Megahnya Istano Basa Pagaruyung, Pusat Kejayaan Minangkabau di Masa Lalu

Megahnya Istano Basa Pagaruyung, Pusat Kejayaan Minangkabau di Masa Lalu
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Petir yang menggelegar di tengah derasnya hujan menyambar gonjong istana dalam satu dentuman keras. Api melumat atap ijuk tanpa ampun. Dalam sekejap, nyalanya membesar sehingga membakar badan istana. Dinding kayu yang terukir indah hangus menjadi abu. Kerugian ditaksir mencapai 15 miliar pada kebakaran malam itu.

Itu hanyalah satu peristiwa yang dialami Istano Basa Paguruyung di Tanah Datar yang usianya hampir setengah abad. Secara historis, simbol kebesaran Minangkabau di masa lalu itu telah berumur tujuh abad. Namun, bangunan aslinya pada abad ke-13 terletak di tempat berbeda dengan bangunan masa kini yang dibangun pada 1976.

Saya memasuki pelataran istana yang luas dan ditumbuhi pohon palem dan beringin. Area berjalan kaki dialasi bebatuan alam yang tersusun rapi. Saya menaiki anak tangga yang berjumlah ganjil. Marawa, bendera tiga warna khas Minangkabau, berkibar-kibar dari kejauhan. Saya menatap rangkiang, lumbung padi khas Minangkabau untuk menyimpan hasil panen, yang terletak di kanan istana.

Dok. pribadi
info gambar

Seperti rumah gadang lainnya, badan Istano Pagaruyung seperti lambung kapal dan atapnya seperti tanduk kerbau. Desainnya dibuat untuk bisa bertahan menghadapi iklim dan alam Minangkabau yang panas, bercurah hujan tinggi, sering digoncang gempa, serta berpotensi disambangi binatang buas pada masa lampau. Bagi masyarakat Minangkabau, rumah gadang merupakan tempat pelaksanaan adat. Oleh karena itu, pembangunannya harus melalui mufakat kaum, disetujui penghulu nagari, dan dibiayai suku.

Yang membedakan Istano Pagaruyung dari rumah gadang lainnya adalah ukiran di dindingnya yang mencerminkan falsafah alam budaya Minangkabau. Ukiran dipahat dalam 60 motif bertema alam seperti akar, bunga, dan simbol hewan. Pembeda lainnya adalah anjungan lantai dalam istana pada sisi kiri dan kanan. Pada masa kejayaannya, istana mengikuti pola rumah gadang Koto Piliang yang bersistem pemerintahan aristokrat sehingga posisi duduk seseorang menentukan status sosialnya di masyarakat.

Rasa kagum menghinggapi saya saat menapakkan kaki ke dalam istana. Tonggak-tonggak besar tinggi menjulang, sampai-sampai untuk melihat ujungnya harus dengan cara menengadah. Langit-langitnya tinggi sehingga sirkulasi udara lancar dan ruangan terasa sejuk meskipun di luar terik. Delapan jendela yang ukurannya lebar-lebar turut menyumbang cahaya dan angin segar ke dalam istana. Kayu meranti dan surian yang digunakan terlihat mewah dalam warna cokelat yang membumi.

Dok. pribadi
info gambar

Lantai satu istana menjadi tempat kegiatan pemerintahan, termasuk untuk menerima tamu dan mengadakan pertemuan. Singgasana raja terletak di tengah. Di ujung kanan kiri ada kamar. Yang paling besar dan bertirai hitam elegan adalah kamar raja dan ratu. Kamar itu berbeda dari kamar lain karena berlanggam. Tingkatan pertama untuk menerima tamu, kedua untuk meditasi raja, dan ketiga untuk tempat tidur raja. Hal khusus lainnya untuk kamar raja adalah tirai kelambu yang terdiri dari kain tujuh warna.

Dok. pribadi
info gambar
Dok. pribadi
info gambar

Di belakang singgasana, ada tujuh kamar yang diperuntukkan bagi putri raja yang sudah menikah. Di depan setiap kamar diletakkan dulang dari kuningan (carano) untuk tempat makan bajamba (bersama) keluarga raja. Pintu kamar dihias dengan kelambu yang menjuntai dalam warna-warni merah, kuning, dan emas. Ornamen tradisional juga terlihat pada langit-langit, lampu gantung, serta kusen pintu dan jendela. Suasana semarak bercampur kemewahan bersatu padu menciptakan nuansa elegan khas Istana Pagaruyung.

Dok. pribadi
info gambar
Dok. pribadi
info gambar

Sebagai pusat kerajaan, Istano Pagaruyung telah melalui perjalanan panjang dan dua fase keagamaan, yaitu Budha dan Islam. Peralihan agama kerajaan terjadi pada awal abad ke-14 dengan masuk islamnya seorang raja.

Kerajaan Minangkabau dipimpin oleh raja yang bergelar Rajo Alam atau Raja Diraja Kerajaan Minangkabau. Kepemimpinannya dikenal dengan Tungku Tigo Sajarangan karena melibatkan tiga elemen masyarakat, yaitu niniak mamak (penghulu), alim ulama, dan cadiak pandai (cerdik pandai). Istana raja dipimpin oleh raja kecil yang disebut Maharaja, sedangkan wilayah-wilayah luhak dipimpin oleh penghulu.

Dok. pribadi
info gambar

Lantai satu sudah hampir habis saya kelilingi saat aroma wangi tiba-tiba tercium. Rupanya bagian yang saya lewati itu adalah tempat pembuatan minyak kayu masoi. Dari spanduk yang saya baca di dapur, minyak itu terbuat dari kulit kayu masohi dan hanya diproduksi khusus di Pagaruyung. Karena sifatnya yang panas, minyak masoi dapat digunakan untuk meredakan bagian tubuh yang pegal atau sakit, terutama bagian punggung, pinggang, tengkuk, dan betis. Produk ini bisa dijadikan sebagai cenderamata dari Istana Pagaruyung.

Dok. pribadi
info gambar

Meskipun dibangun baru sebagai ganti bangunan lama istana yang dibakar Belanda pada Perang Paderi tahun 1804, spesifikasi dan filosofinya dibuat sama. Istana terdiri dari tiga lantai dan disangga oleh 72 tonggak besar. Gonjong yang runcing bak tanduk kerbau berjumlah 11 buah. Beberapa bagian rangka istana sudah diperbarui dengan baja ringan dan dindingnya diperkuat dengan beton, namun atapnya tetap dilapisi ijuk untuk mempertahankan filosofinya yang dekat dengan alam.

Saya menaiki tangga kayu penuh ukiran menuju lantai dua. Warna cokelatnya yang elegan membuat saya bersemangat menaikinya dan lupa bahwa saya sedang memakai stoking yang cukup licin. Pengunjung memang harus melepas sepatu untuk dapat memasuki area dalam istana. Tiba-tiba saya terpeleset, lalu menggelinding jatuh sebanyak beberapa anak tangga. Allahuakbar. Saya meringis sambil cepat-cepat berdiri. Untung tak ada yang melihat. Saran saya, sebaiknya bertelanjang kaki saja agar pijakan lebih kesat dan kuat.

Caption
info gambar

Di lantai dua istana, terdapat kamar raja. Selain itu, ada pula ruangan bernama Anjungan Paranginan, yang merupakan areal yang diperuntukkan bagi putri raja yang belum menikah. Dari jendela-jendela di lantai dua dapat terlihat perbukitan yang mengelilingi istana. Tampak jelas betapa Istano Basa Pagaruyung sangat dekat dengan alam. Titik jendela di lantai dua juga bisa digunakan untuk memantau musuh.

Caption
info gambar

Lantai tiga istana disebut ruangan Mahligai. Fungsinya untuk tempat menyimpan alat-alat kebesaran raja. Mahkota kerajaan biasanya disimpan dalam peti berukir khusus bernama Aluang Bunian. Koleksi senjata pustaka kerajaan juga disimpan di lantai ini, seperti tombak, pedang, dan senapan peninggalan Belanda.

Caption
info gambar

Sesuai namanya yang berarti istana besar (basa = besar), Kompleks Pagaruyung tak hanya berupa satu bangunan, tapi memiliki beberapa bangunan tambahan dengan berbagai fungsi. Bebetapa di antaranya adalah surau, tabuah, larangan, rangkiang patah sambilan, tanjung mamutuih, dan pincuran tujuh. Ada juga taman, balairung, serta tabek atau kolam ikan.

Setelah puas berkeliling, saya menyempatkan diri untuk duduk menyaksikan asrinya pemandangan di sekeliling istana. Saya berkhayal menjadi putri kerajaan Minangkabau yang sedang melamun memikirkan masa depannya. Istano Basa Pagaruyung akan terpatri di dalam ingatan saya sebagai symbol sejarah yang indah, megah, dan penuh kharisma.

Caption
info gambar
Caption
info gambar

Referensi:

Palang resmi di sekeliling istana | Kompas |Hariane

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ME
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini