Jalan Panjang Menuju Malang Raya Ramah Difabel

Jalan Panjang Menuju Malang Raya Ramah Difabel
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Apa yang terlintas di benak Kawan GNFI ketika melihat atau mendengar tentang difabel? Mungkin sebagian kita masih menganggap para difabel hanya perlu bantuan sosial secara berkala untuk bertahan hidup. Ternyata anggapan ini tidak berlaku untuk Kertaning Tyas. Delapan tahun lalu, pria yang juga dikenal dengan nama Ken Kerta ini mulai menapaki jalan sunyi untuk mengupayakan kesejahteraan hidup bagi para penyandang disabilitas. Dengan moto sharing job, sharing jaringan, dan sharing modal, Ken Kerta menginisiasi berdirinya organisasi Lingkar Sosial (LINKSOS), sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan.

“Banyak orang baik, banyak organisasi yang baik, tetapi karena tidak bersinergi, tidak berkolaborasi, jadinya tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada,” kata Ken Kerta. LINKSOS adalah pengejawantahan pemikirannya yang ingin merangkul semua gerakan yang memperjuangkan hak kelompok masyarakat yang terpinggirkan seperti para difabel dan kelompok rentan lainnya. Ia mengumpulkan aktor-aktor sosial untuk bersama-sama menghapus stigma dan membantu kaum marginal menjadi mandiri dan berdaya dengan potensi diri mereka.

Berawal dari Kelompok Kerja

Ada sebuah peristiwa yang memantik Ken Kerta hingga akhirnya mendirikan LINKSOS. Pria yang sehari-hari gemar menggunakan udeng ini berkisah, suatu hari ia bertemu dengan seorang difabel yang unik. “Dia ini di rumahnya punya alat jahit, punya kompresor, dia mengaku bisa menjahit juga, tetapi pekerjaannya tukang parkir. Waktu saya tanya, kenapa kok tidak menjahit saja, jawabnya tidak punya modal. Ini yang salah kaprah. Banyak yang menyangka modal itu bentuknya hanya berupa uang. Padahal keahlian juga modal,” tegas Ken.

Sumber foto: Instagram @kenkerta
info gambar

Peristiwa itu menjadi pemantik terbentuknya LINKSOS. Ia pun membentuk kelompok kerja (pokja)—yang di kemudian hari bernama LINKSOS—untuk memfasilitasi difabel agar bisa mandiri dengan keahlian masing-masing. Ada yang ahli membuat telur asin, membuat keset, batik, dan lain-lain. Semua dikumpulkan agar bisa saling bekerja sama. Usaha ini pun berhasil merangkul banyak orang. Tetapi rupanya satu persatu anggota mengundurkan diri.

“Rata-rata yang mengundurkan diri itu yang berpikiran kalau LINKSOS tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Kebanyakan kan berharap dapat bantuan sosial secara berkesinambungan. Nah, di LINKSOS itu tidak ada,” urai Ken.

Tidak hanya itu, peraih penghargaan Australia Award 2019 ini juga sempat dituduh mengeksploitasi para difabel. “Sempat seperti itu tantangan yang saya hadapi. Akhirnya saya libatkan masyarakat sekitar, agar mereka tahu bagaimana sebenarnya kiprah LINKSOS.”

Berkah Pandemi

Saat pandemi melanda, anggota LINKSOS pun terdampak. Beberapa saat sempat vakum, tetapi akhirnya bisa bangkit kembali berkat adanya sinergi dengan sektor kesehatan. “Teman-teman membuat masker dan baju hazmat, malah akhirnya kebanjiran pesanan,” cerita Ken.

Waktu pandemi itulah, Ken menyediakan rumah pribadinya sebagai tempat workshop anggota LINKSOS. Ia mendirikan Omah Difabel, rumah bagi para penyandang disabilitas untuk menghasilkan karya, termasuk membatik. Batik yang dihasilkan berjenis batik ciprat. Yang membanggakan, batik-batik itu punya galeri khusus di Hotel Ibis.

Berangkat dari itulah, tahun depan Ken berencana mewujudkan rencana baru untuk perkembangan LINKSOS, yaitu mendirikan pusat bisnis untuk para anggotanya. “Tahun depan mereka tidak hanya pelatihan-pelatihan saja, tapi harus bisa produksi sesuatu dan menjualnya.”

Posyandu Disabilitas

Ada pencapaian besar lagi yang telah dirintis LINKSOS dan mulai berkembang, yaitu posyandu disabilitas. Sesuai namanya, posyandu tersebut diperuntukkan untuk penyandang disabilitas. Saat ini posyandu tersebut sudah beroperasi di Lawang dan Polehan, Kota Malang. “Semarang juga sudah mengadopsi posyandu ini. Di Sumatera juga. Hanya saja disana belum ada kepastian regulasi seperti di Malang. Kalau di Malang sudah sinergi lintas sektor dan ada MoU dengan pihak-pihak terkait.”

Ken berharap, posyandu ini selanjutnya tersedia di setiap desa atau kelurahan di seluruh Jawa Timur, “Syukur-syukur bisa tersedia di seluruh Indonesia,” pungkasnya. Semoga terwujud.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RF
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini