Bedug Khas dari Bengkulu

Bedug Khas dari Bengkulu
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Apa Itu Dol?

Dol merupakan alat musik perkusi tradisional dari provinsi Bengkulu yang terbuat dari bonggol kelapa. Dimainkan dengan cara dipukul menggunkan rotan berukuran 5-10 cm yang biasanya beriringan dengan tassa (semacam rebana yang dimainkan dengan rotan sebagai alat pukulnya) dan kolintang.

Sekilas dol mirip dengan bedug yang ada di masjid, hanya saja dol lebih kecil dan agak lonjong serta diberi hiasan pada sisinya. Dol biasa dimainkan saat perayaan tabot yang di adakan setiap 1-10 muharram untuk memperingati meninggalnya cucu nabi Muhammad SAW yaitu Hasan dan Hussein.

Dol | Foto: adat-tradisional.blogspot.com
info gambar

Sejarah Dol

Mengutip dari Alat Musik Dol (2019) oleh Mardinata, dol awalnya dibawa oleh masyakat muslim india yang pada saat itu membangun Benteng Malborough di bawah pemerintahan Kolonial Inggris. Umat muslim india yang kemudian menikah dengan warga asli Bengkulu dikenal dengan keluarga tabot. Dari keturunan keluarga tabot inilah cikal bakal dol menjadi alat musik tradisonal daerah Bengkulu.

Dol awalnya hanya dimainkan saat perayaan tabot dan orang yang memainkannya juga harus dari keluarga tabot itu sendiri. Dengan seiring perkembangan zaman, dol tidak lagi hanya menjadi milik keluarga tabot. Semua orang boleh menikmati dan memainkan dol, baik untuk perayaan tabot maupun perayaan lainnya.

Teknik Bermain Dol?

Ada beberapa teknik pukulan dalam dol, yaitu :

  • Suwena

Suwena merupakan teknik pukulan dengan tempo lambat yang biasanya dimainkan saat suasana sedang berduka. Ini bertujuan untuk menghormati keluarga yang sedang berduka dan juga untuk memberi suasana yang khidmat.

  • Tamatam

Tamatam merupakan teknik pukulan tempo cepat yang identik dengan suasana bahagia. Teknik ini juga dapat memberikan semangat baik untuk pemain maupun orang yang mendengarnya.

  • Suwari

Suwari merupakan teknik pukulan satu-satu yang biasanya diamainkan pada saat perjalanan panjang.

Dalam pertunjukkan dol, umumnya pemain tidak hanya mengandalkan teknik pada pukulan tetapi juga melakukan gerakan energik sambil bersorak seperti sedang sahut-sahutan antar pemain.

Hal ini menjadikan pertunjukkan dol menjadi sangat seru untuk dinikmati. Selain untuk pertunjukkan musik, bunyi khas yang dihasilkan dari dol juga dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti pada tari persembahan yang biasanya dilakukan saat pembukaan acara formal.

Di Bengkulu, para pemain dol ataupun penari tergabung dalam suatu organisasi yang disebut sanggar seni. Nah, senggar seni inilah yang menjadi wadah bagi masyarakat Bengkulu untuk belajar serta mendalami budaya daerah mereka sendiri. Sanggar seni bahkan menjadi organisasi yang hampir selalu ada pada kegiatan ekstrakulikuler sekolah.

Dol pernah mendapat predikat The Best Performarmance di Singapore Art Festival 2007 dan penampilan musik di Rainforest World Music Festival di Serawak pada 2016.

Bahkan dol juga mendapat penghargaan dari Musium Rekor Indonesia dan MURI melalui Tabuh Dol terbanyak dan terpanjang di Indonesia bahkan dunia karena memainkan 500 dol sekaligus dalam rangka memperingati HUT Bengkulu ke-49.

Setelah memecahkan rekor pada 2017, pemerintah berencana untuk terus meningkatkan prestasi tersebut. Namun sayangnya hal itu tidak terealisasikan, ditambah pandemi COVD-19 yang tidak memungkinkan untuk bisa melakukan kegiatan tersebut.

Setelah mendapat berbagai macam penghargaan, hendaknya pemerintah khususnya pemerintah Bengkulu lebih giat lagi untuk melaksanakan dan mendukung kegiatan budaya guna melestarikan alat musik tradisional agar lebih dikenal oleh masyarakt luas bahkan dunia. Serta memberi apresiasi bagi para pegiat seni yang ada di Bengkulu.

Tidak hanya bunga rafflesia yang menjadi ikon dari provinsi Bengkulu, namun juga ada alat musik dol yang menunjukkan bahwa Bengkulu juga memiliki kebudayaan yang tidak kalah unik dari daerah lain.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MA
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini