Rawa Jombor Punya Pesona yang Perlu Dipertahankan

Rawa Jombor Punya Pesona yang Perlu Dipertahankan
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Siapa sangka jika salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang kerap dijuluki Klaten Bersinar ini memiliki banyak sekali potensi wisata dengan keindahan alam di sekitarnya. Berbagai tempat di Klaten telah dijadikan objek wisata seperti objek wisata air yang mungkin bisa dijadikan opsi tujuan berlibur ketika Kawan GNFI datang berkunjung.

Apalagi lokasi Klaten yang sangat strategis di tengah-tengah DIY dan Solo Raya ini membuat kita tidak heran lagi jika banyak pengunjung yang menjadikan daerah Klaten sebagai destinasi kota wisata. Rawa Jombor merupakan salah satu objek wisata yang cukup terkenal di daerah Klaten, tidak hanya rawanya yang menarik, tetapi keunikan usaha warung apung milik masyarakat yang juga menjadi daya tarik tersendiri. Namun, seiring berjalannya waktu kondisi Rawa Jombor justru semakin terancam mengalami pencemaran air dikarenakan beberapa aktivitas masyarakat yang tidak mempedulikan kebersihan air di daerah tersebut.

Rawa Jombor Klaten
info gambar

Rawa Jombor dulunya merupakan danau semi buatan pada zaman Belanda yang dibangun di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Awalnya berupa rawa kecil sebagai penampungan air hujan, tetapi lambat laun meluas dan mempengaruhi perkampungan sampai menjadi danau (Solopos, 2022). Dikutip dari Klatenkab.go.id, keberadaan Rawa Jombor memiliki fungsi utama yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitar: sebagai sumber penampungan air utama, pengendali banjir dan sumber pengairan area pertanian di Kabupaten Klaten. Akan tetapi, pengalihan fungsi Rawa Jombor terjadi ketika rawa tersebut menjadi tempat budidaya keramba ikan dan pariwisata yang justru mengancam fungsi utama karena pengelolaannya yang kurang terkendali.

Seperti yang kita ketahui Kawan GNFI, bahwa air adalah sumber kehidupan yang utama dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan seperti simbolis pemurnian, perlindungan, dan penyembuhan; simbol kehidupan; serta simbol gerakan dari penebusan (Priyotamtama, 2021). Oleh karena itu, untuk melindungi dan menjaga ketersediaan air di Rawa Jombor maka perlu suatu strategi yang tepat untuk menangani permasalahan tersebut.

Dikutip dari jatengprov.go.id, pemerintah Kabupaten Klaten telah melakukan revitalisasi Rawa Jombor sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya ancaman kekeringan dan menghindari dampak buruk sedimentasi serta pencemaran air akibat keberadaan warung apung dan keramba ikan. Dapat dilihat dari segi ilmu pengetahuan bahwa revitalisasi tahap I sudah berhasil dilakukan dan revitalisasi Rawa Jombor pun berlanjut ke tahap II dengan anggaran pengelolaan kawasan rawa yang bersumber dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo guna meningkatkan nilai lingkungan, sosial, dan ekonomi. Strategi inilah yang dilaksanakan oleh pemerintahan daerah dalam menangani permasalahan supaya terhindar dari pencemaran air, penumpukan sampah dan eceng gondok, serta sedimentasi yang berpotensi membawa pengaruh buruk terhadap kapasitas tampungan air rawa. Jika dikupas satu-persatu, sedimentasi terjadi karena pembusukan eceng gondok. Keadaan diperburuk dengan warung apung dan keramba yang tidak dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat sehingga terjadi pencemaran air, contoh sederhananya adalah penumpukan sampah sehingga meningkatkan terjadinya sedimentasi dan mengurangi cakupan luasan permukaan air.

Kabar baiknya, rawa terbesar di Klaten ini sudah terhindar dari lautan eceng gondok serta steril dari keberadaan warung apung dan keramba yang semakin memperlihatkan kebersihan dari rawa tersebut sehingga nantinya dapat menjadi destinasi wisata andalan di Kabupaten Klaten. Dari segi etika dapat membantu Kawan GNFI dalam perwujudan nilai kemanusiaan, kehidupan dan intrinsik yang terdapat dalam ciptaan Tuhan melalui Rawa Jombor yang disediakan untuk manusia nikmati, rawat, dan jaga. Bersama Kawan, kita bisa melihat bagaimana etika manusia dalam menangani permasalahan yang terjadi. Terkait Rawa Jombor, tentunya terlihat bahwa pemerintahan setempat berupaya dalam menjaga kelestarian rawa. Namun, upaya ini tidak akan sukses 100% apabila masyarakat setempat termasuk pengunjung objek wisata belum menerapkan prinsip etika yang harus dipahami jika ingin memenuhi hak moral setiap individu dan masyarakat secara keseluruhan yang berkaitan dengan tingkat kesadaran diri akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian kapasitas tampungan air di Rawa Jombor, Kabupaten Klaten.

Adanya kabar baik dengan mulai terlihatnya kebersihan rawa yang terawat merupakan bagian dari tindakan manusia yang berkaitan dengan prinsip dan nilai moral dimana tindakan-tindakan inilah yang mengarah pada tindakan positif yang dilakukan manusia selama menjalani kehidupan sehingga menghasilkan dampak-dampak yang baik. Berdasarkan prinsip moral yang telah ditetapkan maka manusia harus semakin sadar akan pentingnya menjaga kekayaan alam termasuk sumber air karena sumber daya alam ini menjadi salah satu sumber utama bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan moral dapat dicapai untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya keberadaan alam di sekitar yang tidak hanya sekedar dimanfaatkan saja, tetapi juga bagaimana cara kita menyadari untuk menjaga ketersediaan untuk keberlanjutan hidup di masa mendatang.

Menurut Priyotamtama (2021), kajian sains membantu untuk mengetahui secara ilmiah keberadaan sumber air, dari segi etika membantu manusia untuk membuat keputusan cara melestarikan, melindungi, dan mendistribusikan sumber air di bumi. Sedangkan segi spiritualitas, membantu dalam mengidentifikasi keyakinan inti hati manusia untuk menyadari arti dan nilai air dimana manusia percaya bahwa air memiliki nilai intrinsik yang dapat ditunjukkan dengan bagaimana cara manusia bertindak dalam mengekspresikan spiritualitas sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber daya air di bumi yang telah disediakan oleh Sang Pencipta sebagai penunjang ketersediaan air bersih bagi makhluk hidup.

Dengan demikian, manusia dapat memulai merealisasikan kesadarannya untuk memiliki nilai apresiasi kepada alam dengan menikmati objek wisata Rawa Jombor akan tetapi juga menyadari akan pentingnya tidak membuang sampah di rawa, melakukan pembersihan eceng gondong, mensterilkan warung apung dan keramba ikan yang dapat menyebabkan sedimentasi serta mempengaruhi kualitas dan kapasitas sumber tampungan air di Rawa Jombor bagi masyarakat setempat.



Referensi:

jatengprov.go.id. (2021, June 14). Revitalisasi Rowo Jombor Tahap II Segera Dimulai. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Retrieved December 10, 2022, from https://jatengprov.go.id/beritadaerah/revitalisasi-rowo-jombor-tahap-ii-segera-dimulai/

Klatenkab.go.id. (2021, June 15). Revitalisasi Rawa Jombor Mendesak, Ancaman Kekeringan Mengintai. Kabupaten Klaten. Retrieved December 10, 2022, from https://klatenkab.go.id/revitalisasi-rawa-jombor-mendesak-ancaman-kekeringan-mengintai/

Priyotamtama, P.W., 2021. Merawat Bumi, Rumah Kita bersama. Sanata Dharma University Press, Yogyakarta, pp. 142-145, 164-169.

Solopos. (2022, May 18). Asal-Usul Rawa Jombor, dari Kampung Tergenang Jadi Objek Wisata Menawan. Solopos.com. https://www.solopos.com/asal-usul-rawa-jombor-dari-kampung-tergenang-jadi-objek-wisata-menawan-1319072

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MK
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini