Kisah dari Batam, Miniatur Keberagaman Budaya dan Agama Indonesia

Kisah dari Batam, Miniatur Keberagaman Budaya dan Agama Indonesia
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Kota Batam merupakan salah satu kota terpadat di Provinsi Kepulauan Riau. Dirancang sebagai kota industri Batam menarik banyak pekerja yang datang dari luar batam. Seiring pekerja yang semakin ramai berdatangan, fasilitas dibangun dengan lebih baik. Kenyamanan dan keamanan tinggal di Batam mengundang lebih banyak lagi penduduk yang ingin mencari peruntungan dengan bekerja. Penduduk datang dari berbagai pulau di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan Maluku dan Papua. Pertemuan berbagai suku dan budaya dari berbagai daerah menciptakan keberagaman budaya di Batam.

Selama ini Batam lebih dikenal sebagai kota industri dan perdagangan. Lokasinya yang bertetangga dengan Singapura dan Malaysia membuat Batam sebagai pintu masuk perdagangan nasional. Batam bukanlah ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, namun tingkat pembangunan kota Batam relatif lebih cepat dan maju dibandingkan kota dan kabupaten lain di Kepulauan Riau. Hal ini tentunya untuk mendukung peran batam sebagai kota industri dan perdagangan agar memudahkan mobilisasi dan distribusi. Dibalik kemegahan yang dihadirkan di Batam, kehidupan sosial budaya penduduknya tidak kalah menarik untuk dibahas.

Daya tarik Batam sebagai kota industri mendorong orang-orang untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik dengan bekerja. Perantauan untuk bekerja akhirnya menyatukan penduduk dari berbagai daerah di Indonesia. Seiring berjalannya waktu janji-janji manis kehidupan hidup di Batam mengundang teman dan sanak saudara lainnya untuk turut merantau ke Batam.

Berbagai suku seperti Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau, Bugis, Sumbawa, Tionghoa, dan India kemudian melebur dalam masyarakat sosial yang heterogen. Banyak budaya dan agama yang berbeda saling bertemu lalu menciptakan keharmonisan yang unik. Misalnya saja dalam suatu perkampungan Bugis muslim dimana banyak terdapat masjid dan musholla, tetapi suku Batak di sekitarnya tetap dapat membangun gereja dan menjalankan ibadah dengan aman. Interaksi antar suku sudah biasa terjadi sejak masa kanak-kanak yang hidup dalam masyarakat yang beragam.

Masjid yang dibangun dengan arsitektur Cina
info gambar

Saya adalah seorang yang besar di Batam. Walaupun saya lahir di Pulau Jawa, namun sebagian besar kehidupan masa kecil saya dihabiskan di Batam. Saya juga sering menjumpai teman yang punya latar belakang mirip dengan saya. Lahir di Sumatera atau Jawa lalu saat usia masih belia dibawa orang tua untuk merantau ke Pulau Batam. Ada juga yang lahir di Batam namun kedua orang tuanya berasal dari daerah yang berbeda. Ayahnya asli orang Bandung, sementara ibunya berasal dari Sulawesi. Saya juga punya beberapa teman yang beretnis Cina dan India. Semua datang ke batam untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Semasa kecil saya tinggal dan bermain bersama teman-teman dengan beragam suku dan agama. Saat kecil kami belum paham dengan istilah toleransi antar suku dan agama. Kami bermain sebagaimana layaknya anak-anak pada umumnya. Suatu ketika teman kristiani saya menghampiri ke rumah dan mengajak saya bermain. Saat itu masuk waktu dhuhur dan saya belum melaksanakan solat. Ibu saya menyuruh untuk solat terlebih dahulu. Teman saya menunggu di samping sembari memandangi saya solat.

Di saat yang lain ketika saya bermain ke rumahnya, dia menunjukkan alkitab kepada saya. Kami kemudian saling bercerita tentang perayaan-perayaan besar di agama kami masing-masing. Bagaimana perayaan itu dilakukan hingga hidangan apa saja yang tersedia saat perayaan. Terkadang saat kami sedang bertengkar, tanpa sadar kami menyinggung tentang identitas kami masing-masing. Disaat seperti itu orang tua kami mengingatkan untuk tidak menyinggung atau menghina latar belakang suku atau agama orang lain. Begitulah kami belajar langsung makna toleransi saat tumbuh besar dalam keberagaman.

Cerita-cerita tentang saling mengenal budaya dan agama satu sama lain banyak terjadi di antara anak-anak batam. Disaat anak-anak tumbuh lalu mengamati lingkungan sekitar ada banyak begitu keunikan dalam keberagaman tersebut. Misalnya saat masjid suatu perkampungan yang banyak dihuni orang Jawa mengadakan perayaan hari besar islam seperti Maulid Nabi. Sudah menjadi kebiasaan penduduk membuat beragam menu masakan untuk memeriahkan acara tersebut.

Meskipun penyelenggara acara adalah orang Jawa, namun uniknya tersaji kombinasi menu masakan dari berbagai daerah di Indonesia. Di atas meja prasmanan para tamu undangan dapat memilih makanan Jawa, Minang, Melayu, hingga Sunda. Ibaratnya acara tersebut seperti festival kuliner nusantara yang kaya dan beragam. Nantinya kebutuhan pendukung acara semisal air minum dan sembako biasa dibeli di toko orang Cina. Lebih unik lagi saat bulan Ramadan tiba, terlebih waktu menjelang buka puasa. Orang-orang akan berburu takjil ke pasar terdekat. Para pedagang yang notabene banyak orang Cina menjajakan jajanan khas takjil semisal kolak, kue pasar, dan es buah. Orang-orang dengan beragam latar belakang berkumpul untuk saling menebarkan berkah.

Salah satu alasan mengapa Batam menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat adalah kestabilan sosial. Sangat jarang terjadi konflik besar antar suku atau agama di Batam. Pertumbuhan ekonomi sangat didukung salah satunya oleh terkendalinya faktor sosial. Masyarakat Batam yang kebanyakan adalah pendatang dari berbagai daerah berusaha menjaga ketertiban sosial agar tercapai kemakmuran bersama. Mungkin kita perlu mengenal dan merasakan perbedaan agar dapat menghargai perbedaan dengan lebih baik. Sangat disayangkan masih terdapat banyak konflik yang melibatkan faktor suku dan agama di Indonesia.

Sentimen anti terhadap suku atau ras tertentu nampaknya perlu diredakan dengan saling mengenal satu sama lain. Harapannya apa yang telah baik dibangun oleh masyarakat Batam tentang menghargai perbedaan dapat dijadikan pembelajaran bersama di daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Referensi:Pusbang BP Batam | JDIH Kota Batam

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini