Keanekaragaman Budaya Kota Tua Padang

Keanekaragaman Budaya Kota Tua Padang
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Kota Padang merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki berbagai macam budaya dan wisata. Salah satu objek wisata yang juga kaya akan budaya adalah Kawasan Kota Tua. Pada zaman kolonial dulu, kawasan ini merupakan kawasan perdangan yang sangat ramai karena pada kawasan ini terdapat Pelabuhan Muara. Di Kawasan Kota Tua ini, kita bisa menikmati gedung-gedung arsitektur peninggal Kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Kawasan Kota Tua kini menjadi salah satu destinasi yang banyak peminat terutama oleh anak-anak milenial karena bangunan-bangunan tua telah banyak direnovasi untuk dijadikan spot nongkrong bagi anak muda. Walaupun telah banyak direnovasi, bangunan ini tidak meninggalkan kesan Eropa. Selain itu, kita juga dapat duduk santai sambil menikmati pemandangan sungai Batang Arau dan juga Bukit Gado-Gado. Jika kalian ini berfoto di kawasan ini akan menghasilkan foto yang menarik karena bangunan-banguan tua yang terdapat pada kawasan ini akan memberikan daya tarik sendiri, maka tak heran kawasan ini banyak dijadikan spot foto untuk para wisatawan maupun masyarakat sekitar.

Kota Tua Padang | Foto: Piaman Explore
info gambar

Kita juga dapat melihat keberagaman budaya yang dimiliki oleh masyarakat Kota Padang. Karena pada kawasan ini terdapat keragaman etnik mulai dari Tionghoa, India, Melayu, Minangkabau hingga Nias. Hal ini terlihat dari kemeriahan saat acara perayaan besar seperti Imlek atau cap Go Meh dan lainnya. Kita juga dapat menikmati pemandangan dari atas Jembatan Siti Nurbaya. Dari atas jembatan ini kita dapat menikmati keindahan Kota Tua. Jembatan ini merupakan salah satu ikon wisata yang sangat terkenal. Jembatan ini menghubungkan kawasan Kota Tua dengan Gunung yang dikenal dengan Gunung Padang. Di bawah jembatan Siti Nurbaya, juga terdapat salah satu peninggalan HindiaBelanda yaitu Museum Bank Indonesia yang dibangun pada tahun 1921 dan digunakan pertama kali sebagai kantor canagn De Javasche Bank yang kemudian diambil ahli oleh Bank Indonesia pada tahun 1953. Namun, gedung ini tidak dibuka untuk umum, tapi kita dapat berfoto di bagian luarnya saja.

Salah satu bangunan yang menjadi saksi keberagaman budaya di Kawasan Kota Tua adalah Kelenteng See Hin Kiong yang merupakan kelenteng pertama dan tertua di Kota Padang. Kelenteng ini didirikan pada tahun 1841. Wisatawan yang ingin berfoto dapat berfoto di bagian halaman saja. Jangan lupa berkunjung saat perayaan imlek ya, karena nuansa kelenteng ini menjadi sangat menarik dengan pernak-pernik khas Tiongkok. Selain itu, pada saat imlek terkadang juga terdapat berbagai atraksi khas Tionghoa seperti barongsai, atraksi naga dan lainnya.

Namun, dibalik keindahan dan keberagaman budaya yang terdapat di Kawasan Kota Tua ini, terdapat pemasalahan yang tidak terselesaikan yaitu sampah. Hal ini bukan masalah baru dan sudah terjadi sejak lama. Terlihat sungai Batang Arau yang menjadi salah satu ikon wisata dipenuhi oleh sampah yang mengapung di sepanjang sungai. Sampah ini berasal dari limbah rumah tangga terutama limbah plastik. Pencemaran akibat sampah terutama sampah plastik dapat merusak ekosistem dan membahayakan hewan-hewan di air.

Masalah pencemaran akibat pembuangan sampah ini perlu menjadi masalah utama yang harus diperhatikan. Hal ini disebabkan oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sumber air yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit dan tersumbatnya aliran air. Masyarakat sekitar harus memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah di area sungai Batang Arau ini. Kesadaran masyarakat dapat dilatih dengan cara mengadakan gotong royong pembersihan sampah disekitar sungai secara rutin. Karena sangat disayangkan jika sungai yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan akan keindahan pemandangannya harus tercemar oleh sampah.

Referensi:Kebudayaan Kemdikbud | Info Padang

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MG
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini