Ke mana Arah Ekonomi Indonesia Setelah G20?

Ke mana Arah Ekonomi Indonesia Setelah G20?
info gambar utama

WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

KTT G20 Bali telah dilaksanakan, Kegiatan pertemuan para pemimpin negara yang dilaksanakan di daerah Nusa Dua, Bali pada tanggal 15-16 November 2022 ini menghabiskan biaya APBN Sebanyak R674 miliar. Namun apa yang dibahas pada pertemuan besar tersebut? Lalu, apa langkah untuk menanggulangi resesi 2023?

Pertama-tama, mari kita ketahui apa itu KTT G20, sebuah pertemuan 20 negara dunia yang beranggotakan 8 negara G8 (Rusia pada saat itu juga bergabung, namun dikeluarkan), yaitu Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Prancis, Rusia dan 12 negara berkembang Argentina, Arab Saudi, Afrika Selatan, Australia, Brazil, China, Indonesia, India, Korea Selatan, Meksiko, Uni Eropa, Turki.

Dikutip dari Bisnis.com, G20 Merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan globbal, dan 80 persen PDB dunia. Hal ini membuat apapun keputusan yang diputusi dalam pertemuan KTT G20 adalah keputusan yang sangat influensal bagi banyak aspek dalam dunia seperti aspek Finansial, Kesehatan, dan juga Keamanan Dunia

Pertemuan KTT G20 Bali 2022 ini menghasilkan kesepakatan yang dinamakan G20 Bali Leader's Declaration, yang berisi berisi 52 Paragraf yang merupakan rangkuman 24 Dokumen, didalamnya terdapat aspek Finansial, Kesehatan pasca pandemi, perang Rusia-Ukraina dan juga Ekonomi Multilateral.

Isu tentang Resesi Global 2023 telah beredar di media sosial seperti Youtube, Twitter, bahkan Tiktok. Penurunan performa ekonomi dan perdagangan global ini diisukan akan terjadi akibat banyak faktor yang terjadi, Perang Rusia-Ukraina, Penurunan performa-performa tech companies, dan juga penurunan supply chain yang terhambat faktor perang membuat banyak sektor ekonomi menurun di kuartal 2 sampai terakhir tahun 2022 terutama di Amerika dan Uni Eropa.

Seperti yang telah sahabat GNFI ketahui bahwa perang tidak baik untuk perdagangan global, ekspor dan Impor atau bahkan kerja sama multilateral antar perusahaan lintas negara. Perang Rusia-Ukraina menghambat banyak sekali perdagangan dunia terutama di sektor esensial seperti minyak mentah dan gandum.

Menurut Aljazeera, 30 Persen total ekspor Rusia adalah minyak mentah dan 16,3 persen adalah minyak matang. Sementara 9 persen dari total ekspor Ukraina adalah Jagung dan 6 persen adalah gandum. Itu baru sedikit data bahan-bahan komoditas yang diekspor, bahan-bahan komoditas ini diekspor kepada negara-negara eropa dan negara-negara di amerika untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti kebutuhan membuat roti atau menjalankan mobil-mobil orang Eropa atau bahkan menghangatkan rumah-rumah disaat musim dingin.

G20 di Indonesia | Foto: Cfr.org
info gambar

Tentunya hal ini sangat berpengaruh kepada kehidupan masyarakat Eropa dan tentunya para pemimpin dunia tidak dapat tinggal diam terhadap hal ini.

Apa Bahasan dalam Bali Leader's Declaration untuk Menanggulangi Resesi?

Penulis disini akan merangkum beberapa poin dari Bali Leader's Declaration yang dapat berpotensi menanggulangi atau bahkan menghilangkan efek resesi pada 2023 mendatang.

1. Anggota G20 dan PBB Mengecam Serangan Rusia terhadap Ukraina

Perang Ukraina-Rusia selain telah menyebabkan krisis kemanusian, hingga korban jiwa Perang ini juga mengakibatkan penghambatan ekonomi yang sangat besar, mengakibatkan inflasi dan juga menghambat supply makanan dan energi ke negara importir yang lain

2. Anggota G20 Akan Memperluas Kerja Sama Multilateral dalam Ekonomi Pasca Pandemi

Di paragraf 5, Deklarasi Bali menyebutkan banyak poin-poin antara lain, Anggota G20 akan melakukan perluasan fleksibilitas dalam menetapkan kebijakan ekonomi makro multilateral seperti Investasi publik, mempromosikan investasi privat, dan juga memperkuat perdagangan multilateral dan mempertahankan suuply chain dunia

3. Aggota G20 Akan Memitigasi Risiko dalam Penentuan Keputusan Finansial

Anggota G20 akan berkomitmen untuk memakai cara yang tersedia untuk memitigasi resiko, mengambil langkah untuk menjaga keutuhan finansial global dan perputaran uang dan juga perdagangan

4. Anggota G20 Akan Mendorong Adaptasi Inovasi Teknologi terhadap Praktek Agrikultur

Pertumbuhan teknologi mendorong praktek agrikultuur untuk berkembang juga, anggota G20 berkomitmen untuk mendukung adopsi praktek-praktek digital untuk mempercepat produktifitas dan harmoni bersama para petani dan para nelayan agar menaikan penghasilan mereka dan meningkatkan efisiensi mereka

Begitulah keputusan-keputusan dalam deklarasi Bali pada G20 yang telah selesai kemarin, Resesi 2023 memang masih belum terlihat namun kita bisa mempersiapkan diri dalam kemungkinan adanya badai yang mendatang.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DK
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini