga terkait eksistensi etnik Tionghoa di Minangkabau. Pada masyarakat suku Kulawi, suku Lore, suku Kaili di desa Pandere Kecamatan Gumbasa memiliki kain kulit kayu bernama kumpa. Kain ini dipakai pada upacara adat maupun kegiatan sehari-hari sebagai pakaian dan selimut.[1] Kemudian di daerah Donggala, Kelurahan Watusampu, Sulawesi Tengah memiliki wastra bernama sarung sutra Donggala dan kain tenun ikat dengan motif flora dan fauna dengan unsur geometris.[2]

Tenun Flores I Foto: Dokumentasi pRibadi dari buku Indonesia tanah airku (1952)
info gambar

Adapun di Jawa khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah juga memiliki kain tenun dengan corak lajuran atau belang yang disebut lurik. Adapun lurik yang disakralkan sebagai penolak bala disebut corak klowong atau pelangi. Motif lainnya adalah telu-pat yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamangku Buwono I sebagai angka keramat dalam kepercayaan kejawen yang melambangkan kemakmuran dan penghidupan. Pada masyarakat Bali dikenal motif Wayang Hindu. Pada masyarakat Kalimantan dikenal kain upacara bermotif figur antropomorfik dengan sebutan Pua. Pada daerah lampung ada pengaruh Thailand dan Tiongkok contohnya tapan gaya pesisir. Di Jawa Barat dikenal motif Rereng Suliga dan Rereng Akar. Ada juga pengaruh batik Tionghoa seperti tipe batik Papangkah Latar Limar Bilik atau pengaruh Batik Jawa Hokokai pengaruh Jepang.[1]

Bandung I Foto: Dokumentasi Pribadi dari buku Indonesia Tanah Airku (1952)
info gambar

Selain itu, kehadiran Kebaya juga mewarnai wastra Indonesia sejak abad ke 19. Kebaya menjadi budaya nasional dan kerap dipakai pada acara resmi. Kebaya juga dijadikan simbol identitas gender yang banyak mengalami transformasi. Berdasarkan pendapat Taylor, kebaya menjadi penanda perbedaan kelas dan status sosial antara priyayi, rakyat, dan perempuan belanda. Model kebaya perempuan belanda mengenakan renda dengan warna putih dipadu jarit dengan pakem tradisional. Adapun pribumi mengenakan kebaya tanpa renda dan berwarna. Pada perkembangan selanjutnya Kebaya menjadi simbol anti kolonial. Modelnya lebih tertutup misalnya model kutubaru dengan padanan kerudung dan ini juga pengaruh Islam.

Pakem Keraton I Foto: Bhre Sudjiwo
info gambar

Dalam tradisi Jawa, kebaya khusus priyayi memakai model kerah, sedangkan rakyat biasa memakai kebaya kutubaru. Nordholt berpendapat bahwa kebaya mengalami stagnasi dalam busana nasional karena busana laki-laki lebih berevolusi dari sarung menjadi kemeja dan jas. Secara historis, Kebaya menjadi produk tidak tetap karena adanya hibridasi kebudayan seperti pengaruh dari Belanda, Tiongkok, Portugis, dan India.[1] Jenis-jenis kebaya juga mengalami perkembangan secara dinamis. Dari kebaya tradisional, kebaya encim khas etnis Tionghoa, kebaya kutubaru, serta kebaya modern yang diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Anne Avantie.[2]

Kebaya Modifikasi I Foto: Anne Avantie
info gambar

Dalam pembuatan wastra Indonesia, bahan-bahan awal yang dipakai menggunakan bahan rempah alami seperti menggunakan ulos batak menggunakan akar pohon mengkudu sebagai pewarna merah. Kemudian tenun NTT menggunakan kulit manggis serta dedaunan hijau. Adapun batik menggunakan pohon soga, daun mangga, rempah kunyit dan sejenisnya. Wastra Indonesia mengalami dinamika yang cukup berarti. Sejarah panjang wastra Indonesia terbentuk melalui silang budaya masyarakat dan tata kehidupan di dalamnya. Melawati pasang surut juga dan ini menjadi langkah bersama untuk mempertahankannya serta melestarikannya sebagai sebuah identitas bangsa.

[1] Nita Trismaya, KEBAYA DAN PEREMPUAN: SEBUAH NARASI TENTANG IDENTITAS JSRW (Jurnal Senirupa Warna), volume 6, jilid 2, Juli 2018

[2] Fita Fitria, Novita Wahyuningsih, KEBAYA KONTEMPORER SEBAGAI PENGIKAT ANTARA TRADISI DAN GAYA HIDUP MASA KINI, Jurnal ATRAT V7/N2/05/2019

[1] Ira Adriati Winarno, Analisis Motif Kain Tradisional Indonesia: Pemaknaan Visualisasi Abstrak hingga Naturalis.

[1] Ricky FS. Rumagit, INVENTARISASI KAIN TRADISIONAL “KUMPE” KAIN KULIT KAYU DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SULAWESI TENGAH, Direktorat Tradisi, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata: Jakarta, Cetakan I, 2010

[2] Asri Zeintatieni, Inty Nahari, SARUNG TENUN IKAT DONGGALA KABUPATEN DONGGALA PROVINSI SULAWESI TENGAH TAHUN 2009 s.d 2013, e-Journal. Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2014, Hal 46-58

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AJ
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini