Menengok Penyebaran Dakwah Islam di Dataran Tinggi Kerinci

Menengok Penyebaran Dakwah Islam di Dataran Tinggi Kerinci
info gambar utama

Penyebaran agama Islam di Indonesia melewati berbagai jalur seperti, perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. Islam dipercaya masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah atau abad ke 7 Masehi.

Aceh merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Sementara itu perkembangan agama Islam di wilayah Sumatra terus bergerak ke bagian barat semakin pesat sampai di Kabupaten Kerinci.

Secara geografis Kabupaten Kerinci berada pada kawasan Bukit Barisan yang dikelilingi oleh hutan yang lebat sehingga pada masa lalu daerah tersebut sulit dikunjungi. Namun ada beberapa jalan yang digunakan untuk proses keluar masuk ke daerah Kerinci.

Awal masuknya Agama Islam di Kabupaten Kerinci diperkirakan pada abad 14 Masehi. Menurut Sagimun MD, Islam masuk ke Kerinci pada abad ke 14 sampai 15 Masehi yang dibawa dan disebarluaskan oleh mubaligh-mubaligh yang berasal dari Minangkabau.

“Tetapi sebelum Islam masuk ke tanah Kerinci mubaligh-mubaligh tersebut pergi dan menyebarkan ke daerah Siak (Riau) sehingga ke Kerinci orang-orang yang menjalankan ajaran Islam lebih dikenal dengan Siak (syekh),” papar Sagimun dalam Proses Islamisasi di Tanah Kerinci.

Kisah Dukun Serampas: Orang Sakti yang Dipercaya Pernah Sembuhkan Bung Karno

Disamping itu, proses Islamisasi di Kerinci tidak terlepas dari pengaruh wilayah Sumatra Barat (Pagaruyung) dan daerah Jambi (Kesultanan Jambi). Banyak surat dari Kesultanan Jambi yang dikirimkan untuk depati di Kerinci.

Sultan menghimbau untuk meninggalkan kebiasaan dan kepercayaan lama yang dianggap tidak sesuai syariat Islam. Proses Islamisasi yang dilakukan dari pihak sultan Jambi terhadap masyarakat di tanah Kerinci yaitu dengan cara pendekatan politik.

“Di mana proses Islamisasi dilakukan langsung oleh pihak Sultan Jambi dengan para pembesar atau penguasa Kerinci yang bergelar depati,” papar Watson dalam Islamization in Kerinci Change and Continuity in Minangkabau: Local, Regional and Historical Perspectives on West Sumatra.

Penyebaran di Kerinci

Proses Islamisasi di wilayah Kerinci dilakukan oleh para Siak dan ulama-ulama antara lain, Siak Lengih di Koto Pandan (Sungai Penuh), Siak Rajo di Sungai Medang, Siak Ali di Hamparang Rawang salah satu peninggalannya berupa batu sorban.

Penyebaran agama islam di Kerinci melalui beberapa wilayah dari arah barat, timur, selatan maupun utara. Jalur barat sudah dikenal banyak orang lintasan Sekungkung Tapan terus ke Indrapura dan lintasan Lempur-Sungai Ipuh menuju Muko-Muko.

Jalur timur lintasan dari Pungut terus ke Tanah Tumbuh dan lintasan Terutung-Air Liki menuju Rantau Panjang. Jalur selatan terdapat lintasan Lempur-Serampas-Sungai Tenang-Limun dan Batang Asai dan lintasan dari Tamia-Parentak menuju Bangko.

Hobi Mendaki? Ini Dia 7 Puncak Tertinggi di Indonesia

Sedangkan lintasan utara dapat ditempuh dari Siulak menuju Muara Labuh. Lintasan jalan setapak ini merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan daerah Kerinci dengan daerah lainnya yang berada di sekitar.

“Jalur tersebut digunakan secara rutin untuk mobilitas masyarakat yang ingin masuk maupun keluar dari Kerinci,” tulis Idris Djakfar dalam Menguak Tabir Prasejarah di Alam Kerinci Sungai Penuh.

Jejak peninggalan

Dalam jejak dakwah di Kerinci terdapat beberapa peninggalan sejarah yang masih bisa ditemukan. Bukti dari penyebaran agama Islam di Kerinci salah satunya berupa makam dari Siak Lengih di kawasan Koto Pandan, Sungai Penuh.

Makam tersebut sampai sekarang masih sering dikunjungi oleh wisatawan dan peziarah. Sosok ini sendiri berasal dari Minangkabau datang ke Kerinci pada abad 14. Siak Lengih disebut juga Malin Sabiyatullah atau Syeikh Samilullah.

Silsilah keturunan beliau sampai ke Depati (Kiyai) Nan Bertujuh dikenal dengan sebutan Suluh Bindang Alam Kincai, sehingga jika ada acara Kerapatan adat di Hamparan Besar Tanah Rawang atau sering disebut 3 dimudik 4 tanah Rawang, 3 dihilir 4 tanah Rawang.

Makhluk Mitologi Cindaku, Manusia Harimau Penjaga Hutan Kerinci Jambi

Depati Nan Bertujuh merupakan orang yang memberikan peran yang sangat besar dalam penerangan dan pencerahan peradaban untuk masyarakat tanah Kerinci. Salah satunya memberikan petunjuk dan hukum syarak.

Selain itu ada juga Masjid Keramat yang merupakan salah satu masjid kuno dan juga menjadi bukti masuk dan menyebarkan agama Islm di tanah Kerinci. Masjid ini berdiri sekitar tahun 1780 Masehi.

Disebutkan pada saat itu terdapat seorang Syekh yang dikenal juga dengan Tengku Kaluhui atau Syekh Kuat dan anak-anaknya yang berada di Pulau Tengah yang secara aktif menyebarkan agama Islam.

“Sehingga Pulau Tengah dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam di Tanah Kerinci,” papar Muhammad Sukardi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini