Arief Rahman Daeng Rate dan Penemuan Budaya Tradisi Lisan Sinrilik

Arief Rahman Daeng Rate dan Penemuan Budaya Tradisi Lisan Sinrilik
info gambar utama
Dokumen Pribadi Arif Rahman Daeng Rate
info gambar

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Penampilan Arif Rahman Daeng Rate beserta teman-temannya pada kegiatan Makassar Biennale 2021, membuat terpukau seluruh pengunjung yang datang pada acara tersebut.

Penjiwaan dalam pelantunan cerita yang disampaikan, serta dinamika irama alat Keso’Keso’ (alat asal Makassar) yang dipakai membuat pengunjung memerhatikannya dengan saksama. Penampilan Sinrilik Keso’Keso’ menjadi hal yang masih jarang ditampilkan di tiap-tiap acara para masyarakat utamanya di Makassar.

Arif Rahman Daeng Rate merupakan seorang pemuda asal Kec. Kajang, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Keluarga dari Daeng Rate bisa dibilang gemar dalam memberikan dan juga mendengarkan cerita-cerita.

Khususnya dari sang ayah dan nenek gemar mendongengkan Pui’Pui’ (cerita-cerita) sebelum Daeng Rate tidur. Walaupun cerita-cerita tersebut juga sudah dihafalkan oleh para anak-anaknya, ayah dan nenek dari Daeng Rate tetap saja memberikan cerita tersebut.

Suatu hari, ayah Daeng Rate menceritakan tentang budaya bertutur lisan asal Makassar yang Bernama Sinrilik. Lantas, Daeng Rate penasaran dengan apa dan dimana Ia bisa menonton Sinrilik itu, tetapi ayahnya menjawab bahwa Sinrilik itu sudah tidak ada. Hal tersebut membuat Daeng Rate penasaran akan misteri yang belum terjawabkan tersebut.

Saat Daeng Rate memasuki usia SMA, masa itu membuat dirinya berkenalan dan punya ketertarikan dengan dunia musik. Pada masa itu juga, Ia mulai aktif dalam band sekolah dan bergabung menjadi seorang vokalis.

Ketertarikannya pada musik terus berlanjut hingga Ia berstatus mahasiswa. Saat itu, tiba- tiba muncul kerinduan dari Daeng Rate pada nyanyian serta cerita-cerita yang pernah dilantunkan oleh almahrhum enneknya sebelum tidur saat Ia maish kanak-kanak. Hal itu membawa ingatannya pada budaya Sinrilik yang pernah disampaikan juga oleh ayahnya.

Sejak saat itu, Daeng Rate memulai pencarian Sinrilik yang dahulu sebatas rasa penasarannya saja. Titik terangnya dimulai ketika Ia mencari sejarah-sejarah dari Sinrilik di internet dan memperlihatkan penampilan dari salah satu maestro Sinrilik yaitu, Sirajuddin Daeng Bantang. Semangat untuk mencari tahu pun membara, tetapi belum sempat bertemu dengan Daeng Bantang, ternyata Daeng Bantang meninggal dunia.

Tahap pencarian informasi lebih lanjut tersebut semata-mata dilakukan oleh Daeng Rate untuk mengobati rasa kerinduan atas cerita yang dilantunkan oleh neneknya. Tetapi semakin belajar dan paham tentang Sinrilik, ternyata ada sesuatu yang menjadi lebih penting dibanding kemauan mengobati kerinduan bagi Daeng Rate dan dari budaya Sinrilik itu sendiri. Sinrilik pada masa sekarang semakin sedikit pendengar bahkan pemainnya juga semakin berkurang.

Setelah memberanikan diri untuk datang ke rumah Daeng Bantang, ternyata adik dari Daeng Bantang itu sendiri juga merupakan seorang Passinrilik, yaitu H. Syarifuddin Daeng Tutu. Proses pembelajaran tentang Sinrilik oleh Daeng Rate akhirnya berjalan dan semakin berkembang. Melalui sosok Daeng Tutu, Daeng Rate memperoleh guru sekaligus “perpustakaan” atas kebudayaan-kebudayaan yang ternyata masih banyak ada tersebar di Makassar.

Sambil belajar dan berproses bersama Daeng Tutu, Daeng Rate juga melatih dirinya untuk ikut di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni di salah satu perguruan tinggi di Kota Mahassar yakni Uiversitas Negeri Makassar (UNM). Ia juga tergabung dalam organisasi Lentera (Lembaga Seni dan Budaya Bahasa Inggris UNM). Melalui organisasi tersebut perjalanan Assinrilik Keso’Keso Daeng Rate dimulai.

Lewat suatu undangan penampilan di kegiatan ulang tahun Organisasi Daerah (Organda) Soppeng. Daeng Rate merasakan ada suatu kekurangan dari penampilannya di acara

tersebut. Kekurangan tersebut dinilai ada pada kurangnya perhatian ataupun interaksi dari audiens terhadap penampilannya dengan Sinrilik. Musabab, bentuk penampilan yang baik dan mengena di hati audiens itu terjadi suatu interaksi antara audiens dan Passinrilik (Pemain Sinrilik)

Keresahan tentang menurunnya minat terhadap budaya Sinrilik ternyata tidak hanya dirasakan oleh Daeng Rate. Seluruh pemain-pemain Sinrilik di Kota Makassar hingga pembuat alat Keso’Keso’ merasakan adanya penurunan terhadap minat masyarakat Makassar dalam mengkaji dan melestarikan budaya sendiri.

Bahkan ada hal yang membanggakan sekaligus memilukan, yaitu fakta bahwa orang luar lebih tertarik dengan budaya tutur lisan ini, dibanding orang Makassar dengan budaya sendiri yang menjadi identitasnya sendiri.

Proses pembelajaran sosok Arif Rahman Daeng Rate tidak hanya bergantung pada informasi teks-teks atau cerita-cerita dari Passinrilik. Ia mencoba juga mengasah rasa ingin tahunya pada masyarakat yang pernah mengalami pengalaman tentang budaya Sinrilik Keso’Keso’ ini.

Pencarian tersebut ia mulai dari lingkungan sekitarnya terlebih dahulu kemudian ke beberapa daerah, seperti Pangkep, Maros, Jeneponto, Gowa, hingga ke kampungnya Desa Kajang.

Pendekatan dan proses pemenuhan rasa ingin tahu Daeng Rate dilakukan dengan hikmat dikalangan para masyarakat di desa-desa yang ia kunjungi. Dari proses perkunjungan Daeng Rate bersama teman-teman pengkaji dan pemain dari budaya tutur lisan ini memperoleh beberapa informasi baru. Bahkan bisa melihat betapa rindunya masyarakat dulu tentang Sinrilik yang dimainkan dengan berbagai cerita yang disajikan.

Cerita tersebut bisa berupa dongeng, kisah penokohan seperti Syekh Yusuf, kisah perjuangan para pahlawan. Bahkan, pada zaman Kerajaan Gowa ke-10, Sinrilik digunakan sebagai media komunikasi antar pihak kerajaan dengan masyarakat, dan aspirasi yang ingin disampaikan kepada raja yaitu melalui Passinrilik. Sinrilik juga bisa digunakan media kritik masyarakat atau dari Passinrilik terhadap isu-isu masalah lingkungan yang ada.

Kini, Arif Rahman Daeng Rate sudah dipanggil untuk tampil bersama Sinrilik Keso’Kesonya’ di beberapa daerah. Bahkan sudah ada juga beberapa dokumentasi Daeng Rate bermain Sinrilik dan sebagai tamu di beberapa channel Youtube.

Arif Rahman Daeng Rate berharap agar pemerintah, masyarakat, dan para anak muda secara khusus dapat melestarikan budaya lokalnya.

“Tumbuhkanlah lebih rasa ingin tahu tentang apa saja yang sudah dititipkan leluhur kepada kita. Kita mungkin belum tertarik sebab belum ada kesadaran tentang kausalitas dari objek atau fenomena tersebut. Contoh saja pada apa fungsi dan alasan dilakukannya Barasanji, Mappacci, Angngaru, dan sebagainya. Sebab, kita ini tumbuh dari dari tanah yang disertai dengan identitasnya sendiri. Maka, ketika budaya itu hilang, maka tentu ada peran atau tanggungjawab atau akibat dari kita yang bersikap tidak peduli tersebut,” jelasnya dalam wawancara dengan penulis.

Kepada pemerintah sendiri, Daeng Rate berharap lebih meningkatkan perhatian pada budaya-budaya di tiap daerahnya. Khususnya budaya Sinrilik di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Muatan lokal terkait budaya daerah diajarkan di sekolah-sekolah dapat menjadi salah satu cara untuk melestarikan budaya Sinrilik.

Sinrilik adalah seni melantunkan syair-syair berirama asal Makassar yang berisi sastra lisan, budaya, sejarah, tutur, roman, bahkan filosofi religius yang sarat makna hakikat, maupun makrifat, kini membutuhkan pelestarian yang tidak hanya dengan penuturan lisan dari para masyarakat Makassar tapi seluruh Indonesia agar budaya ini lebih terkenal di dunia.

Referensi: Wawancara

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MN
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini