Mengenal Flora dan Fauna di Tanah Borneo, Khususnya Kawasan Taman Nasional Kutai

Mengenal Flora dan Fauna di Tanah Borneo, Khususnya Kawasan Taman Nasional Kutai
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Terdapat suatu taman nasional di Kalimantan Timur, yang berada di kabupaten Kutai Timur, lebih tepatnya di Kota Bontang. Taman tersebut adalah Taman Nasional Kutai (TNK) yang didirikan pada tahun 1995 dan memiliki luas 198.629 hektar. Taman Nasional Kutai didirikan dengan tujuan sebagai Kawasan untuk melestarikan alam yang memiliki ekosistem asli, kemudian dikelola oleh pemerintah dan dimanfaatkan sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, dan dapat digunakan sebagai tempat rekreasi atau pariwisata.

Pada 2005 TNK memperoleh hasil pengolahan citra radar, bahwa TNK memiliki 92% memiliki topografi datar yang tersebar hampir di seluruh wilayah, dan 8% topografi bergelombang hingga berbukit – bukit tersebar pada bagian tengah yang berada di arah utara. Selain itu, bagian timur dan barat taman memiliki ketinggian 0 – 100 m dpl (61%) dan bagian tengah memiliki ketinggian 100 – 250 m dlp (39%).

Taman Nasional Kutai memiliki jenis flora dan fauna yang beraneka ragam. Flora yang terdapat di TNK, mulai dari yang mudah sampai sulit untuk ditemukan. Seperti pohon bakau, cemara, tancang, simpur, benuang, kapur, jenis anggrek, meranti, ulin, dan bunga rafflesia. Dalam pelestariannya pohon ulin atau kayu besi menjadi suatu hal yang menarik karena menjadi tumbuhan khas Kalimantan yang memiliki ketinggian mencapai 30–35 meter dan pohon ini mempunyai umur yang Panjang dibandingkan pohon lainnya, serta kayu ulin ini sangat terkenal akan kuat untuk menopang apapun, sehingga masyarakat Kutai Timur tidak jarang menggunakan kayu ulin sebagai konstruksi bagungan. Selain itu, terdapat pohon meranti yang kegunaan dan kualitasnya tidak jauh dari pohon ulin. Akan tetapi, keberadaan pohon ulin dan meranti semakin menurun dan dikhawatirkan akan langka, sehingga sulit untuk ditemukan.

Jenis fauna yang ada di Taman Nasional Kutai ini, sangat beragam dan sudah hampir punah karena jumlahnya semakin sedikit di alam bebas. Seperti orangutan, bekantan, beruk, kera ekor panjang, dan kukang. Jenis orangutan yang dikembangkan di TNK ini, adalah Pongo Pygmaeusmorio yang hanya hidup di bagian timur Pulau Kalimantan. Terdapat juga berbagai hewan lainnya yaitu banteng, rusa sambar, kijang, kanci, beruang madu, trengggiling, dan macan dahan.

Orangutan Pongo Pygmaeusmorio©HeribertusSuciadi
info gambar

Taman Nasional Kutai ini, sering menjadi destinasi wisata para pelajar untuk mempelajari secara langsung bentuk dari flora dan fauna yang ada. Tidak hanya pelajar saja yang datang, akan tetapi banyak ilmuwan yang meneliti berbagai jenis flora dan fauna yang berasal dari Kalimantan. Seperti orangutan yang jumlahnya semakin berkurang,dan para ilmuwan tersebut bekerja sama dengan pihak TNK atau pemerintah setempat, agar hewan yang menjadi etnik dari Kalimantan akan tidak musnah. Kemudian, kondisi alam TNK sangat mendukung untuk melakukan outbound ketika pelajar mengunjungi TNK. Dalam outbound tersebut, bukan sekedar bermain saja tetapi peserta outbound wajib menjawab pertanyaan mengenai flora dan fauna yang telah diamati di tiap post. Pada saat outbound pun menjadi seru, karena tantangan yang harus dilewati langsung berasal dari alam, sehingga membutuhkan usaha yang lebih. Selain itu, tidak sedikit pengunjung yang mengeluhkan mengenai banyaknya nyamuk yang mengakibatkan sedikit terganggunya aktivitas pada saat mengunjungi TNK. Dengan demikian, seharusnya pihak pengelola dan pemerintah seharusnya mendukung tempat wisata seperti TNK karena bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi bisa menjadi acuan untuk penelitian.

Sebagai manusia kita harus menjaga dan melestarikan alam, termasuk flora dan fauna. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan cara tidak merusak dan mendukung upaya pelestarian lingkungan. Kesadaran setiap manusia juga sangat diperlukan untuk menjaga SDA yang telah diberikan oleh Tuhan, sehingga kedepannya semakin berkurang kerusakan alam yang diakibatkan oleh manusia.

Referensi:KSDAE Menteri LHK | Rimba Kita

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

OK
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini