Mengenal 5 Penutup Kepala Suku Asli Indonesia

Mengenal 5 Penutup Kepala Suku Asli Indonesia
info gambar utama

Indonesia dihuni oleh 1.340 suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Kurang dari separuhnya masih kental dengan adat istiadat dan hidup dari alam. Banyak di antara mereka bahkan tidak tersentuh modernisasi. Keunikan suku di Tanah Air ini beraneka ragam, meliputi ritual, kepercayaan, kekuatan, dan pakaian adat.

Nah, bicara soal pakaian adat, semua suku di Indonesia punya kekhasannya masing-masing. Yang membuat mereka berbeda, terdapat pada penutup kepala. Bukan saja bentuknya yang beragam, tapi aksesori yang satu ini biasanya menandakan suatu kehormatan atau punya makna tersendiri bagi kehidupan para warga suku.

Dalam aktivitas sehari-hari, banyak penduduk suku asli di Indonesia menaruh simbol besar pada penutup kepala. Berikut rangkumannya.

Lopi Sandeq, Perahu Layar Tercepat di Dunia Peninggalan Suku Mandar

Passapu Suku Kajang

Suku kajang punya ciri khas berpakaian serba hitam dan terkenal dengan ilmu doti (santet) yang sangat mematikan. Mayoritas penduduk suku ini tinggal di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Tak hanya dari pakaian, identitas suku Kajang juga terdapat pada penutup kepalanya yang dinamakan passapu, terbuat dari kain tenun asli berwarna hitam. Passapu hanya digunakan oleh kaum lelaki suku Kajang dalam aktivitas sehari-hari juga upacara adat.

Para pria yang mengenakan passapu dalam kesehariannya disebut to passapu. Mereka berasal dari keturunan suku Kajang yang telah dewasa, memiliki kepercayaan tentang patuntung (kepercayaan animisme yang menyebut Tuhan sebagai Tu Rie A’rakna), mahir melakukan ritual Kajang, serta bertanggung jawab menjaga passapu sebagai identitas kebudayaannya. Di samping itu, pria suku Kajang yang memakai passapu menandakan bahwa dia berasal dari suku Kajang.

Sebetulnya, tak hanya suku Kajang yang memakai passapu, tapi suku Makassar dan Toraja juga. Bedanya, suku Kajang berwarna hitam, bercorak garis biru vertikal, dan berbentuk segitiga bak perahu pinisi. Kemudian, orang suku Kajang yang memakai passapu dapat dilihat dari busananya yang serba hitam serta tak beralas kaki. Passapu suku lain itu hanya digunakan pada upacara adat saja.

Mahkota Kasuari suku Asmat

Kaum pria Suku Asmat memiliki penutup kepala berbentuk mahkota dari anyaman pucuk daun sagu. Mahkota itu dihiasi bulu burung kasuari atau kakatua putih. Penutup kepala ini bukan sekadar aksesoris, tapi ia melambangkan kehormatan tertinggi pada alam yang memberi mereka kehidupan. Bahan-bahan yang diperoleh dari lingkungan sekitar menyimbolkan kekuatan alam yang melingkupi kehidupan suku Asmat.

Kemudian, bagi lelaki suku Asmat, mahkota itu dianggap suatu penghormatan kepada roh nenek moyang dan leluhur mereka. Apapun yang mereka pakai, diyakini akan berpengaruh pada hidup dan nasib mereka di kemudian hari.

Mahkota itu selalu dipakai pada upacara adat tertentu. Ia juga menandakan jati diri suku Asmat dan menunjukkan kearifan lokal kepada dunia.

Topi Burung Ruai suku Dayak

Berikutnya ada topi burung ruai dari suku Dayak, Kalimantan. Sesuai namanya, penutup kepala ini dihiasi bulu burung ruai yang cantik. Ia biasa dipakai oleh kaum wanita suku Dayak.

Topi ini mengandung makna keindahan serta kelincahan nenek moyang dalam menjaga kelestarian alam, seperti burung ruai. Di samping itu, rupa burung ruai nan indah melambangkan kecantikan perempuan dayak. Nama burung ini bahkan kerap dipakai untuk merayu gadis Dayak.

Lomar dari Suku Badui

Suku Badui tinggal di Desa Kanekes, Leuwidamar, Banten. Suku asli Indonesia yang satu ini memiliki aturan adat yang ketat bagi penduduknya, termasuk soal pakaian. Orang suku Badui hanya menggunakan warna hitam dan putih dengan mode sederhana pada pakaian mereka.

Bahannya didapatkan dari menanam sendiri biji kapas hingga panen. Penutup kepala suku Badui dinamakan lomar. Bentuknya segitiga dengan warna dasar biru tua dan corak batik berwarna putih. Umumnya, lomar memiliki motif sepasang sayap yang dihiasi gari-garis membentuk siluet rumah atau lumbung. Keseluruhan bidang kain didominasi oleh bulatan kecil secara simetris.

Lomar lengkap dengan pakaian adat Badui luar pernah dikenakan Presiden Joko Widodo kala menghadiri sidang tahunan MPR RI 2021.

Mengutip Kompas.com, kepala suku Desa Kenekes menerangkan, lomar itu sebetulnya kain, kalau sudah dipakai namanya kain ikat. Ia melambangkan persatuan seluruh bangsa dan negara di bawah undang-undang.

Waiyo, Yatoo, dan Migabay dari Suku Mee

Terakhir ada penutup kepala suku Mee. Suku yang tinggal di Pegunungan Tengah, Papua ini memiliki tiga jenis topi sesuai kedudukan pemakainya.

Pertama, ada waiyo, topi kebesaran yang biasa dipakai oleh kepala suku atau orang kaya (tonowi) pada pesta adat. Waiyo terbuat dari serat kulit kayu dan bulu kasuari.

Kedua, yatoo, topi perempuan berbentuk kantong besar yang bisa menutupi kepala hingga badan bagian belakang.

Ketiga, ada migabay yang dapat dipakai sehari-sehari oleh siapapun, misalnya untuk berkebun atau pergi ke pasar. Ia terbuat dari kulit kayu melinjo (kegemo) dan kulit batang anggrek yang dianyam, lalu diikat tali kayu wupi dan diberi mege (cangkang karang).

Asal Usul Talang Mamak, Suku Asli Pedalaman Riau Warisan Datuak Parpatiah Nan Sabatang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini