Kaleidoskop 2022: Cerita Masa Silam untuk Peradaban Indonesia di Masa Depan

Kaleidoskop 2022: Cerita Masa Silam untuk Peradaban Indonesia di Masa Depan
info gambar utama

Memasuki tahun 2022, Indonesia telah memulai babak baru yang menentukan untuk masa depan. Walau masih menghadapi krisis akibat pandemi, tantangan masa depan tidak bisa terabaikan begitu saja.

Tantangan masa depan, salah satunya bisa terbangun dari narasi-narasi peradaban besar masa silam. Taburan masa silam ini tidak hanya bisa tertuang dari buku-buku lapuk di perpustakaan, tetapi juga cita-cita indah di masa depan

Kali ini Pemerintah Indonesia telah menetapkan Nusantara untuk nama Ibu Kota Baru Indonesia di Kalimantan Timur (Kaltim). Ketetapan ini tertuang dalam RUU IKN yang diajukan oleh pemerintah.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam rapat panitia kerja RUU IKN di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (17/1/2022) menjelaskan Nusantara dipilih karena sudah menjadi ikonik di seluruh dunia.

“Alasannya adalah Nusantara sudah dikenal sejak dahulu dan ikonik di internasional, mudah dan menggambarkan kenusantaraan kita semua, Republik Indonesia, dan saya kira kita semua setuju dengan istilah Nusantara itu,” jelas Suharso.

Setiap narasi sejarah, tentunya memerlukan data ataupun tulisan yang membuatnya otentik. Hal inilah yang membuat Pemerintah Indonesia berusaha membawa pulang Prasasti Pucangan peninggalan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan dari India.

Desa Lobu Tua: Memori Barus Sebagai Pelabuhan Internasional yang Mendunia

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Hilmar Farid melalui akun Instagramnya @Hilmarfarid. Dirinya mengunggah fotonya yang berada di samping prasasti yang memuat informasi tentang silsilah Raja Airlangga.

“Prasasti Pucangan. Memuat informasi tentang silsilah Raja Airlangga dan beberapa peristiwa dalam perjalanannya sebagai raja,” kata Hilmar.

Prasasti Pucangan telah lama teronggok di gudang India dan kurang mendapat perhatian. Karena itu Hilmar menyebut akan membicarakan kemungkinan memulangkan prasasti ini dengan Kementerian Kebudayaan India.

Prasasti Pucangan bisa dikatakan salah satu prasasti yang sangat penting, karena memuat profil Prabu Airlangga, Raja Jawa yang bahkan kiprahnya dianggap lebih hebat dari Hayam Wuruk dari Majapahit.

“Karena itu sesuai dengan amanat UU Cagar Budaya, maka prasasti itu harus dilindungi dan dibawa pulang ke Indonesia untuk dirawat dan dipelajari,” ucap Kepala Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI New Delhi, Hanafi.

Membongkar dari dalam

Tidak hanya mencoba melacak jejak kejayaan di luar, para arkeolog juga terus mencari tanda peradaban di dalam negeri. Salah satunya adalah penemuan Prasasti Empu Sindok yang mengejutkan publik.

Peninggalan sejarah ini ditemukan di situs arkeologi Gemekan, Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). Penemuan ini berasal dari proses penggalian secara bertahap dari 7-12 Februari 2022.

Arkeolog BPCB Jatim Zakaria Kasim menerangkan prasasti yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh itu bentuk aslinya merupakan limas segi lima. Karena kondisinya yang patah membuat prasasti itu tampak seperti segi enam.

Zakaria menjelaskan bahwa dalam naskah yang digurat pada batu andesit itu menyebut nama Empu Sindok. Di sana juga terdapat cerita mengenai kondisi sosial dan angka tahun pada prasasti.

“Di prasasti itu ditemukan angka tahun 852 saka atau 930 Masehi dan menyebutkan nama Raja Empu Sindok (Raja Kerajaan Medang). Prasasti juga menyinggung pembeliaan lahan dengan tiga kati emas,” terangnya.

Penemuan prasasti ini merupakan temuan spektakuler dalam 20 tahun terakhir. Diketahui arkeolog Indonesia sudah cukup lama tidak menemukan prasasti yang digurat di atas batu andesit.

Kemasyhuran Barus yang Pernah Hilang Ditelan Gelombang Besar Tsunami

Prasasti ini juga penting sebagai data primer soal sejarah pada masa lalu. Bagi tim arkeolog, prasasti ini akan menambah data sejarah arkeolog dan melengkapi data-data sebelumnya. Juga jadi bukti fisik Empu Sindok benar-benar telah memindahkan pusat kekuasaannya.

Selain itu, pada 5-12 November 2022, juga dilakukan penggalian kembali untuk situs Adan-adan, di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Situs ini memiliki corak khas Candi Buddha Mahayana.

Hal yang menarik adalah luas dari situs yang juga dikenal sebagai Candi Gempur ini kurang lebih mendekati Candi Borobudur. Untuk sekarang, situs yang diperkirakan dibangun sekitar abad ke 10-14 ini juga dianggap sebagai Candi Buddha terbesar di Jawa Timur.

Kini masyarakat juga bisa melihat secara langsung hasil ekskavasinya. Hal ini dilakukan sesuai dengan penelitian BRIN sebelumnya. Untuk benda yang ditemukan pada situs ini dan hendak ditunjukkan kepada publik adalah arca Dwarapala, kepala, kala serta makara.

Dengan sudah mulai dibukanya situs ini bagi masyarakat umum, hal ini merupakan sebuah langkah awal untuk dibukanya situs Adan-Adan sebagai tempat wisata. Untuk melindungi artefak tersebut, rencananya akan dibuatkan cungkup permanen di atasnya.

“Hal ini disambut hangat oleh warga, sebab kunjungan di Desa Adan-adan ini bisa turut meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” papar Ketua Tim Peneliti Sukowati Sulistyo.

Indonesia dalam masa depan

Peradaban masa lalu bisa saja membawa manfaat bukan hanya demi kepentingan ilmu pengetahuan, tetapi juga ekonomi. Hal inilah yang telah disadari Pemerintah Kota Depok yang akan berkolaborasi dengan Pemerintah Belanda.

Sejak berabad-abad silam, Belanda memiliki keterkaitan erat dengan Kota Depok terutama masyarakatnya. Karena itu Pemerintah Belanda tidak main-main ingin berkolaborasi untuk menggali potensi wisata sejarah di kawasan tersebut.

“Saya sudah dua kali mengunjungi Kota Depok, suatu kehormatan yang besar karena Belanda dan Depok ada hubungan yang kuat terhadap peninggalan sejarah,” kata Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns.

Dikatakannya, pemerintah Belanda ingin menjalin hubungan dengan Pemkot Depok untuk menggali potensi wisata sejarah. Dia juga mengajak sektor wisata, akademisi, dan masyarakat untuk bersinergi bersama dalam mengembangkan potensi wisata di Depok.

“Kami ingin semuanya punya peran agar peninggalan sejarah bisa lebih menarik,” ujar Dubes yang fasih berbahasa Indonesia tersebut.

Situs Gondang: Cagar Budaya Zaman Mataram Kuno yang Bisa Ubah Narasi Sejarah

Peninggalan sejarah memang perlu dilestarikan, hal inilah yang menjadi tantangan bangsa Indonesia di masa depan. Apalagi bila penemuan cagar budaya ini harus dihadapi dengan pembangunan infrastruktur modern.

Momen ini terjadi ketika PT Moda Raya Terpadu (MRT) menemukan jalur trem zaman kolonial Belanda saat melakukan proyek MRT Fase 2 di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Penemuan trem ini jadi kepanjangan dari rel trem yang juga telah ditemukan tahun lalu.

Pada tahun lalu juga ditemukan rel trem di tengah pembangunan proyek MRT Jakarta Fase 2A paket kontrak atau CP 203 Glodok-Kota yang menyita perhatian publik. Apalagi, jalur trem tersebut sudah ada sejak zaman Belanda atau sekitar tahun 1869.

“Itu memang semuanya lanjutan dari itu kan dari Harmoni sampai ke Kota. Terusnya dari Kota balik lagi. Tetapi kan itu bisa saja bukan dari Harmoni saja, mungkin juga dari jalur-jalur lain. Saling sambung-menyambung,” ujar arkeolog Chandrian Attahiyat.

Dirinya menegaskan bahwa rel trem yang ditemukan tersebut sudah seharusnya dilakukan sebagai cagar budaya. Dengan begitu, MRT harus segera mengamankan penemuan rel tersebut melalui perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD).

Peninggalan peradaban masa silam ini memang seharusnya tidak hanya diteliti dan diungkap kepada publik. Namun lebih dari itu, perlu menjadi karakter bangsa untuk menyongsong masa depan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini