Eksistensi Tepung Tawar dalam Menanamkan Nilai Islam Masyarakat Melayu Pontianak

Eksistensi Tepung Tawar dalam Menanamkan Nilai Islam Masyarakat Melayu Pontianak
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Tepung tawar merupakan salah satu bagian prosesi yang sakral dalam upacara adat budaya melayu. Upacara tepung tawar dilakukan diberbagai acara seperti pernikahan, guting rambut, pindah rumah, menempati rumah baru, khitanan dan lainnya

Dikatakan sebagai tepung tawar karena dalam alat dan bahan utama yang digunakan dalam pelaksanaan ini yaitu tepung yang terbuat dari beras yang digiling halus dan dicampur sedikit kunyit (sebagai pewarna) hingga berwama kuning, dan disebut tawar, karena sebagai penepok atau penepasnya yang terdiri dan daun-daunan yang disebut penawar. Daun yang digunakan yaitu daun kelapa yang dirangkai membentuk bunga tapak bebek dan diberi tangkai, daun juang-juang, daun sitawar, daun sidingin, daun ati-ati dan daun gandarusa yang telah diikat menjadi satu dengan benang tujuh rupa.

Masyarakat melayu Pontianak meyakini bahwa upacara tepung tawar dapat membuang sueh (dalam bahasa melayu) atau menolak bala yang akan menimpa seseorang. Cara pelaksanaan tepung tawar yaitu penepung tawar merenjis-renjiskan tepung dan air mawar pada orang atau benda yang akan di tepuk tepung tawari dengan penepas yang terbuat dari ikatan dedaunan sambil membacakan shalawat Nabi.

Kemudian dilanjutkan dengan menabur-naburkan bunga rampai, beras putih, dan beras kuning ke seluruh badan orang yang bersangkutan, setelah itu diakhiri dengan doa oleh orang yang menepung tawari tersebut. Namun saat ini, alat dan bahan yang digunakan biasanya sudah tidak lengkap, sebab ada yang sudah sulit ditemukan. Selain itu alat yang dibutuhkan tidak dimiliki oleh semua orang, biasanya hanya tetua-tetua saja yang punya.

Upacara ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang dituakan atau dihormati baik dalam keluarga maupun lingkungan tempat tinggal orang yang mempunyai hajatan. Dalam acara pernikahan biasanya dilakukan maksimal oleh 14 orang, yaitu 7 laki-laki dan 7 perempuan, mereka biasanya terdiri dari kedua orang tua, mertua, kakek dan nenek dari kedua mempelai atau yang mewakili, bibi dan paman dari kedua mempelai, dan dua sanak saudara yang dituakan.

Dalam acara khitanan dan guting rambut biasanya juga dilakukan oleh orang-orang yang dituakan, namun jumlahnya harus dalam hitungan ganjil, bisa 3,5,7,9, dan 13. Pada acara pernikahan, khitanan, dan guting rambut biasanya orang yang menepung tawari akan diberi sebuah bunga telur sebagai hadiah dan ucapan terima kasih.

Sedangkan dalam acara pindah rumah atau menempati rumah baru biasanya hanya dilakukan oleh 1 orang saja yang dianggap sangat dihormati untuk menepas-nepaskan daun yang telah diikat pada tiang seri rumah. Sebelum melakukan tepung tawar, penepung tawar hendaknya membaca basmallah serta diiringi shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini bermakna bahwa dalam melakukan sesuatu apapun kita harus kembali dan mengingat Allah SWT.

Alat dan Bahan Tradisi Tepung Tawar Melayu Pontianak | Foto: TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
info gambar

Kaitan Tradisi dan Nilai Islam

Menurut Koentjaraningrat tradisi merupakan kebudayaan yang dilakukan secara berulang yang menjadi warisam turun-temurun oleh masyarakat pada daerah tertentu. Hal penting yang harus ada dalam suatu tradisi dan budaya adalah nilai. Nilai ini diartikan sebagai sebuah konsep yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan untuk mencapai tujuan. Dengan adanya nilai dalam sebuah budaya, menjadikan budaya tersebut tertanam kuat, bertahan lama dan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Dalam budaya, nilai diartikan sebagai makna baik yang diyakini memuat keutamaan dan kebermanfaatan yang dapat dijadikan pembelajaran bagi suatu kelompok masyarakat yang menjalankannya guna menata kehidupan mereka.

Tradisi yang berkembang dalam suatu masyarakat tidak terlepas kaitannya dengan agama. Dalam hubungannya, agama dapat tersebar melalui budaya yang ada dalam masyarakat dan budaya membutuhkan agama untuk melestarikannya. Fungsi dari agama di sini yakni sebagi alat filtrasi suatu tradisi dan budaya yang memiliki nilai-nilai tidak sesuai dengan ajaran yang ada pada agama tersebut.

Dalam Islam, tidak semua budaya dan tradisi yang ada pada masyarakat dapat diterima dan dilakukan dalam kehidupan. Suatu budaya dan tradisi baru dapat diterima dalam Islam apabila budaya tersebut selaras dengan nilai-nilai yang ada di dalam Islam yaitu sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis serta disepakati oleh para ulama atau dalam hukum Islam dikenal dengan istilah 'urf shahih.

Nilai Islam Pada Tradisi Tepung Tawar Melayu Pontianak

1. Nilai Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya, baik saat sedih maupun senang. Begitu juga pada pelaksanaan tepung tawar, dimana dalam prosesnya sangat membutuhkan orang lain sebagai penepung tawar yang diambil dari beberapa orang yang dituakan dan dihormati serta para tamu yang turut mendoakan orang yang ditepung tawari tersebut. Jika semua orang itu tidak ada, maka proses tepung tawar tidak akan dapat terlaksana dengan sempurna.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi tepung tawar terdapat nilai sosial yang mengajarkan kepada kita bahwa manusia diciptakan hidup berdampingan, saling berinteraksi dan harus tolong menolong agar tercipta kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Nilai Kekeluargaan

Tradisi tepung tawar biasanya dilakukan pada acara aqiqahan, gunting rambut, khitanan, pernikahan, pindah rumah, dan membeli barang yang baru. Dalam pelaksanaannya, tentunya orang yang mempunyai hajatan akan mengundang sanak saudara mereka baik yang dekat maupun yang jauh. Selain itu, pada prosesinya dapat kita lihat bahwa yang paling utama menjadi penepung tawar ialah dari pihak keluarga. Dengan dilaksanakannya tepung tawar ini, menjadi sebuah kesempatan untuk mengumpulkan dan mempertemukan keluarga besar. Sehingga antar anggota keluarga dapat melepas rasa rindu mereka. Dengan demikian tradisi tepung tawar ini menjadi ajang untuk mempererat kembali tali silaturahmi semua anggota keluarga.

3. Nilai Syukur dan Takwa

Pelaksanaan tepung tawar dilakukan merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat dan anugerah yang telah Allah SWT berikan kepada seseorang serta sebagai harapan sekaligus doa kepada Allah SWT agar orang yang mendapatkan nikmat tersebut selalu diberi perlindungan serta keselamatan baik di dunia maupun akhirat. Selain itu, nilai agama pada tradisi ini juga dibuktikan dengan dilakukannya serangkaian shalawat yang dalam bahasa melayu disebut syarakalan.

4. Nilai Cinta dan Kasih

Tradisi tepung tawar biasanya dilakukan dalam acara aqiqah, gunting rambut, dan khitanan. Hal ini merupakan bentuk rasa cinta dan kasih sayang orang tua kepada anaknya dengan harapan agar anak tersebut selalu diberikan perlindungan dan keselamatan baik di dunia maupun diakhirat serta dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat, bertakwa, dan berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. Cinta dan kasih sayang sudah menjadi kewajiban orang tua yang harus diberikan kepada anak-anaknya, sebab hal itu akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat kelak.

5. Nilai Kesopanan

Tradisi tepung tawar dilakukan oleh orang-orang yang dituakan dan dihormati dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa tradisi ini mengajarkan kepada kita untuk selalu menghormati, menghargai, memuliakan dan mendahulukan orang yang lebih tua daripada kita dalam melakukan berbagai hal. Ini sejalan dengan sabda Nabi SAW “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. at-Tirmidzi no. 1842 dari shahabat Anas bin Malik).

6. Nilai Cinta Alam

Tradisi tepung tawar memiliki nilai kesatuan dengan alam. Hal ini dapat dilihat pada alat dan bahan yang digunakan dalam tradisi ini kebanyakan berasal dari alam, seperti alat untuk penepasnya yang merupakan ikatan dari dedaunan yang semuanya itu didapat dari alam. Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupannya, manusia selalu berhubungan dengan alam. Allah telah menciptakan alam dengan berbagai kekayaan di dalamnya yang memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Sebagai khalifan di muka bumi ini, tentunya manusia harus memelihara dan melestarikan apa yang telah Allah limpahkan kepadanya.

Referensi:Islami.co | Jurnal Universitas Pasir Pengaraian

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

R
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini